Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
6. Kedatangan Ibu angkat Natasya


__ADS_3

Malam itu menjadi malam yang menegangkan di hidupku. Kulihat suamiku terlihat marah atas kedatangan ibu angkat ku yang sama sekali tidak dia ketahui. Ketika dia berada di dalam kamar, kulihat dia berdiri di cermin dengan pandangan mata yang sangat marah.


Menyadari hal itu, aku hanya dapat menundukkan kepalaku dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


"Mas aku minta maaf tentang hal ini," ucapku lirih dengan pandangan mata melihat ke arah punggung Mas Zaka.


Mendengar aku mengatakan hal itu, Mas Zaka hanya melihat ku melalui cermin yang ada di hadapannya. Ia menatap cermin itu dengan tajam dan terlihat sangat marah.


Melihat hal itu, ku tinggikan kepalaku dan ku bangun dari dudukku. Aku menghampiri laki laki yang aku cintaiĀ  dan ku peluk erat dia dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku.


"Aku mohon maafkan aku, aku belum sempat memberi tahu kamu tentang hal ini. Ibu terlalu mendadak memberi tahu aku, aku minta maaf dengan kamu."


Mendengar ucapan itu, Mas Zaka melepaskan pelukan ku dan ia berbalik dengan memegangi kedua lengan ku.


"Aku yang minta maaf, seharusnya aku tidak marah. Apalagi, ini adalah masalah kecil." Mataku memandang laki laki itu dengan penuh air mata. Melihat hal itu, Mas Zaka menghapus air mataku yang mengalir membasahi pipiku. Setelah itu ia berbalik memeluk diriku.


"Sudah tidak papa. Aku tidak masalah jika ibu kamu tinggal di sini," ucap Mas Zaka dengan membelai halus kepalaku.


Mendengar hal itu, aku tersenyum kepada Mas Zaka dan ku peluk Mas Zaka dengan semakin erat.


Beberapa saat kemudian, aku dan Mas Zaka keluar dari kamar. Aku dan Mas Zaka menghampiri ibuku dan ibu mertua ku yang saat itu berada di ruang tamu.


"Ada apa Zaka? Semuanya baik baik saja?" Tanya ibu mertua ku kepada Mas Zaka yang datang dengan mengandeng diriku.


"Mama tenang saja. Aku dan Natasya baik baik saja. Dan ... untuk Mama, Mama boleh tinggal di sini dengan kita Mama," jawab Mas Zaka dengan senyum kecil di bibirnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, ibu angkat ku terlihat sangat bahagia. Ketika ia mendengar kalau Mas Zaka mengizinkan dirinya untuk tinggal, ibu ku langsung berlari dan memeluk diri ku dengan erat.


Aku yang menyadari hal itu, hanya diam dan tidak banyak bicara. Mataku hanya memandang ke arah Mas Zaka dengan perlahan dan kemudian ku balas pelukan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Makasih ya Tasya, Zaka. Makasih banyak karena kalian sudah mengizinkan ibu untuk tinggal di sini selama beberapa hari. Ibu sangat rindu tinggal dengan kamu," ucap Ibu angkat ku dengan penuh kebahagiaan.


"Sama sama Bu." Jawabku dengan terpaksa.


Sebenarnya aku tidak suka dengan ibu angkat ku, bukan karena aku membenci dirinya tapi ada alasan lain. Aku tidak suka dengan ibu angkat ku karena perubahan sikapnya yang sangat drastis ketika di rumah suamiku.


Hal ini aku katakan karena aku ketika aku berada di rumah ibu ku sekitar 2 mingguan yang lalu, ibu terlihat cuek dan tidak peduli dengan aku. Bahkan, ketika waktunya makan malam saja, ibu tidak mengajak aku dan membiarkan aku di dalam kamarku.


Sebenarnya dari dulu ibu memang seperti itu, ia selalu cuek dan tidak peduli dengan masalah ku. Ia selalu mementingkan masalah anak lain terlebih dahulu. Maka hal itu, ketika di rumah suamiku aku sangat heran dan bingung. Bingungku karena ibu yang mendadak menyayangi aku dan berubah sikap dengan ku.


Setelah beberapa saat berpelukan. Aku melepaskan pelukanku dan ku pegang kedua lengan ibu angkat ku dengan ku lempar senyum di bibir untuk menyembunyikan kecurigaan ku.


Mendengar itu, ibu angkat ku melemparkan senyum kepada ku. Setelah itu ku ajak ia masuk ke dalam kamar yang akan di tempati oleh ibu angkat ku.


Ketika aku dan ibu angkat ku sudah pergi, ibu mertuaku menyadari dari ekspresi muka ku, kalau aku tidak suka dengan kedatangan ibu angkat ku yang terlalu mendadak.


Di saat itu, dengan langkah perlahan ibu mertuaku menghampiri Zaka dan bertanya kepada Zaka tentang ekspresi muka ku yang memang murung.


"Zaka, kenapa dengan Natasya? Ibu lihat, dia seperti tidak suka dengan kedatangan ibunya. Apa kah ada masalah antara mereka berdua?" Tanya ibu mertuaku.


"Entahlah Mama, aku tidak tahu hal yang pasti tentang masalah ini. Yang aku ketahui memang benar kalau Natasya tidak suka kedatangan ibunya hari ini," jawab Zaka dengan santai lalu ia pergi menuju ke dalam kamarnya dan meninggalkan ibunya di ruang tamu.

__ADS_1


"Kenapa Natasya tidak suka dengan kedatangan ibunya? Apa kira kira ibunya membuat kesalahan?" Ucap ibu mertuaku dengan berbicara sendiri dan terus memikirkan hal itu.


Di ruang tamu, aku baru saja keluar dari kamar yang di tempati oleh ibu ku. Ku tutup pintu rapat rapat dan ku berhenti di depan pintu dengan tangan kanan masih memegangi gagang pintu.


Ku pikirkan lagi tentang perubahan sikap ibu angkat ku. Aku benar benar bingung dengan apa yang terjadi dengan ibu ku. Aku berpikir dan berkata dalam hati, apakah mungkin ibu angkat ku lupa ingatan? Atau ada sebuah rencana besar yang di rencanakan oleh ibuku, hingga ibu berpura pura baik seperti itu? Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus di cari tahu jawabannya.


Setelah itu, aku pergi ke dalam kamarku. Ketika aku berada di dalam kamar, aku melihat Mas Zaka sudah tidur di atas tempat tidur. Saat ku lihat hal itu, aku sangat bahagia karena aku merasa laki laki yang tengah tertidur di hadapanku adalah laki laki yang sangat menyayangi aku dengan tulus.


Tak ingin menganggu tidur Mas Zaka, dengan perlahan ku langkahkan kaki ku menunjuk ke cermin yang ada di kamar dan ku duduk di depan cermin dengan memandang cermin. Ku ingat terus perubahan sikap dari ibu angkat ku, aku bener benar curiga dengan sikap ibuku yang sangat berbeda.


"Kenapa ya ibu bisa berubah secepat ini? Apa jangan jangan, ibu merencanakan sesuatu?" Tanyaku dengan diriku sendiri di depan cermin.


Pertanyaan itu memang menjadi momok pikiran ku, aku benar benar bingung dengan yang di lakukan oleh ibu angkat ku. Ketika aku terus kepikiran dengan sikap ibu, tiba tiba Mas Zaka terbangun dan memeluk ku dari belakang.


Dia meletakkan kepalanya di atas bahu kiri ku dan dia memeluk erat aku.


"Ada apa Sayang? Kamu memikirkan apa?" Tanya Mas Zaka kepada ku.


"Tidak papa Mas. Aku juga tidak memikirkan apa apa," jawab ku dengan senyum yang ku lontarkan di bibir.


"Kamu jangan berbohong dengan aku, aku tahu kamu sedang berpikir sesuatu. Apa kamu memikirkan ibu kamu?"


Mendengar ucapan itu, aku terdiam. Aku melihat Mas Zaka melalui cermin tanpa berkedip. Aku menarik nafas dan ku hembuskan perlahan.


"Iya, ini tentang ibu." Mendengar jawabanku, Mas Zaka terdiam dia hanya memandang ku melalui cermin yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Dia melepas perlahan pelukan eratnya dan kemudian ia menjauhkan kepalnya dari bahu ku. Ku kira saat itu Mas Zaka marah dengan aku, namun tiba tiba ia memutar tubuh ku dan ia duduk bertekuk lutut di hadapan ku setelah aku duduk di hadapannya.


Dia tersenyum kepada ku. Matanya terus menatap mataku tanpa berkedip, menyadari hal itu ku arahkan tangan kananku ke arah pipi kirinya. Setelah itu, ku lempar senyum di wajah ku kepada laki laki yang duduk bertekuk lutut tersebut.


__ADS_2