
Makan siang pun tiba, walaupun ada sebuah kecurigaan di dalam hatinya, Tasya tidak lupa tanggung jawabnya menjadi seorang istri.
Di kala itu, dia tengah menyiapkan makan siang untuk Zaka yang akan di antaranya ke kantor Zaka. Setalah melakukan persiapan yang cukup lama, akhirnya Tasya pun pergi dari kamarnya dan mengambil sebuah tempat makan yang akan di bawakan kepada Zaka.
"Tasya, kamu ingin mengantar makan siang untuk Zaka?" tanya Ibu Zaka.
"Iya Mama, dan Mama mau kemana?" jawab Tasya ketika dia melihat ibu mertuanya sudah berdandan rapi.
"Mama ingin arisan dengan teman teman Mama."
"Ya sudah, Mama sama aku saja," jawab Tasya.
Akhirnya Ibu Zaka dan Tasya pun pergi dari rumah dan meninggalkan rumah. Di sepanjang perjalanan, Tasya terlihat hanya melamun dengan sedih. Dia terus memikirkan suaminya yang seolah berubah sikap.
"Kamu kepikiran tentang Zaka ya?" tanya Ibu Zaka.
"Tidak Mama, " jawab Tasya untuk menutupi apa yang di pikirkan nya, namun karena Ibu Zaka yang mengetahui sikap Tasya. Dia mengatakan kepada Tasya kalau dia tahu, pikirannya masih memikirkan Zaka yang berubah sikap.
Mendengar kalau ibunya sadar Tasya masih memikirkan Zaka, dengan perlahan dia menyandarkan kepala ke arah salah atau bahu Zaka. Dia tampak semakin sedih dengan apa yang di ucap oleh ibunya.
"Entahlah Mama, kenapa aku merasa seperti ini sekarang? " ucap Tasya dengan sedih dan sesekali meneteskan air mata.
Mendengar jawaban dari Tasya, ibu mertuanya hanya diam. Dia membelai Tasya perlahan dan berusaha untuk menenangkan Tasya.
Di rumah Sarah, terdengar ketukan pintu dan suara seorang laki laki memanggil manggil nama Sarah. Sarah yang saat itu masih di atas tempat tidur dengan Zaka dan masih tidak berpakaian, akhirnya dia mencoba untuk meraih baju tidur yang di saat itu tergeletak di lantai.
Ketika dia sudah berhasil meraih dan memakinya, dia mencium pipi Zaka yang masih tidur dalam keadaan setengah tubuhnya tertutupi selimut.
Sarah yang mendengar tamu di luar terus mengetuk pintu, dia berusaha untuk bergegas membuka pintunya. Ketika pintu sudah terbuka, dia tampak sangat terkejut karena orang yang mengetuk pintu adalah Dokter Afridi.
__ADS_1
"Kakak!" panggil Sarah kepada Dokter Afridi yang ternyata ada hubungan darah antara Dokter Afridi dan Sarah.
"Mobil siapa di luar Sarah?" tanya Dokter Afridi dengan raut muka yang tampak sangat curiga, di tambah dengan tampilan Sarah yang begitu seksi.
"Itu bukan mobil siapa siapa Kak, itu mobil baru ku!" jawab Sarah dengan sedikit gugup.
Di waktu yang bersamaan, Zaka yang di saat itu tidak memakai pakaian dia membungkuskan selimut kamar Sarah ke tubuhnya. Setalah itu dengan tubuh yang telanjang dada dia keluar dari kamar Sarah untuk mencari Sarah. Namun, saat ia keluar dia sangat terkejut karena dia melihat orang lain sedang berbincang dengan Sarah.
Melihat ada laki laki yang telanjang dada di rumah Sarah, Dokter Afridi pun juga terkejut. Dia tidak percaya kalau adiknya melakukan hal itu, Dokter Afridi pun langsung menghampiri Zaka.
Menyadari kemarahan kakaknya Sarah pun juga mengikuti kakaknya dan dia mencoba menjelaskan kepada kakaknya apa yang terjadi.
Namun saat itu terlambat, dia memukul habis habisan Zaka hingga babak belur. Dia tidak percaya kalau adiknya di nodai oleh Zaka.
Ketika Zaka sudah jatuh di lantai dengan wajah yang memar, Sarah menyebutkan kalau Zaka ada pacarnya dan dia akan menikah dengan Zaka.
Waktu berlalu begitu cepat, terlihat Zaka dan Sarah duduk bersampingan di ruangan tamu. Saat itu mereka berdua sudah memakai pakaian mereka masing masing.
"Kamu janji akan menikahi adikku Zaka?" tanya Dokter Afridi tanpa mengetahui bahwa Zaka sudah beristri.
Mendengar ucapan itu Zaka masih terdiam, dia yang saat itu tengah mengompres luka Zaka, akhirnya menjawab kalau Zaka siap untuk menikah dengan dirinya. Hal itu di lakukan oleh Sarah agar membuat kakaknya tenang dan tidak marah.
Di sisi lain, Tasya baru saja sampai di kantor Zaka. Dia pergi ke kantor Zaka, namun ketika dia berjalan menghampiri rungan Zaka, seorang wanita yang berpenampilan rapi menghampiri Tasya dan memberi tahu Tasya bahwasanya Zaka tidak berada di kantor sejak pagi.
Mendengar ucapan itu, Tasya tidak percaya. Dia benar benar terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh wanita itu.
"Tidak Mbak, tadi Mas Zaka pergi ke kantor kok." Ucap Tasya tidak percaya kalau Zaka tidak berada di kantornya.
"Bu, saya sungguh sungguh. Pak Zaka memang tidak ada di kantor sejak pagi," jawab wanita itu dengan tegas. Melihat hal itu, Tasya pun pergi keluar dari kantor Zaka dan menuju mobilnya.
__ADS_1
Dia berjalan ke mobil dengan begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya, dari dimana Zaka, sedang bersama siapa atau hal hal yang lainnya.
Ketika dia berada di dalam mobil, Tasya menghubungi Zaka namun dia tidak mengangkat panggilan dari Tasya. Saat itu dia terus menerus menghubungi Zaka, namun Zaka masih tidak menjawab panggilannya.
Setalah beberapa kali menghubungi suaminya, namun tidak di angkat Tasya berpikir sejenak. Tiba tiba air matanya menetes membasahi pipinya. Namun, tiba tiba dia menggantikan tangisannya dan menghapus air matanya. Dia keluar dari mobil dan menghampiri wanita itu.
Ketika di dekat wanita itu, Tasya memegangi kedua tangan wanita itu.
"Mbak, apa Sarah masuk kerja hari ini?" tanya Tasya kepada wanita itu.
"Sepertinya tidak Bu, tapi sebentar saya akan periksakan ke ruangannya." Jawab wanita itu lalu pergi, tak berselang lama dia kembali dan memberi tahu Tasya kalau Sarah juga tidak ada di kantor.
Mendengar ucapan itu, Tasya semakin berpikiran negatif dengan suaminya. Dia hanya dapat menangis sedih di hadapan wanita itu, setalah itu dia pergi ke mobilnya dan meminta supir mengantarkannya pulang ke rumah dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Di rumah Sarah, Zaka tampak akan pulang. Dia di antarkan oleh Sarah hingga ke depan pintu rumah. Ketika berada di depan pintu perdebatan antara Sarah dengan Zaka terjadi, hal itu terjadi karena pengakuan Sarah yang akan menikah dengan Zaka segera.
"Kamu apa apaan sih? Kenapa kamu bilang ke kakak kamu kalau kita akan menikah? Kamu tahukan kalau aku sedang terikat dengan pernikahan, mana mungkin aku menikahi kamu," ucap Zaka dengan kesal dan marah.
"Oh, jadi kamu tidak ingin menikahi aku, iya. Maksud kamu, kamu hanya ingin menikmati tubuhku tanpa bertanggung Jawab, gitu?" jawab Sarah dengan berbalik kesal kepada Zaka.
"Bukan seperti itu, kenapa kamu tidak mengerti? Aku akan menikahi kamu tapi bagaimana jika Kakak kamu tahu kalau aku sudah menikah? Bagaimana jika Kakak kamu tahu kalau kamu adalah simpanan suami orang? Pikirkan hal ini," jawab Zaka lalu dia memegangi kedua lengan Sarah. "Aku janji akan menikahi kamu, tapi setalah aku berpisah!."
"Ada apa Sarah? Kenapa Kakak mendengar kata perpisahan?" Tanya Dokter Afridi ketika dia duduk diruang tamu.
"Bukan kok Kak, Zaka hanya tidak ingin berpisah dari aku. Tapi dia kan harus pergi!" jawab Sarah dengan berusaha untuk bersiap normal.
Mendengar ucapan itu, Zaka pun terlihat menggelengkan kepalanya. Dia terlihat kesal dengan Sarah, dia pergi dari rumah Sarah tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Melihat hal itu, sesekali Sarah memanggil Zaka dengan lirih untuk membuat Zaka tidak marah dengan dirinya.
__ADS_1