
Di rumah orang tua Tasya, terlihat Tasya hanya diam dengan pandangan mata terus melihat ke arah ponselnya. Dia tampak berurai air mata.
"Aku rindu dengan kamu Huda," ucap Tasya dengan terus memandangi foto dia dalam ponselnya.
Beberapa saat kemudian, orang tua Tasya datang ke kamar Tasya, dia tampak berniat untuk mengajak Tasya makan, namun karena melihat Tasya bersedih Ayah Tasya pun menghampiri Tasya dan duduk di samping Tasya.
"Ada apa Tasya?" tanya Ayah Tasya dengan melihat ke arah ponsel Tasya yang memperlihatkan wajah Zaka dan Huda. Melihat hal itu, Ayah Tasya tersenyum. Dia mengambil ponsel Tasya dengan perlahan untuk memuji ketamakan dia laki laki yang ada di dalam ponsel itu.
"Sungguh tampan, dia benar benar tampan. Apa dia yang bernama Huda?" tanya Ayah Tasya.
"Iya ayah, " jawab Tasya dengan menganggukkan kepalanya.
Melihat hal itu Ayah Zaka memegangi tangan Tasya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"jika kamu rindu dengan mereka, kenapa kamu tidak menghubungi mereka berdua?" ujar Ayah Zaka dengan baik dan bernada rendah.
"Aku tidak bisa ayah, aku tidak bisa menganggu kebahagiaan Mas Zaka," jawab Tasya dengan sedih.
"Tasya, Zaka itu hanya milik kamu dan sampai kapan pun dia akan menjadi milik kamu, jadi ayah mohon jangan bicara seperti itu. Zaka dan anaknya itu membutuhkan kamu bukan wanita lain, jadi ayah minta. Kalau pun kamu tidak ingin pulang saat ini, kamu coba hubungi Zaka, siapa tahu dia belum tidur!" ucap Ayahnya dengan nada rendah.
Tasya yang mendengar apa yang di katakan oleh Ayahnya dia hanya diam selama beberapa saat, matanya tampak berhenti meneteskan air mata dan dia memandang ke arah ayahnya. Menyadari hal itu, Ayah Tasya mengembalikan ponselnya dan mencoba menghubungi Zaka yang di kala itu sedang menidurkan Huda.
Tasya pun mengetik sebuah nomer di ponselnya, beberapa saat kemudian terlihat sebuah nomor dengan nama suami keluar dan terpampang jelas di layar ponsel Tasya. Saat itu dia tampak bingung dan tidak yakin untuk menghubungi Zaka. Namun, Ayah Tasya terus meyakinkan Tasya untuk menghubungi Zaka.
Akhirnya setelah berpikir sejenak Tasya memberanikan diri untuk menghubungi suaminya .
__ADS_1
Di rumah, ponsel Zaka yang di kala itu berada di atas meja terlihat berbunyi. Menyadari hal itu, Zaka mendekati ponselnya dan mengambil ponsel nya.
Ketika dia melihat bahwa orang yang menghubungi dirinya adalah Tasya, dia tampak sangat bahagia dan tidak percaya kalau Tasya akan menghubungi dirinya.
"Halo, " jawab Zaka setalah dia mengangkat panggilan di ponselnya.
"Iya Mas, " jawab Tasya dengan air mata yang tiba tiba menetes. Menyadari air matanya menetes, Tasya menyeka air matanya dan terdiam selama beberapa saat.
Menyadari hal itu, Zaka tampak kebingungan dengan apa yang sudah terjadi dengan Tasya karena tiba tiba diam.
"Sayang, ada apa?" tanya Zaka.
Melihat Tasya yang tidak mengatakan sepatah katapun ketika Zaka sudah mengangkat panggilannya, akhirnya Ayah Tasya berusaha untuk membuat Tasya berbicara.
Dia mengerakkan tubuhnya dan meminta Tasya untuk berbicara dengan Zaka. Tasya yang menyadari hal itu, dengan perlahan dia pun akhirnya mengatakan kepada Zaka kalau dia merindukan Zaka dan Huda.
Zaka yang mendengar hal itu, dia terdiam selama beberapa saat. Setelah itu dia tersenyum dengan sesekali melihat ke arah anak laki laki yang tengah di gendongnya.
"Aku juga merindukan kamu, Huda juga. Maafkan aku jika aku sering menyakiti kamu dengan tidak aku," ucap Zaka dengan nada rendah dan menyesal atas apa yang terjadi di masa lalu nya.
Mendengar hal itu, Tasya yang saat itu sudah sedih. Dia tampak semakin sedih dan berderai air mata. Dia sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Zaka, air matanya terus berderai membasahi matanya.
Setalah meneteskan air mata beberapa kali, terlihat menyeka air matanya.
"Oh iya Mas, Gimana kabar Huda?" tanya Tasya.
__ADS_1
"Dia sangat merindukan kamu, dia ingin selalu bersama dengan kamu. Aku mengatakan ini bukan karena sebab, tadi sepulang nya aku dari rumah kamu, Huda terus menangis. Dia tidak mau di gendong oleh Sarah, setalah itu aku ambil Huda ajak dia ke kamarku. Pada awalnya, dia terus menangis setalah aku gendong dia,namun dia masih saja belum bisa diam dan terus menangis. Akhirnya aku mengambil ponsel ku dan ku tunjukkan kepada Huda foto kamu. Dan kamu tahu, apa yang terjadi..."
"Apa yang terjadi Mas?" tanya Tasya.
"Dia tiba tiba terdiam. Dia terus memandang ke arah foto kamu dan lekas untuk tidur di gendong ku, " ucap Zaka dengan nada sedih.
Mendengar apa yang di katakan oleh Zaka, Tasya meneteskan air mata. Dia tersenyum kepada Zaka dengan raut muka yang tampak sedih.
"Kami membutuhkan kamu Tasya, kami tidak membutuhkan orang lain. Kami hanya membutuhkan kamu," ucap Zaka untuk melanjutkan ucapannya yang sebelumnya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Zaka, dia hanya diam dengan sedih. Dia menahan air matanya agar Zaka tidak tahu jika dirinya sedang bersedih.
Setalah Tasya menangis, Ayah Tasya yang menyadari hal itu. Dia menyeka air matanya dan meminta Tasya untuk mengajak Zaka Video call.
Pada awalnya Tasya tidak mau namun karam Ayah Tasya terus memaksa akhirnya dia pun menerima dan menghubungi Zaka.
Ketika panggilan Video sudah di lakukan, Tasya tidak bisa menahan air matanya. Dia benar benar tidak kuasa menahan air matanya.
"Hey, Sayang. Tante rindu sekali dengan kamu," ucap Tasya dengan air mata yang terus berderai melihat anak laki lakinya tidur dengan sangat pulas.
"Kamu lihat, dia sangat lucu kan," ucap Zaka dengan sangat bahagia. Tasya yang mendengar hal itu dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mas Huda sangat lucu. Dia juga tampan seperti Mas, oh iya. Di mana Sarah?" tanya Tasya dengan mencoba melihat ke sisi lain, saat itu dia tampak kebingungan karena Sarah tidak berada di dekat anaknya.
"Entahlah Tasya, aku tidak tahu dan aku tidak peduli dengan dia. Yang terpenting sekarang, aku, kamu dan Huda hidup bersama menjadi satu keluarga."
__ADS_1
"Iya Mas, " jawab Tasya dengan nada rendah dan senyum kecil di bibirnya.