Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
26. Perdebatan dan Mulai curiga


__ADS_3

Menyadari hal itu Zaka sangat terkejut, dia langsung menghampiri Tasya yang saat itu pergi ke kamarnya.


Di dalam kamar, Tasya sedih. Dia duduk di atas tempat tidurnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.


"Kenapa aku sedih? Ada apa dengan aku?" Ucap Tasya.


Beberapa saat kemudian Zaka datang ke dalam kamarnya, menyadari ke datangan Zaka. Tasya langsung memalingkan wajahnya dari hadapan Zaka.


Menyadari hal itu, mata Zaka tiba tiba berkaca kaca. Dia berjalan dengan perlahan mendekati Tasya.


"Sayang ... Aku mohon dengan kamu, tolong maafkan aku." Ucap Zaka dengan sangat sedih, dia memegangi tangan Tasya dengan sangat lembut.


"Dengar Sayang, aku sama sekali tidak pernah berpikiran untuk memiliki hubungan dengan orang lain. Aku hanya mencintai kamu, tidak ada orang lain. Aku sungguh tidak tahu apa maksud dari Sarah memanggil aku Mas, aku jujur dengan kamu," ucap Zaka dengan sedih.


Mendengar ucapan itu, Tasya hanya diam. Air matanya hanya terus mengalir membasahi pipinya.


Saat itu dia merasa bimbang. Dia ingin percaya dengan suaminya, namun dia merasa ada sebuah penolakan di dalam hatinya yang di rasakan oleh Tasya.


"Baik, aku percaya dengan Mas. Tapi aku mohon, tolong jangan pernah melakukan hal itu kepada ku. Aku mohon," ucap Tasya dengan air mata yang terus mengalir. Dia mendekatkan dahinya ke dahi Zaka. Zaka yang menyadari hal itu, dia membalas Tasya dengan sangat lembut, dia memegangi kedua pipi Tasya untuk menangkan kan Tasya yang saat itu terus menangis.


Akhirnya mereka berdua pun berbaikan. Walau dalam hatinya ada sebuah kebimbangan, Tasya berusaha untuk menutupi rasa itu dan bersikap sudah tidak memiliki rasa takut di hadapan Zaka.


Setalah drama rumah tangga yang penuh dengan air mata, akhirnya Zaka pun pergi ke kantornya. Setalah itu dia mengajak Sarah untuk pergi.


"Mama, kenapa aku merasa ada sebuah kekhawatiran sekarang?" Ucap Tasya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Ibu Zaka yang mendengar ucapan itu, ikut bersedih. Dia memegangi kedua bahu Tasya dengan penuh kasih sayang.


"Tasya, maafkan Mama. Maafkan mama karena mama sudah menanam rasa curiga di dalam hati kamu. Mama hanya tidak ingin kalau kamu merasakan apa yang Mama rasakan dulu," jawab Ibu Zaka dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.


Mendengar ucapan itu, Tasya hanya diam dia memeluk ibunya dengan erat.


Di dalam kantor, Zaka terlihat sangat marah dengan sikap Sarah yang memanggil dirinya Mas. Saat itu Zaka meminta Sarah untuk pergi ke ruangannya sebelum pergi bersama ke luar kota.


Saat Sarah sudah berada di dalam ruangan yang di tempati oleh Zaka, Zaka menatap tajam Sarah. Dia seolah ingin menerkam Sarah.


"Kenapa kamu melakukan ini Sarah?" Tanya Zaka kepada Sarah dengan nada bicara yang serius.


Mendengar ucapan itu, Sarah terkejut dan dia terlihat heran dengan apa yang katakan oleh Zaka.


"Maksudnya Pak?" Jawab Sarah dengan kebingungan.


"Beberapa saat lalu kamu menelepon saya kan? Dan yang mengangkat panggilan saya adalah Tasya!" Ucap Zaka.


Mendengar ucapan itu, Sarah terkejut. Dia terlihat tidak bisa berkata kata.


"Kenapa kamu memanggil aku Mas di telepon tadi? Apa tujuan kamu melakukan itu, hah? Apa kamu ingin menghancurkan rumah tangga ku? Ingat Sarah, kamu itu hanya sekertaris. Kamu tidak akan bisa menggantikan posisi Tasya di hati ku, ingat itu." Ucap Zaka dengan sangat marah setelah itu dia pergi meninggalkan Sarah di ruangannya.


Sarah yang melihat Zaka sangat marah besar dengan dirinya, dia sangat sedih. Dia berbalik dengan raut muka yang menyesal sudah melakukan hal itu, setalah itu dia pergi menuju ke dalam mobil Zaka yang akan di bawanya ke luar kota bersama dengan dirinya.


Waktu berlalu begitu cepat, tibalah Zaka dan Sarah di salah satu hotel. Saat itu mereka memesan dua kamar yang berbeda antara Zaka dengan Sarah, namun kamar mereka tidak jauh berbeda.

__ADS_1


Setalah memesan kamar untuk mereka berdua, Zaka dan Sarah berjalan menuju ke kamar mereka bersama sama tanpa mengatakan sepatah katapun. Saat itu Sarah masih menyadari kalau Zaka masih marah dengan dirinya.


Ketika mereka sudah sampai di kamar masing masing, Zaka yang pada saat itu ingin masuk ke dalam kamar dia di hentikan oleh Sarah. Dia melakukan hal itu karena tujuan dia ingin meminta maaf kepada Zaka, Zaka yang mendengar permintaan maaf dari Sarah, dia hanya diam. Dia menatap tajam Sarah, dan tanpa mengatakan sepatah kata dia masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Sarah yang masih berada di luar kamar.


Melihat hal itu, Sarah sangat sedih. Dia tidak percaya kalau Zaka akan semarah ini dengan dirinya hanya karena dirinya memanggil Mas Zaka di panggilan yang saat itu di angkat istrinya.


Di dalam kamar yang di tempati oleh Sarah, dia terlihat kesal kerana Zaka tidak memaafkan dirinya. Dia tampak membantingnya kopernya me atas tempat tidur dengan sangat kasar.


"Apa apaan ini, kenapa Zaka tidak bisa memaafkan aku? Itu hanyalah masalah kecil, tapi kenapa? Kenapa dia tidak bisa memaafkan aku?" Ucap Sarah dengan sesekali dia berjalan kesana kemari dengan raut muka yang terlihat sangat kebingungan.


Setalah mundar mandir ke sana kemari dengan khawatir, dia duduk di atas tempat tidurnya dengan keadaan yang benar benar sangat marah kepada Zaka.


Dia dalam rumah Tasya, terlihat Tasya berada di dalam rumah nya. Dia terlihat duduk di hadapan sebuah cermin yang berdiri kokoh di hadapannya. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


"Aku berharap kamu tidak mengecewakan aku Mas, " ucap Tasya dengan yakin kalau suaminya tidak akan menjalani hubungan dengan Sarah sekertaris nya.


Setalah mengatakan hal itu, Tasya menyeka air matanya yang terus mengalir membasahi matanya.


Beberapa saat kemudian, Ibu Zaka datang dan dengan perlahan dia memegangi salah satu bahu Tasya. Dia meyakinkan Tasya kalau Zaka tidak akan mungkin mengkhianati dirinya.


"Tasya, maafkan Mama. Maafkan mama, membuat kamu seperti ini," ucap Ibu Zaka menyesal dan bernada lirih. Dia sedih melihat Tasya yang mulai curiga dengan Zaka.


"Mama tidak perlu meminta maaf, ini bukan kesalahan Mama. Aku justru terima kasih kepada Mama, karena Mama sudah mengizinkan Mas Zaka untuk pergi ke luar kota bersama dengan Sarah."


"Sebenarnya Mama berat melakukan ini Tasya, Mama juga merasakan hal yang sama dengan kamu. Mama tidak tenang, Mama takut kalau Zaka.... " Ucap Ibu Zaka dalam hati ya dengan membelai lembut Tasya.

__ADS_1


"Kamu tidak pernah berterimakasih Tasya, " jawab Ibu Zaka dengan sedih. Dia membelai perlahan pipi Tasya. Dia berusaha untuk membuat Tasya tidak ragu dengan Zaka.


"Kamu tanang saja, Mama yakin 100% Zaka tidak akan mengkhianati kamu. Jika seandainya dia benar benar selingkuh dengan wanita itu, maka Mama akan selalu mendukung kamu. Mama akan mendukung kamu di setiap keputusan yang akan kamu ambil, Mama janji," ucap Ibu Zaka untuk menenangkan Tasya. Tasya yang mendengar ucapan itu dia hanya diam dengan menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia mengerti tentang apa yang di katakan oleh ibu mertuanya tersebut.


__ADS_2