
Hari demi hari di lalui Zaka dengan kesedihan dan kesendirian. Dia terus berharap untuk Tasya segera sadar.
Saat itu Zaka tengah duduk di samping Tasya dengan keadaan yang tidak terurus. Dia terus memegangi tangan Tasya dengan sangat erat, matanya tampak bengkak dan memerah seakan dia terus menangis di sepanjang malam.
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, saat itu Zaka tengah tidur dengan pulas. Ketika dia tidur, tanpa di sadarinya beberapa jari Tasya bergerak. Perlahan keadaannya mulai sadar.
Beberapa saat kemudian Zaka terbangun dari tidurnya, namun saat itu dia masih tidak menyadari kalau jari Tasya bergerak. Zaka yang di saat itu baru bangun, dia keluar IGD untuk membasuh muka nya. Ketika dia kembali, Zaka sangat terkejut. Dia melihat beberapa dokter dan suster berada di ruangan Tasya dan melepaskan alat pernafasan yang di pakai oleh Tasya. Melihat hal itu, Zaka sangat marah. Dia menghampiri para dokter itu dan meminta dokter dan suster itu untuk menjauhi istrinya.
Dia tampak tidak ingin mendengarkan penjelasan dari dokter, melihat kemarahan Zaka yang sudah tidak terkontrol berusaha untuk di tenangkan oleh suster dengan mengatakan kalau Tasya sudah baik baik saja. Mendengar hal itu, Zaka terdiam. Dia tampak tidak marah lagi dengan apa yang di lakukan oleh para dokter dan suster itu. Saat itu dia tidak percaya dengan apa yang katakan oleh suster itu.
"Benarkah suster? Benarkah istri saya sudah sadar?" tanya Zaka dengan tenang.
"Masih belum pak, tapi Bu Tasya sudah melewati masa komanya," jawab salah satu suster yang berada di ruangan itu. Mendengar ucapan itu, Zaka langsung terdiam. Dia tampak sangat bahagia dengan apa yang di katakan oleh suster itu.
Saat itu dia bergegas menyingkirkan dari jalan dan membiarkan dokter dan suster membawa Tasya keluar dari ruangan UGD.
Melihat hal itu Zaka benar benar bahagia. Dia tidak dapat mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata kata.
Sesampainya Zaka di kamar Tasya yang baru, dengan wajah yang lebih segar dia duduk di samping Tasya. Dia memegangi salah satu tangan Tasya dengan penuh kasih sayang dan penuh dengan kebahagiaan.
"Sayang, kamu harus segera pulih. Aku mohon dengan kamu," ucap Zaka dengan sesekali mencium tangan Tasya yang tampak masih menggunakan infus.
Beberapa saat kemudian, semua orang datang ke rumah sakit. Tak terkecuali Sarah, dengan perut yang semakin membesar, dia pergi ke rumah sakit dengan di antarkan oleh kakaknya.
Sesampainya di rumah sakit, Vira dan Sarah bergegas masuk ke rumah UGD, namun di saat di dalam ruangan dia tidak melihat siapa pun kecuali satu suster yang sedang membersihkan ruangan itu.
__ADS_1
Melihat hal itu, Sarah dan Vira sangat terkejut. Dia bertanya kepada suster itu tentang Zaka dan pasien yang sedang di rawat.
"Dimana Pak Zaka dan pasiennya Suster?" tanya Sarah kepada Suster itu. Suster yang mendengar hal itu memberi tahu Sarah kalau Tasya sudah di pindahkan ke ruangan lainnya.
Mendengar hal itu, Sarah dan Vira bergegas keluar dari IGD dan menuju ke ruangan yang di beri tahu oleh suster itu.
Ketika mereka sudah menemukan ruangan yang di tempati oleh Tasya, tampak Sarah dan Vira sangat bahagia. Vira yang memang sudah sangat dekat dengan Zaka, dia bergegas menghampiri Zaka dan memeluk Zaka dengan sangat erat dan dia tampak sangat bahagia sudah melihat Zaka lagi. Zaka yang menerima pelukan itu dari Vira, dia juga sangat bahagia dan dia membalas Vira dengan pelukan yang semakin erat.
Namun, hal itu berbanding terbalik dengan Zaka saat melihat Sarah. Dia tampak masih tidak suka dengan kehadiran Sarah, walaupun masalah perselingkuhannya sudah berakhir.
"Om, gimana kabar Tante Tasya?" tanya Vira dengan nada rendah. Mendengar hal itu, Zaka memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Vira. Dia tampak memeluk Vira dengan sangat erat dan penuh kasih sayang.
"Tante Tasya baik, dan Om mohon sama kamu. Tolong kamu jangan lupa untuk selalu berdoa untuk Tante Tasya, supaya dia segera sadar!."
"Tante Tasya, Vira mohon tolong segera sadar. Vira rindu dengan Tante yang dulu, yang selalu menyayangi Vira, walaupun Vira bukanlah anak kandung Tante," ucap Vira dengan polos dan tampak sedih. Matanya berlinang air mata, namun di sisi lain Zaka mendekati Sarah dan mengajak Sarah keluar dari ruangan yang di tempati oleh Tasya.
Ketika di luar kamar, Zaka tampak sangat marah dengan Sarah. Dia sangat tidak suka dengan kehadiran Sarah di rumah sakit.
"Kamu ngapain kemari?" tanya Zaka dengan marah ketika dia dan Sarah sudah berada di luar kamar yang di tempati oleh Tasya.
"Pak, saya ingin melihat Bu Tasya. Dan saya juga ingin melihat keadaan Bapak," jawab Sarah dengan baik kepada Zaka.
"Kamu tidak usah sok peduli dengan aku, aku tidak butuh kepedulian kamu," bentak Zaka.
Mendengar bentakan itu, Sarah hanya diam. Matanya tiba tiba di penuhi oleh air mata. Tak berselang lama, Afridi yang berada di dalam ruangan bersama dengan Vira, tiba tiba dia keluar. Dia bertanya kepada Zaka atas apa yang terjadi hingga terdengar suara hentakan dan Sarah menangis.
__ADS_1
Melihat kedatangan Afridi, Sarah menghapus air matanya. Dia berusaha untuk menutupi kesedihannya di hadapan sang kakak.
"Ada apa ini? Kenapa kamu menangis Sarah? Apa yang terjadi, apa Zaka membentak kamu?" tanya Afridi dengan raut muka yang terlihat kesal dengan Zaka.
Melihat kakaknya marah, Sarah menggelengkan kepalanya. Dia mengatakan tidak terjadi apa apa, hal itu di lakukannya karena dia melindungi Zaka dari amukan kakaknya.
"Tidak papa kak, jangan khawatir." Jawab Sarah dengan baik lalu dia memeluk Afridi dengan sangat erat.
Menyadari hal itu, Afridi pun membalas pelukan Sarah dengan erat.
"Kamu yakin tidak papa?" tanya Afridi.
Mendengar pertanyaan itu lagi, Sarah hanya menganggukkan kepalanya. Setalah itu dia dan Afridi kembali masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Tasya.
Melihat hal itu, Zaka tampak sangat kesal dan marah. Namun dia berusaha untuk tidak meluapkan amarahnya di tempat itu, karena dia sadar bahwa dia sedang di rumah sakit dan membutuhkan ketenangan yang ekstra.
Di rumah Dokter Afridi, Nasya dan ayahnya tampak sangat khawatir dengan keadaan Vira. Ayahnya terlihat berjalan kesana kemari dengan raut muka yang cemas karena dari tadi Dokter Afridi mengajak Vira namun tidak pulang pulang.
Beberapa saat kemudian, pembantu yang bekerja di rumah Dokter Afridi menghampiri Ayah Vira dan adiknya. Dia menghampiri Ayah
Vira dengan membawa sebuah panggilan dari Dokter Afridi.
Saat itu Dokter Afridi menjelaskan kepada Ayah Vira, agar dirinya tidak khawatir dengan Vira karena dia mengajak Vira menemui Tasya. Mendengar kabar kalau Vira berada di rumah sakit untuk menjenguk Tasya Ayah Vira tampak lebih tenang dan tidak khawatir dengan keadaan Vira.
Setelah panggilan berakhir, Ayah Vira mengajak Nasya untuk pergi ke dalam rumah.
__ADS_1