Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
5. Di terima dan Tidak sengaja


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, keesokan harinya. Tasya datang ke rumah Sarah, dia mengira kalau Sarah masih berada di rumahnya.


Tasya mengetuk pintu dengan perlahan sambil memanggil manggil nama Sarah, namun saat itu tidak ada respon dari siapapun. Tiba tiba seorang wanita paruh baya keluar dari rumah Sarah. Dia adalah Bu Jaka.


"Cari siapa ya Mbak?" tanya Bu Jaka.


"Em ... Maaf, apa ini betul ini rumahnya Sarah?" Mendengar apa yang di katakan oleh Tasya, Bu Jaka tanpa sinis. Dia terlihat tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Tasya.


"Oh, si pelakor itu. Dia tidak di sini Mbak, mungkin dia di neraka." Jawab Bu Jaka dengan terlihat tidak suka.


"Bu saya serius, dimana Sarah?" jawab Tasya dengan semakin tegas dan semakin marah dengan wanita yang berdiri di depan rumah Tasya.


Mendengar keributan dari luar rumah, Nazwa keluar dari rumah dan menghampiri Tasya dengan ibunya.


"Ada apa Mama? Kanapa Mama marah?" tanya Nazwa.


Melihat ada wanita baik baik di rumah itu, Tasya pun bertanya kepada wanita berkerudung itu. Tasya bertanya tentang Sarah. Dia pun menjelaskan kepada Tasya kalau Sarah sudah tidak tinggal di rumah ini dan dia juga sudah menjual rumah ini kepada keluarga Jaka.


Mendengar hal itu Tasya sangat terkejut, dia benar benar tidak percaya kalau Sarah meninggal anaknya. Setalah mengetahui segalanya tentang Sarah, Tasya pun pergi dan mencari Tasya di tempat lain.


Di rumah Bu Asri, Sarah berjalan mundur mandir ke sana kemari. Dia terlihat sangat khawatir tentang keputusan dari perusahaan tempat dia melamar kerja. Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya.


Mendengar hal itu, Sarah membuka pintu kamarnya. Terlihat Bu Asri mengajak Sarah makan di ruang makan, melihat hal itu Sarah sempat menolak dengan menunjukkan ekspresi cemasnya.


Melihat hal itu,Bu Asri memegangi salah satu tangannya.

__ADS_1


"Ada apa Sarah? Apa ada masalah?" tanya Bu Asri dengan baik kepada Sarah.


"Tidak ada Bu, aku hanya menunggu pemberitahuan dari perusahaan tempat aku melamar kerja."


Mendengar hal itu ,Bu Asri tersenyum. Dia memegangi kedua tangannya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Kalau sudah rezeki itu pasti tidak akan kemana-mana, maksudnya ... Kalau memang Allah menakdirkan kamu untuk kerja di tempat itu maka Ibu yakin, kamu pasti akan di terima di tempat itu. Jadi, saya mohon buat kamu. Kita makan sama sama, " bujuk Bu Asri dengan baik.


Akhirnya Sarah pun menerima bujukan itu, dia pun pergi ke ruangan makan bersama dengan Bu Asri. Saat dia berada di ruangan makan, Sarah hanya bisa menunduk kepalanya dengan sesekali melihat ke arah ponselnya.


Saat itu Sarah duduk di hadapan Fahim. Melihat kalau Sarah duduk di ruangan makan dengan bermain ponselnya, Fahim menegur Sarah agar tidak bermain ponsel saat makan.


"Kalau duduk di ruangan makan dan ingin maka itu jangan pernah kamu bermain dengan ponsel. Itu tidak baik," tegur Fahim dengan kepala yang terus menunduk.


Beberapa saat kemudian, setelah Sarah menyelesaikan makannya. Dia membantu Bu Asri dengan sesekali melihat ke arah ponselnya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tibalah ponselnya berbunyi dari perusahaan yang dia kirimi lamaran kerja. Saat itu dia sangat bahagia dengan hal itu.


"Halo," sapa Sarah dengan sangat bahagia.


"Apa betul ini adalah nomor dari Mbak Sarah?" tanya seorang wanita dengan nada lirih dalam ponsel.


"Betul Mbak."


"Baik, Mbak Sarah. Setelah kami mendapatkan informasi dari atasan kami, selamat Mbak di terima bekerja di perusahaan ini dan akan mulai bekerja di hari esok," ucap wanita yang sama dengan yang di temuinya di perusahaan.

__ADS_1


Mendengar kalau dirinya di terima kerja di perusahaan tempat dia melamar, Sarah sangat bahagia. Dia bahkan memeluk Bu Asri dengan sangat erat, tidak hanya memeluk Bu Asri bahkan dia juga mencium pipi Fahim. Saat itu semua terdiam, keadaan berubah menjadi canggung ketika Sarah sudah mencium Fahim tanpa sengaja.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja mencium pipi kamu. Maafkan aku," ujar Sarah dengan menundukkan kepala dan kemudian dia pergi dari ruangan makan dan masuk ke dalam kamarnya.


Saat itu Fahim hanya diam dengan memegangi pipi yang baru saja di cium oleh Sarah. Tidak hanya Fahim, Bu Asri yang melihat kejadian itu dia hanya diam dengan melihat ke arah Fahim. Dia terlihat sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Sarah.


Setalah beberapa saat duduk di kursi ruang makan dengan terpaku dan mematung, akhirnya Fahim pun pergi dari ruangan makan.


Di dalam kamar Sarah, Sarah langsung menutup kamarnya dengan rapat. Dia benar benar sangat malu dengan apa yang sudah di lakukannya. Dia memukul mukul bibirnya yang sudah mencium pipi Fahim dengan tanpa sengaja.


"Kamu itu kenapa bisa melakukan hal itu? Kenapa kamu bisa mencium laki laki yang bukan pacar kamu? Uh, dasar bodoh kamu Sarah, bodoh!." Sarah sangat kesal dengan dirinya sendiri, dia mengatakan hal itu dengan sesekali menampar bibirnya.


"Aku harap, Mas Fahim dan Bu Asri tidak marah dengan apa yang aku lakukan beberapa saat yang lalu," ucap Sarah melanjutkan ucapan yang sebelumnya.


Di luar rumah, Fahim duduk di lantai. Dia terlihat terus memikirkan tindakan yang di lakukan oleh Sarah yang secara tiba tiba mencium dirinya.


Melihat hal itu, Bu Asri keluar dari rumahnya dan menghampiri Fahim. Ketika dia berada di dekat Fahim. Dia memegangi salah satu bahu Fahim yang membuat Fahim sangat terkejut dan bangun dari duduknya.


"Kamu baik baik saja?" tanya Bu Asri.


"Ibu, iya Bu. Fahim baik baik saja, Fahim pergi dulu," jawab Fahim lalu dia berpamitan kepada ibunya dan pergi dari hadapan ibunya dengan senyum kecil di bibirnya.


Melihat hal itu Bu Asri pun juga tersenyum melihat kepergian anaknya dengan sangat bahagia.


"Dia yang terbaik untuk kamu," ujar Bu Asri lalu dia pergi ke dalam rumah dengan sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2