Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
27. Mencari Tahu


__ADS_3

Di rumah Dokter Afridi, Vira sudah berada di taman. Dia terlihat tengah merapikan bunga bunga yang berada di taman, melihat hal itu Dokter Afridi yang saat itu baru saja keluar dari rumah bersama dengan pembantunya. Dia langsung melihat ke arah Vira yang sedang bekerja. Tidak hanya Afridi, si pembantu yang bekerja di rumah Afridi pun juga melihat ke arah Vira.


Mereka terlihat tersenyum melihat kedisiplinan Vira dalam bekerja.


"Andai saja Pak, kalau Non Zahra masih ada mungkin dia akan sebesar Vira." Ucap pembantu dengan pandangan mata yang masih melihat ke arah Vira yang sedang bekerja.


Mendengar ucapan itu, Dokter Afridi tiba tiba bersedih. Dia menundukkan kepalanya dan tanpa banyak berkata dia pergi meninggalkan pembantunya tanpa berpamitan. Melihat hal itu, pembantunya terlihat sedih karena dia kembali mengingat masa lalu Dokter Afridi, yang mana dia pun sudah tidak ingin mengingat kembali hak itu di dalam benaknya.


"Maaf Pak, " ucap pembantu itu dengan sedih setelah dirinya menyadari kalau Dokter Afridi marah dengan dirinya.


Setalah pergi dari rumah, di sepanjang perjalanan dia hanya bisa bersedih mendengar apa yang di katakan oleh pembantunya. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, mata yang di penuhi oleh air mata dan bayangan yang tiba tiba terlintas di benaknya.


"Kenapa Bibi mengingatkan aku tentang hal itu?" Tanya Dokter Afridi dengan sedih dan menatap jalan dengan sedih.


Tiba tiba dia mengingat masa lalunya di mana di waktu itu Dokter Afridi, istrinya dan anaknya bermain di sebuah festival pasar malam. Mereka terlihat sangat bahagia bermain salah satu wahana, namun kebahagiaan mereka seketika berubah ketika terdapat sebuah kejadian yang sangat mengejutkannya. Kejadian itu adalah matinya mesin di salah satu wahana itu.


Ketegangan terjadi karena sudah 5 menit bahkan hampir 10 menit mesin tidak berjalan. Saat itu, Dokter Afridi tidak ikut naik wahana itu, dia yang sudah lelah mengistirahatkan tubuhnya di salah satu kursi.


Menyadari kalau wahana yang di tumpangi istri dan anaknya mesinnya mati. Dokter Afridi langsung bangun dari duduknya, dia menghampiri istrinya dan berusaha untuk menolong istri dan penumpang yang lainnya. Namun, naas ketika pemadam kebakaran baru datang rantai antara tempat duduk istri dan anak Dokter Afridi terputus dan jatuh tepat di hadapan Dokter Afridi.


Setalah kejadian itu, waktu seketika berhenti berdetak. Dokter Afridi tidak percaya istri dan anaknya akan meninggalkan dengan cara seperti ini.

__ADS_1


Keadaan kembali normal, dimana dia menghentikan mobilnya secara tiba tiba di tengah jalan. Dia terlihat terkejut, mukanya berubah kaku mengingat kejadian itu. Dia terlihat benar benar sedih.


*


*


Waktu berlalu begitu cepat, makan siang pun tiba. Terlihat Vira dan keluarganya masih bekerja, melihat hal itu Dokter Afridi menghampiri Vita dan keluarganya. Saat itu dia tidak terlihat sedih.


"Vira, sekarang sudah waktunya makan siang. Kalian makan ya," ucap Dokter Afridi dengan baik kepada Vira dan keluarganya.


"Baik Dokter," jawab Vira. Setalah mendengar jawaban itu, Dokter Afridi pergi ke dalam rumah, dia meminta pembantu untuk mempersiapkan makan siang untuk dirinya. Mendengar perintah itu pembantu itu, menyiapkan makan siang untuk Dokter Afridi. Menyadari Vira dan keluarganya masih belum datang ke dalam rumah untuk makan siang, Dokter Afridi kembali keluar dari rumah untuk menghampiri keluarga Vira.


"Ayo Vira," teriak Dokter Afridi untuk mengajak makan siang bersama dengan Dokter Afridi. Akhirnya, Vira dan keluarganya pun pergi ke dalam rumah dan meninggalkan pekerjaannya sesaat.


Melihat Vira duduk di hadapannya, Dokter Afridi hanya memandangi Vira. Matanya tiba tiba di penuhi oleh air mata ketika melihat Vira, dia membayangkan anaknya yang sudah meninggalkan dirinya.


Melihat ada yang aneh dengan Dokter Afridi, Ayah Vira memanggil Dokter Afridi dan bertanya tentang apa yang terjadi hingga dirinya sedih.


"Ada apa Pak? Kenapa Bapak bisa bersedih melihat Vira?" Tanya Ayah Vira dengan melihat Dokter Afridi. Dokter Afridi yang mendengar hal itu, dia membalas senyuman.


"Bukan apa apa, aku hanya kagum dengan anak kamu. Karena di usianya yang masih kecil, dia sudah bisa bertanggung jawab dan disiplin dalam hal bekerja!" Jawab Dokter Afridi. Setalah itu dia memegangi salah satu Vira, Vira yang menyadari hal itu dia hanya diam dan menuruti apapun yang di lakukan oleh Dokter Afridi.

__ADS_1


"Dia selalu mengingatkan ku dengan seseorang ...." Ucap Dokter Afridi dengan sedih, setalah itu dia melepaskan tangannya yang memegangi pipi Vira. Dia bangun dari duduknya dan pergi dengan sedih.


Melihat sikap aneh dari Dokter Afridi, Ayah Vira terlihat heran dengan sikap Dokter Afridi. Tidak hanya Ayah Vira, Vira pun juga heran dengan sikap Dokter Afridi, namun dia dapat merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Dokter Afridi.


Ketika makan siang sudah selesai,Viran membantu pembantu yang sedang membersihkan piring di dapur. Pada saat itu, dia hanya ingin bertanya kepada pembantu itu tentang apa yang terjadi dengan Dokter Afridi.


"Bibi, kenapa Dokter Afridi itu selalu sedih ketika melihat aku? Apa yang tejadi dengan Dokter Afridi Bi?" Tanya Vira kepada pembantu yang bekerja di rumah Dokter Afridi.


Mendengar pertanyaan itu, dia tempak terdiam selama beberapa saat. Namun, setelah terdiam dia kembali melanjutkan tindakan yang di lakukan nya.


"Ini ada hubungannya dengan masa lalu Pak Afridi. Dan Bibi rasa, bibi tidak akan memberi tahu kamu." Jawab pembantu itu dengan baik, Vira yang mendengar ucapan itu dia hanya tersenyum kepada pembantu itu.


"Maaf Vira, bukan maksud Bibi tidak ingin memberi tahu kamu. Apa yang terjadi dengan masa lalu Pak Afridi, adalah masa lalu yang paling kelam di dalam hidup nya. Tapi aku yakin, suatu hari nanti, Pak Afridi pasti akan memberi tahu kamu!" Jawab pembantu itu. Setelah itu ia melanjutkan "dan ... Ya, nanti kamu ikut Bibi ya, kita pergi ke pasar setelah ini!."


Mendengar ucapan itu, Vira hanya diam dengan menganggukkan kepalanya. Selain itu dia juga melemparkan senyuman kepada pembantu yang bekerja di rumah Dokter Afridi.


Di rumah Tasya, terlihat Ibu Zaka ingin pergi. Menyadari hal itu Tasya yang saat itu duduk di sofa dia bangun dari sofa yang di duduknya dan menghampiri ibunya.


"Mama mau kemana?" Tanya Tasya kepada Ibu Zaka.


"Mama akan pergi ke pasar, apa kamu  mau ikut?" Jawab Ibu Zaka kepada Tasya.

__ADS_1


Tasya yang mendengar hal itu, akhirnya dia ikut dengan ibunya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Mereka pergi ke pasar bersama.


__ADS_2