Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
60. Identitas Habib


__ADS_3

"Apa kamu tidak ingin kehilangan dia?" tanya Sintia kepada Fian.


Mendengar apa yang di katakan oleh Sintia, Foam terlihat sangat terkejut. Dia melihat ke arah Sintia dengan tatapan mata yang serius.


"Entahlah, aku tidak tahu. Aku tidak begitu mengenal dirinya, tapi ... Tapi aku merasa aku dan Habib memiliki hubungan. Tapi entah ... Entah hubungan apa ini?" jawab Fian dengan bingung dengan sesekali melihat ke arah teman temannya.


"Gue ngerti kok perasaan kamu," sahut Amar lalu dia mengelus elus bahu Fian dengan lembut dan baik.


Hari pun semakin malam, merasa sangat kasihan dengan Habib yang kedinginan. Akhirnya Fian pun memutuskan untuk dirinya mengajak pulang Habib dan meninggalkan acara. Mengetahui hal itu teman temannya sempat kecewa dengan Fian, namun teman temannya mengetahui kalau Fian memiliki anak yang harus di jaganya.


Di rumah Fian, Sarah berdiri di depan gerbang rumahnya. Dia melihat ke sana kemari, namun dia tidak bisa menemukan Huda dan laki laki yang merawat anaknya. Di waktu yang bersamaan, Fian tiba dengan mobilnya. Menyadari ada seorang wanita yang berdiri di depan rumahnya, Fian membunyikan klakson hingga membuat Sarah sangat terkejut dan bergegas membalikkan badannya melihat ke arah mobil Fian.


Saat itu lampu mobil menyorot ke arah Sarah, menyadari hal itu Sarah tidak bisa melihat namun dia menyadari kalau mobil itu adalah mobil si laki laki yang merawat anaknya. Di sisi lain, Fian terlihat sangat terkejut karena dia melihat wanita yang membuang Habib berada di depan rumahnya. Melihat hal itu, Fian bergegas turun dari mobilnya namum di waktu yang bersamaan Sarah melarikan diri dan pergi.


Waktu itu Fian ingin mengejar Sarah namun ketika dia baru beberapa langkah mengejar Sarah, Huda yang masih di dalam mobil dia menangis dengan sangat kencang hingga membuat Fian berputar balik dan membawa Huda masuk ke dalam rumah.


"Cup... cup ... cup.... Anak Papa Fian yang paling ganteng tidak boleh nangis, tidak boleh sedih," ucap Fian dengan memberikan susu kepada Habib yang di gendongnya.


Setelah menerima susu dari Fian, Habib terdiam. Melihat hal itu, Fian berpikir sejenak. Dia memikirkan wanita yang datang ke rumahnya dengan berusaha untuk kembali menidurkan Habib.


Saat itu dia masih di dapur dengan melamun. Beberapa saat kemudian, ibunya datang dan memegangi salah satu bahu Fian dengan lembut hingga membuat Fian sedikit terkejut.


"Ada apa Fian?" tanya Ibu Fian.


"Mama, tidak ada papa Mah. Oh iya, Mama belum tidur?" jawab Fian dengan nada rendah.

__ADS_1


"Sebenarnya Mama sudah tidur, tapi Mama terbangun mendengar Habib menangis!" ujar Ibu Fian. Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Fian sangat menyesal atas apa yang sudah di lakukan oleh dirinya.


Mendengar Fian menyalahkan dirinya sendiri, ibu Fian hanya diam selama beberapa saat dengan memandang ke arah Habib.


"Mama, Fian minta maaf. Gara gara Fian Mama terbangun dari tidur Mama!" ucap Fian.


"Tidak papa Fian, kamu tidak perlu minta maaf. Mama mengerti," jawab Ibu Fian. Setelah melakukan hal itu Ibu Fian hanya diam. Dia meminta untuk Fian pergi ke kamarnya dan menidurkan Huda.


Keesokan harinya Sintia, terlihat mengendarai mobilnya dengan perlahan menunju ke rumah salah satu temannya. Namun saat di pertengahan jalan, dia melihat sebuah brosur yang memperlihatkan foto Habib dan tertulis kalimat "Anak Di Cari!" melihat hal itu, Sintia turun dari mobilnya dan menghampiri foto itu untuk memastikan benar atau tidaknya foto itu adalah foto Habib.


Ketika dia sudah berada di hadapan brosur itu, dia sangat terkejut karena anak yang di cari adalah Habib, melihat hal itu Sintia benar benar sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Astaga, jadi anak itu namanya Huda. Dan ... Dan, dia adalah anak dari Tasya dan Zaka, astaga!" ucap Sintia dengan tidak percaya karena Tasya tega membuang anaknya sendiri di rumah Fian.


setalah mengatakan hal itu, Sintia mengingat masa lalunya di mana di saat itu Sintia dan Tasya adalah musuh bebuyutan. Saat itu mereka saling bertanding untuk merebut hati dari Ilyas namun Ilyas justru menikah dengan orang lain. Sejak hari itu Tasya dan Sintia tidak pernah bertemu lagi, bahkan mereka juga sudah saling memblokir nomor dan akun media sosial juga.


"Ada apa Sintia?" tanya Fian kepada Sintia.


"Aku tahu dia siapa, aku tahu identitas Habib yang sebenarnya!" jawab Sintia dengan serius.


Mendengar apa yang di ucapkan oleh Sintia, Fian terlihat sangat terkejut. Dia benar benar tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Sintia.


"Kamu jangan bohong Sintia, " ucap Fian tidak percaya.


"Oke aku akan ke rumah kamu, aku akan tunjukkan bukti yang aku punya ke kamu," jawab Sintia. Setalah mengatakan hal itu, dia pergi ke rumah Fian. Tak berselang lama, dia sampai di rumah Fian, dia bergegas masuk ke dalam rumah dan menemui Fian.

__ADS_1


Saat itu Sintia berada di ruangan tamu dengan duduk di sofa menunggu kedatangan Fian. Beberapa saat kemudian, Fian datang dengan menggendong Huda yang saat itu menangis, menyadari kalau Fian akan melakukan perbincangan penting dengan Sintia. Ibu Fian pun mengambil alih Huda dan meminta Fian untuk fokus berbicara dengan Sintia.


"Ada apa ?" tanya Fian.


"Seperti apa yang aku ceritakan tadi. Kamu punya foto Habib ketika pertama kali dia di taruh ibunya di depan rumah kamu?" jawab Sintia dengan mengeluarkan sebuah foto di ponselnya. Dia memberikan foto itu keoada Fian, melihat hal itu Fian sangat terkejut karena dia memang melihat foto dan wajah Habib dengan nama Huda dan sedang di cari.


"Dia itu Huda, dan ibunya adalah Tasya!" Ucap Sintia melanjutkan ucapannya yang sebelumnya.


"Bagaimana kamu tahu tantang ibu Dafi Habib?" jawab Fian.


Mendengar apa yang di katakan oleh Fian, Sintia menunjukkan foto lain. Dia menunjukkan foto ketika di masa SMA-nya bersama dengan Tasya yang di hukum bersama. Dia menjelaskan kepada Fian, siapa Tasya dan apa hubungannya dengan Tasya.


Setelah menjelaskan panjang lebar kepada Fian, Sintia menyakinkan Fian untuk mengembalikan Habib kepada Tasya. Namun saat itu Fian tampak tidak bisa dan ingin mempertahankan Habib di rumahnya.


"Fian, aku mohon dengan kamu tolong kamu kembalikan Habib kepada Tasya. Apa kamu tidak kasihan dengan Habib, dia pasti juga merindukan ibunya?" ucap Sintia dengan baik sambil mencoba meyakinkan Fian.


Mendengar hal itu Fian langsung bangun dari duduknya. Dia terlihat sangat marah kepada Sintia.


"Tidak! Aku tidak akan mungkin bisa jauh dari Habib, kalau pun memang Habib rindu dengan ibunya. Aku bisa menjadi ibu dan ayahnya, aku tidak mau kalau Habib berpisah dengan aku," ucap Fian dengan nada lantang kepada Sintia.


Sintia yang melihat kemarahan Fian yang sangat luar biasa, dia hanya diam dan bangun dari tidurnya dengan perlahan. Dia benar benar sangat heran dengan sikap Fian yang sangat berubah setalah ada Habib.


"Kenapa kamu bisa sangat berbeda Fian? Aku benar benar tidak menyangka, demi keegoisan kamu, kamu bisa ingin memisahkan anak dan ibunya!. Kamu benar benar tega, " Jawab Sintia dengan benar benar kecewa kepada Fian.


"Aku tidak peduli, sekarang kamu pergi. Dan jangan pernah kamu ke sini, jika kamu terus terusan memaksa aku," Ucap Fian dengan nada tegas.

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh Fian Sintia pun pergi dari rumah Fian dengan sangat sedih.


__ADS_2