
"Kamu baru pulang? Siapa yang mengantar kamu pulang?" tanya Bu Asri dengan tegas.
Mendengar hal itu, Sarah hanya diam selama beberapa saat. Setalah itu dia melihat ke arah Bu Asri dengan senyum kecil.
"Dia teman baru saya Bu, teman saya yang kerja bersama dengan saya," jawab Sarah dengan senyum kecil di bibirnya. Mendengar hal itu, Bu Asri hanya diam. Dia melihat Sarah dengan pandangan tidak suka kepada si laki laki itu.
"Kamu harus hati hati, awalnya bisa jadi teman. Tapi, lama kelamaan dia bisa berbuat macam macam dengan kamu, kamu harus hati hati." Tegur Bu Asri dengan marah. Dia kesal dengan kedekatan Sarah dan teman barunya.
Sarah yang mendengar hal itu, dia hanya tersenyum kepada Bu Asri. Dia mengangguk kepala mengisyaratkan bahwa dirinya mengerti apa yang dikatakan Bu Asri.
Setalah mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Asri, Sarah masuk ke dalam kamarnya. Dia duduk di atas tempat tidur untuk menghilangkan rasa lelahnya. Ketika merasa lelahnya sudah hilang, Sarah mengambil baju ganti di dalam lemarinya. Dia keluar dari kamar setelah mengambil baju ganti, dia berniat untuk mandi di kamar mandi, namun dia di kejutkan dengan kehadiran Fahim di depan kamarnya.
"Fahim, ada apa? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Sarah.
Fahim yang berdiri di hadapan Sarah tampak gugup. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada Sarah, namun Fahim tidak bisa mengatakannya.
"Mas Fahim, Mas baik baik saja kan?" tanya Sarah lagi.
"Ya, baik." Fahim menjawab dengan singkat. Dia pergi dari hadapan Sarah hanya dengan tertunduk.
"Kenapa ya dengan Mas Fahim?" tanya Sarah dengan berbicara sendiri.
Waktu berlalu begitu cepat, Sarah sudah keluar dari kamar mandi. Dia menggunakan pakaian tidurnya. Waktu itu, Sarah berniat bergegas tidur setelah mandi, namun Bu Asri memaksa Sarah untuk makan malam bersama dirinya dan Fahim.
Awalnya, Sarah ingin menolak. Namun, karena Bu Asri terus memaksa mau tak mau Sarah pun ikut bergabung dengan mereka untuk makan malam.
__ADS_1
Setalah Sarah menyelesaikan makan malamnya, dia merapikan piring yang dia pakai.
"Bu Asri, maaf ya Bu saya permisi dulu. Saya ingin tidur, saya tidak mau kalau besok saya terlambat," ucap Sarah dengan baik.
Mendengar apa yang di katakan oleh Sarah, Bu Asri tersenyum dan memberi izin Sarah.
Sarah pun pergi ke kamarnya, sesampainya di kamar Sarah menidurkan di atas tempat tidur. Dia memandang ke arah langit langit rumah Bu Asri dengan membayangkan wajah manis dari Huda.
Ketika membayangkan wajah Huda, tanpa di sadari oleh Sarah. Setetes air mata mengalir dari matanya.
"Huda, bagaimana kabar kamu? Ibu sangat rindu dengan kamu," Ucap seorang ibu yang sangat merindukan anaknya.
Saat dia menyadari air matanya menetes, Sarah bangun dari berbaringnya. Dia duduk di atas tempat tidur dengan mengambil ponsel yang terletak di atas meja yang tidak jauh dari dirinya.
Dia membuka kunci layarnya, ketika sudah terbuka dia melihat foto Huda terpampang jelas di layar ponsel Sarah. Melihat hal itu, Sarah semakin sedih. Dia semakin tidak tahan dengan perasaan rindunya kepada sang anak.
Setalah mengatakan kerinduannya ke foto Huda, Sarah mencium foto itu dengan mata masih di penuhi air mata.
"Ibu janji akan berubah demi kamu." Sarah menaruh ponselnya di atas meja. Dia kembali menidurkan tubuhnya dengan mata yang masih berkaca kaca.
Keesokan harinya, di rumah peninggalan Zaka. Tasya sibuk mengurus Huda dan Cahaya, dia mengganti popok, memberi susu dan menyiapkan dirinya untuk bekerja.
Saat dia bersiap-siap, ponselnya berbunyi. Terlihat sebuah nomor tidak di kenal menghubungi dirinya, Tasya yang melihat hal itu dia tidak bergegas mengambil dan mengangkatnya. Dia mengira nomor itu adalah nomor palsu dari orang yang ingin memeras dirinya.
Setelah dirinya siap untuk pergi bekerja, nomor yang sama menghubungi Tasya. Tasya yang melihat hal itu, dia mengangkat panggilan tersebut dengan sedikit kesal kerana dia berpikir kalau orang yang menghubungi dirinya adalah penipu.
__ADS_1
"Dengar ya, aku tidak percaya dengan kamu." Bentak Tasya setelah menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenalnya.
"Ibu tidak percaya dengan saya?" jawab Kelina.
Mendengar kalau suara itu suara Kelina, Tasya hanya tertawa.
"Sorry ya Kel, aku kira kamu itu orang jahat yang akan memeras saya. Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentak kamu," ucap Tasya dengan sedikit tersenyum kepada Kelina. Kelina yang mendengar hal itu dia hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Ada apa Kelina?" tanya Tasya di panggilan.
"Bu, ada berkas yang harus ibu tanda tanganin."
"Baik saya akan segera datang," jawab Tasya setelah itu dia pergi ke kantor.
Di tempat lain, terlihat Ahmad sudah menunggu Sarah di depan rumah. Melihat kedatangan Ahmad, Sarah sangat terkejut. Dia tidak percaya kalau Ahmad akan menjemput dirinya.
"Mas, mas menjemput aku?" tanya Sarah.
"Kamu itu gimana sih, sudah tahu aku menjemput kamu, kamu masih tanya. Ayo, pergi kerja," ajak Ahmad.
Melihat Ahmad menjemput Sarah, Bu Asri terlihat marah dan tidak suka dengan kedatangan Ahmad, namun dia berusaha untuk menutupi ketidaksukaannya dengan senyum dan sikap ramah kepada Ahmad.
"Bu saya pamit dulu ya, saya mau berangkat kerja."
"Iya, kamu hati hati." Jawab Bu Asri dengan baik.
__ADS_1
Setalah itu Sarah pun pergi ke tempat kerjanya bersama dengan Ahmad. Melihat kedekatan Sarah dengan Ahmad, Bu Asri benar benar tidak suka. Dia berniat untuk memisahkan Sarah dengan Ahmad dengan cara cara yang jahat.
Di jalan, Sarah dan Ahmad berbincang bincang dengan sangat bahagia. Meraka seolah sudah menjadi teman lama. Kedekatan mereka juga seperti bukan seorang teman kerja, namun lebih dari hal itu.