Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
11. Pembelaan


__ADS_3

Suasana yang saat itu menegang, kini mulai mereda. Terlihat laki laki yang tak lain adalah ayah dari Vira berjalan mendekati Natasya yang berdiri dengan keadaan yang masih menangkan diri.


"Maafkan sikap istri saya, " ucapnya dengan menundukkan kepala.


Mendengar hal itu, ku lihat laki laki yang berdiri di dekat ku tersebut. Mataku tiba tiba berkaca kaca, ku tatap tajam laki laki itu dengan berusaha menguatkan diriku.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa saya memaafkan sikap istri kamu? Apa kamu tidak pikirkan, sikap istri kamu tidak bisa di maklumi ... Apa kamu tidak memikirkan keadaan Vira jika hal ini terus berlanjut?" Ucapku dengan tegas dan mata yang menatap tajam laki laki itu.


Saat itu, Vira hanya terlihat sedih. Dia menatap Natasya dengan mata yang di penuhi oleh air mata. Dia sangat kagum dengan Natasya, karena dia tidak pernah mendapatkan pembelaan dari ibunya sendiri seperti Natasya membela dirinya.


"Aku tahu, jika hal ini terus berlanjut dampaknya akan buruk bagi Vira." Laki laki itu menjawab ku dengan lirih tanpa berani menatap diriku.


"Jika kamu tahu, kenapa kamu tidak menghentikan istri kamu? Kenapa kamu membiarkan istri kamu menyakiti Vira, apalagi dia menyakiti Vira di depan mata kamu. Kenapa?" Ucapku dengan nada tinggi.


Melihat hal itu, Vira mendekati ku. Dengan perlahan anak itu memegangi tangan ku untuk menenangkan diriku yang terus mengomel di hadapan ayahnya.


"Tante," panggil anak itu dengan lirih. Ketika aku mendengar suara anak itu, aku langsung terdiam. Ku tenang kan diriku yang terus mengomel. Setelah itu aku berbalik melihat ke arah anak itu dan ku duduk bertekuk lutut di hadapan Vira.


Ku pandang wajah manis anak itu dan ku belai lembut kedua pipi anak itu.


"Ada apa Vira?" Tanyaku kepada Vira yang saat itu tengah menangis.

__ADS_1


Setelah aku bertanya kepada Vira, secara tiba tiba Vira melipat kedua tangannya di depan dada. Air matanya terus mengalir membasahi pipi Vira. Saat aku melihat hal itu, aku terdiam. Aku benar benar terkejut karena Vira tidak suka dengan sikap ku. Bukannya dia tidak suka, dia hanya merasa apa yang ku lakukan tidak seharusnya di lakukan oleh Tasya.


Saat itu ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan memohon kepada ku agar diriku tidak datang lagi menemui dirinya lagi. Dia juga meminta agar diriku tidak ikut campur dengan apa yang aku lakukan.


Mendengar hal itu, Natasya yang saat itu memegangi pipi Vira dengan perlahan dia melepaskan pipi Vira. Saat itu Vira semakin sedih atas apa yang di ucapkan oleh Vira, namun ia menyadari apa yang di katakan Vira benar. Dia bukanlah siapa siapa di hidup Vira.


"Maafkan Tante, Vira. Tante hanya ingin membela kamu, Tante hanya tidak mau kalau kamu menerima perlakuan buruk dari keluarga kamu."


"Terimakasih Tante sudah baik dengan Vira, tapi Vira mohon. Tolong Tante jangan temui Vira lagi," jawab Vira dengan sedih.


Aku yang mendengar ucapan itu, aku tidak bisa berkata kata. Mulutku seakan ingin berbicara, namun tidak satu katapun yang keluar dari mulutku. Dada ku serasa sangat sesak, hatiku terasa menerima sebuah tusukan yang sangat menyakitkan.


"Maafkan Tante ya. Tante membuat hidup kamu semakin sulit. Tapi ... Tujuan Tante tidak untuk melakukan hal itu, tujuan Tante ingin membantu kamu," jawabku dengan air mata yang terus berderai membasahi pipiku.


Mendengar ucapan itu, ku hela nafas besar. Setelah itu ke pegang kedua lengan Vira dengan mata yang terus di penuhi air mata.


"Ya sudah. Kalau memang ini yang kamu inginkan, Tante akan pergi. Tapi kamu harus janji dengan Tante, kamu harus jaga diri kamu baik baik," ucap ku dengan baik kepada Vira. Vira yang mendengar ucapan ku membalas anggukan kepala dan dengan wajah yang masih menahan kesedihan dia berusaha untuk tersenyum kepada ku.


Aku yang melihat hal itu, kembali ku gerakan tangan ku ke pipi Vira dan ku belai lembut wajah anak itu. Ketika ku membelai pipi anak itu, Vira memejamkan matanya selama beberapa saat. Setelah itu aku mencium kening Vira dengan penuh kasih sayang.


Setalah aku mencium kening Vira, aku bangun dari dudukku dan ku berdiri di hadapan Vira.

__ADS_1


"Kamu jaga diri kamu baik baik ya." Ucapku kepada Vira. Setalah itu aku pergi dari rumah Vira dengan raut muka yang sedih. Ketika aku pergi, dengan perlahan Vira mendekati ayahnya. Saat itu terlihat Vira sangat sedih melihat Tasya pergi. Dia seolah berharap kalau Natasya akan membawa dirinya untuk pergi bersamanya, namun ia tidak bisa mengatakan hal itu.


Ketika aku sudah pergi, ayah dari Vira yang saat itu berdiri di dekat Vira. Tiba tiba duduk bertekuk lutut di hadapan Vira, dia memegangi kedua lengan Vira dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan Ayah Vira. Maafkan ayah, karena selama ini ayah sudah tidak peduli dengan kamu. Maafkan Ayah karena Ayah membiarkan kamu menerima siksaan dari ibu kamu," ucap Ayah Vira dengan menyesal atas apa yang sudah dia lakukan selama ini.


Mendengar permintaan maaf yang tulus dari ayahnya, Vira yang memiliki jiwa malaikat dengan perlahan ia memegang kedua pipi ayahnya dengan penuh kasih sayang.


"Ayah tidak perlu minta maaf, ini bukan kesalahan ayah," jawab Vira dengan sopan dan lirih.


Ayah Vira yang mendengar kalau Vira sudah memaafkan diri nya. Ia pun langsung memeluk erat Vira dan ketika dia memeluk Vira, tanpa dia sadari air matanya menetes membasahi pipi nya.


*


*


Keadaan berubah, di mana di saat itu aku berada di jalan yang aku lalui ketika menuju ke rumah Vira. Di sana ku lihat sebuah kursi kosong yang terbuat dari kayu. Melihat hal itu ku hampiri kursi itu dan ku duduk di kursi itu dengan air mata yang terus berderai membasahi pipi ku .


"Kenapa aku sedih mendengar Vira mengatakan hal itu? Apa yang membuat aku sangat menyayanginya seperti ini? Apa yang terjadi dengan aku?" Tanyaku kepada diri ku sendiri dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi ku.


Setelah beberapa saat menangis di kursi itu, aku menyeka air mata ku. Aku bangun dari duduk ku dan aku pergi menuju ke mobil yang aku parkiran di pinggir jalan.

__ADS_1


Ketika aku berada di dalam mobil, ku lihat ponselku yang berada di dalam tas. Di saat itu ku lihat ratusan panggung dan ratusan pesan di kirimkan oleh Mas Zaka. Dia terlihat khawatir karena aku tidak menjawab pesan dan panggilannya.


Saat itu aku masih tidak menjawab dan masih kepikiran dengan Vira. Namun, saat itu aku langsung pergi menuju ke kantor Mas Zaka untuk meminta maaf kepada dirinya.


__ADS_2