
Waktu berlalu begitu cepat, terlihat di rumah Ibu Vira tengah tertidur. Beberapa saat kemudian, dia memanggil manggil Vira dan suaminya. Dia lupa bahwa suaminya dan anak anaknya sudah pergi dari rumahnya.
Menyadari Vira tidak datang ketika ibunya memanggil dirinya, Sera terlihat sangat marah dan kesal dengan hal itu. Dia terlihat masih tidak menyadari kalau dirinya sudah di rumah sendiri.
"Dimana anak itu? Kurang ajar! Vira!" Teriak Sera memanggil manggil nama berulang kali.
Menyadari tidak ada respon dari Vira, Sera pergi ke kamar yang biasa di tempati oleh Vira, namun saat itu Vira tidak ada di dalam ruangan itu. Melihat hal itu, dia kebingungan dan masih belum sadar kalau Vira dan suaminya sudah pergi.
Dia pun pergi ke kamar mandi dengan menyebut nyebut nama Vira, Nasya dan suaminya. Melihat dikamar mandi Vira juga tidak ada, Sera pun berpikir kalau Vira berada di dalam kamar Nasya. Dia pun pergi ke sana, namun nihil apa yang di pikiran juga tidak benar.
Di saat itu pula dia menyadari kalau Vira dan suaminya benar benar pergi dan tidak kembali. Setalah menyadari hal itu, Sera berkaca kaca. Dia tidak percaya kalau dia hidup sendiri.
"Aaaaaa!!!!!" Teriak Sera dengan mengacak acak kamar yang di tempati oleh Nasya.
Setelah melakukan hal itu, dia terduduk di samping tempat tidur dengan menangis tersedu sedu, dia berbicara dengan dirinya sendiri. Dia meminta maaf kepada anak anaknya sendiri dengan berbicara sendiri di dalam kamar.
Di bener benar tidak percaya kalau anak anaknya memang sudah pergi dan tidak akan kembali ke rumahnya lagi.
Hari semakin siang, tampak Vira dan Nasya sudah benar benar sudah pulih. Waktu itu, Ayah Vira terlihat kebingungan. Dia tidak tahu harus membawa anak anaknya kemana, karena dia tidak memiliki rumah.
Persiapan Vira, Nasya dan ayah mereka pun sudah di lakukan. Kini tinggal pergi dari rumah sakit, namun saat dia ingin pergi Dokter Afridi datang ke kamar mereka.
"Hi Vira, Nasya!" Sapa dokter Afridi kepada kedua anak itu.
"Halo Pak Dokter," jawab Nasya dan Vira secara bersamaan.
"Gimana kabar kalian?" Tanya Dokter Afridi dengan berdiri di samping Vira yang saat itu masih duduk di atas tempat tidur rumah sakit.
"Baik, Dokter."
"Syukurlah, setalah ini kalian akan pergi kemana?" Tanya Dokter Afridi. Mendengar ucapan itu, Ayah Vira sangat terkejut. Dia hanya bisa diam dengan menundukkan kepalanya dengan raut muka yang terlihat sangat sedih.
__ADS_1
"Saya tidak tahu Pak Dokter, kami tidak punya rumah sekarang!" Sahut Ayah Vira dengan sedih.
Mendengar ucapan itu, Dokter Afridi juga terlihat sedih. Namun, hal itu hanya bersifat sementara. Dia pun akhirnya menawari Vira, Nasya dan Ayahnya untuk tinggal di rumahnya.
Pada awalnya, Ayah Vira menolak. Namun, lama kelamaan dia menerima tawaran itu karena Dokter Afridi menawari dirinya untuk bekerja menjadi seorang driver di rumahnya.
Mendengar ucapan itu, Ayah Vira dan anak anaknya terlihat bahagia dia sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan Dokter Afridi.
Waktu berlalu begitu cepat, malam sudah tiba terlihat Dokter Afridi sudah bersiap untuk pulang. Setelah itu dia menghampiri kamar yang di tempati oleh Vira dan Nasya, dia mengajak anak anak itu berserta dengan ayahnya untuk pulang ke rumah.
Ketika sudah keluar dari rumah sakit, tampak sebuah mobil telah terparkir di depan pintu masuk rumah sakit, melihat hal itu Dokter Afridi meminta Ayah Vira dan kedua anaknya untuk masuk ke dalam mobil itu.
Pada awalnya mereka ragu untuk masuk ke dalam rumah. Hal itu terjadi kerana dia takut kalau mereka akan merusak mobil.
Menyadari mereka bertiga tidak masuk ke dalam mobil, Dokter Afridi terlihat sangat heran dan sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan mereka bertiga.
"Ada apa? Kenapa kalian bertiga tidak masuk ke mobil?" Tanya Dokter Afridi dengan heran.
Mendengar ucapan itu, Dokter Afridi hanya tersenyum kecil di bibirnya. Dia benar benar tidak percaya, dengan sikap keluarga Vira.
"Vira, Nasya dan bapak jangan khawatir. Aku percaya kalian bertiga tidak akan mungkin merusak mobil saya," jawab Dokter Afridi dengan tersenyum kecil di bibirnya.
Setalah mengatakan hal itu, Dokter Afridi pun membukakan pintu depan untuk Vira sedangkan pintu belakang di buka oleh Ayah Vira dan di tempati oleh Nasya dan ayahnya.
Setalah beberapa saat melakukan perjalanan, akhirnya Vira, Nasya, ayahnya dan Dokter Afridi pun sampai di rumah Dokter Afridi.
Ketika mereka sampai di depan rumah dan turun dari mobil, Vira, Nasya dan ayahnya terlihat sangat kagum dengan kecantikan dan kemewahan rumah Dokter Afridi.
Mereka terlihat tidak bisa berkata kata dengan rumah yang di miliki oleh Dokter Afridi.
"Wah, besar sekali rumahnya. Dokter, benarkah Vira akan tinggal di rumah ini?" Tanya Vira kepada Dokter Afridi yang saat itu baru saja keluar dari mobilnya dan berdiri di samping Vira.
__ADS_1
"Yap, kamu dan keluarga kamu akan tinggal di sini!" Jawab Dokter Afridi.
Mendengar ucapan itu, Vira benar benar tidak percaya karena dia akan tinggal di rumah yang sangat besar seperti istana itu.
"Papa!" Panggilan Nasya dengan melihat ke arah rumah Dokter Afridi. Dia terlihat juga sangat kagum dengan kemewahan dan keindahan rumah itu.
Mendengar hal itu, Ayah Vira hanya tersenyum dan dia juga terlihat kagum dengan rumah Dokter Afridi.
Setalah beberapa saat memandangi rumah, Dokter Afridi pun mengajak keluarga Vira masuk ke dalam rumah.
Ketika berada di dalam rumah, Vira menyadari kalau Dokter Afridi tinggal sendiri. Dia juga mengatakan kepada Vira dan keluarga nya dia hanya tinggal dengan pembantu. Selain itu, dia menjelaskan kalau orang tuannya sudah meninggal dan dia juga tidak memiliki saudara dan saudari. Dia adalah pewaris tunggal dan belum menikah.
Setalah menjelaskan panjang lebar kepada Vira dan keluarganya. Dokter Afridi mengantarkan keluarga Vira ke kamar yang akan di tempati oleh Vira dan keluarganya.
Saat itu dia memang langsung menempatkan Vira dan keluarganya di kamar pembantu, namun karena kamar pembantu dan kamar untuk keluarga sama besarnya, akhirnya Ayah Vira meminta untuk tinggal di kamar pembantu karena dia pikir kamar yang di perlihatkan adalah kamar untuk tamu yang datang.
Menyadari hal itu, Dokter Afridi hanya tersenyum.
"Pak, ini adalah kamar untuk pembantu!" Jawab Dokter Afridi.
Mendengar hal itu, Ayah Vira benar benar tidak percaya dengan hal itu. Wajahnya terlihat sangat terkejut dan kagum dengan kamar itu.
"Ya sudah, sekarang kalian bertiga bisa beristirahat. Dan ... Pak, besok bapak mulai bekerja, menjadi tukang kebun. Nanti, jika bapak bisa mengendarai mobil saya akan jadikan bapak driver juga."
"Baik Dokter, terimakasih." Jawab Ayah Vira dengan baik, setelah itu Vira pun juga mengatakan terimakasih kepada Dokter Afridi yang sudah membantu dirinya dan mengizinkan dirinya untuk tinggal di rumah Dokter Afridi.
Dokter Afridi yang mendengar permintaan itu, dia hanya tersenyum. Lalu, dengan perlahan dia membelai Vira dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Sama sama Vira. Dan ... Kamu istirahat ya, besok kamu bisa bantu ayah kamu, kamu juga Nasya."
"Iya Dokter," jawab Vira lalu dia tersenyum kepada Dokter Afridi.
__ADS_1
Setalah melihat hal itu, Dokter Afridi pun pergi meninggalkan Vira dan keluarganya di dalam kamar itu.