
"Kenapa kamu bohong dengan saya?" tanya Tasya kepada Sarah. Dia tampak tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Sarah tentang kehamilannya.
"Bu, saya mohon dengan ibu. Tolong percaya dengan saya, saya sungguh sungguh sedang hamil anaknya Pak Zaka. Saya mohon, tolong percaya dengan saya," jawab Sarah dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Melihat Sarah benar benar meneteskan mata mengatakan kejujuran tentang kehamilannya, Tasya berusaha untuk bersikap baik. Dia membangunkan Sarah yang di kala itu duduk bertekuk lutut di hadapannya.
"Kamu bangu," ucap Tasya dengan membangunkan Sarah. "Kalau memang kamu hamil anak dari Mas Zaka, apa yang kamu inginkan dari saya? Malah, menurut saya kalau memang kamu benar benar hamil anak nya Mas Zaka, itu kesempatan yang luar biasa. Kamu bisa memiliki Mas Zaka seutuhnya, itu kesempatan yang bagus kan?"
"Bukan itu Bu yang saya inginkan, saya hanya ingin anak ini mendapatkan nama, mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibunya," jawab Sarah dengan air mata yang memenuhi matanya.
"Kenapa kamu jelaskan semua ini ke saya? Kenapa kamu tidak terus terang saja kalau kamu ingin saya dan Mas Zaka berpisah? Supaya kamu dan Mas Zaka bisa menikah."
Mendengar ucapan itu, Sarah benar benar sedih. Dia mencoba untuk meraih tangan Tasya, namun di saat itu Tasya menghindari tangan Sarah yang bergerak mendekati tangannya.
"Ibu saya mohon maafkan saya, tolong jangan seperti ini. Kasihani anaknya Pak Zaka," ucap Sarah.
"Sarah ... Saya harus mengasihi kamu seperti apa lagi, kalau kamu memang ingin saya bercerai dengan Mas Zaka, baik. Saya akan lakukan, demi anak kamu. Lalu apa lagi yang kamu mau sekarang dari saya?"
"Bu, yang saya mau dari ibu bukan perpisahan.."
"Sarah ... Kamu yang memisahkan aku dengan Mas Zaka. Sekarang kamu tidak ingin ada perpisahan antara aku dan Mas Zaka, apa yang kamu mau? Kenapa kamu membuat aku bingung? Aku mohon, cukup ... Cukup kamu menyiksa dan merebut hidup ku," jawab Tasya dengan banjir air mata. Setelah itu dia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menyeka air matanya dan menghela nafas perlahan.
Setelah dia merasa tenang, Tasya pergi dari ruangan itu tampa berpamitan kepada Afridi dan yang lainnya. Dia pergi dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Melihat Tasya pergi dari kamar, Dokter Afridi dan Sarah mengejar Tasya. Dia mencoba menenangkan Tasya.
__ADS_1
Ketika dia berhasil mengejar Tasya, Dokter Afridi memegangi salah satu tangan Tasya.
"Tasya, tunggu. Sarah tidak ingin terjadi perceraian di antara kamu dan Zaka, dia hanya ingin anak yang di kandungannya memiliki nama, yaitu nama kamu dan Zaka. Sarah sudah janji dengan aku, dia akan pergi dari sini setalah dia melahirkan anak itu," ucap Dokter Afridi.
Mendengar ucapan Dokter Afridi, Tasya berbalik. Dia tampak sangat terkejut dengan apa yang di inginkan oleh Sarah.
"Kenapa dia ingin pergi, bukannya ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan Mas Zaka seutuhnya?" jawab Tasya dengan sedih.
"Dia ingin pergi karena dia sudah tahu, Zaka tidak akan mungkin bertanggung jawab jika anak ini bersama Sarah. Dia akan bertanggung jawab jika anak itu bersama dengan kamu, maka dari itu aku mohon dengan kamu. Tolong turuti apa yang di inginkan oleh Sarah, jangan berpisah dengan Zaka dan besar kan anak yang di kandung Sarah!."
Mendengar ucapan itu, Tasya terdiam dengan pandangan mata yang terus memandang ke arah Afridi.
Beberapa saat kemudian, Tasya dan Sarah pergi ke rumah Zaka. Sesampainya di rumah Zaka, Tasya di sambut oleh orang tua Zaka dengan sangat baik, namun sikap mereka berubah ketika mereka melihat di belakang Tasya terdapat wanita yang merusak hubungan anaknya dengan Tasya.
"Ada apa Tasya? Mengapa kamu bawa wanita itu kemari?" tanya Ibu Zaka dengan nada serius.
"Mama, tahu. Mama juga tahu kalau Sarah tengah mengandung anak Zaka," jawab Ibu Zaka dengan baik.
Setelah itu Ibu Zaka mengajak Tasya masuk ke dalam rumah, namun tidak dengan Sarah. Menyadari ibunya tidak mengajak Sarah, Tasya menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia meraih salah satu tangan Sarah, setalah dia mengajak masuk Sarah ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Zaka keluar dari kamar. Melihat Tasya kembali dia sangat bahagia dan dia bergegas menghampiri Tasya.
Ketika dia sudah berdiri di hadapan Tasya, dia sangat bahagia. Dia memeluk erat Tasya dengan erat, di saat Zaka memeluk dirinya, air mata Tasya menetes dan dia membalas pelukan Zaka dengan perlahan.
__ADS_1
Setalah itu Zaka melepaskan pelukannya dan dia memegangi kedua lengan Tasya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih Sayang, terimakasih kamu sudah mau kembali ke rumah ini!" ucap Zaka dengan sedih.
"Kenapa kamu melakukan ini ke aku? Apa salah ku ke kamu, hingga kamu menduakan aku dan sampai memiliki seorang buah hati? " Tanya Tasya dengan air mata mengalir deras membasahi pipinya.
"Maafkan aku, " jawab Zaka dengan memegangi kedua tangan Tasya dengan lembut.
"Ini bukan jawaban dari pertanyaan ku Mas, aku tanya ke kamu kenapa?" Zaka hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Sudah Tasya, sekarang kamu tenangkan diri kamu dulu. Kita bicarakan hal ini nanti setelah kamu sudah tenang," sahut Ibu Zaka dengan baik setalah itu dia mengajak Tasya ke kamarnya.
Ketika Tasya sudah pergi, Sarah yang saat itu masih di rumah Zaka dia hanya menundukkan kepalanya. Dia malu atas apa yang sudah di lakukannya.
Di rumah Dokter Afridi, Vira yang di kala itu tengah duduk di depan pintu untuk menunggu Dokter Afridi. Dia langsung terbangun ketika melihat Dokter Afridi sudah tiba di rumah. Dia menghampiri Dokter Afridi.
"Pak Dokter, apa Tante Tasya dan Om Zaka sudah berbaikan?" tanya Vira dengan polosnya. Dokter Afridi yang mendengar pertanyaan itu, dia tersenyum dengan membelai halus Vira dengan penuh kasih sayang.
"Kamu doakan saja, semoga apa yang kamu katakan akan segera terjadi," jawab Dokter Afridi lalu dia mengajak Vira masuk ke dalam rumah.
Di rumah Zaka, Ibu Zaka menghampiri Sarah yang saat itu tengah berdiri di hadapan Zaka dengan wajah yang tertunduk.
"Sarah, kenapa kamu tega melakukan ini ke Zaka dan Tasya?" tanya Ibu Zaka.
__ADS_1
"Maaf Tante, saya benar benar minta maaf maaf. Tolong, Tante jangan hukum saya, saya sedang mengandung anaknya Pak Zaka!."
"Sarah, saya tidak tahu kamu berbohong atau bersungguh sungguh. Tapi kamu harus ingat, kalau kamu mengulangi lagi apa yang sudah kamu lakukan sebelumnya, maka saya ... Saya yang akan melawan kamu," ancam Ibu Zaka setalah itu dia pergi dari hadapan Sarah. Begitupula Zaka, melihat sikap keluarga Zaka yang sangat membenci dirinya Sarah hanya bisa menangis dan menangis menyesali atas apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya.