Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
44. Makan malam


__ADS_3

Malam hari pun tiba, saat itu di ruangan Tasya terlihat Tasya tengah duduk di atas tempat tidurnya dengan memakan makanan yang di dapat dari rumah sakit. Saat itu tampak sangat satu piring buah belum di makan oleh Tasya.


"Sarah, apa kamu sudah makan malam?" tanya Tasya kepada Sarah. Mendengar ucapan itu, Sarah ingin mengatakan kalau dia belum makan, namun saat itu Zaka mendahului Sarah dan menjawab pertanyaan Tasya.


Menyadari hal itu Tasya terdiam. Dia melihat ke arah Zaka dengan tatapan mata tajam.


Pada awalnya Zaka tidak menyadari tatapan itu, namun ketika dia sudah menyadari tatapan mata Tasya yang tajam melihat ke arahnya Zaka tampak terkejut.


"Ada apa Sayang?" tanya Zaka setelah dia menyadari Tasya menatap dirinya dengan tatapan mata tajam ke arahnya.


"Kamu yang ada apa, kenapa kamu bersikap seperti itu kepada Sarah? Ingat Mas, Sarah itu mengandung anak kamu, kamu juga harus perduli dengan dia. Jangan cuma aku saja," jawab Tasya dengan nada marah.


Setalah itu Tasya meminta Sarah untuk mendekat, dia meminta Sarah untuk makan buah yang saat itu di sediakan oleh rumah sakit. Melihat hal itu, Zaka sempat melarang Tasya dengan mengatakan kalau itu adalah buah miliknya dan hanya Tasya yang bisa memakannya, Namun saat itu Tasya justru semakin marah dengan Zaka ketika dirinya mendengar larangan itu.


"Mas, aku tahu buah itu memang untuk ku, tapi aku juga tidak mungkin membiarkan orang yang sedang hamil anak kamu kelaparan, itu tidak mungkin Mas!" bentak Tasya kepada Zaka. Saat itu Zaka pun terdiam, dia hanya tampak kesal dengan Tasya namun dia masih memendam kemarahannya.


Menyadari kemarahan Zaka, Tasya memegangi salah satu tangan Zaka. Melihat hal itu, Zaka pun perlahan mulai tenang.


"Maafkan aku, bukan maksud aku membuat masalah dengan kamu. Aku tahu buah ini memang untuk aku, tapi Sarah belum makan Mas. Dengarkan aku, kalau kamu tidak peduli dengan Sarah, setidaknya kamu perduli dengan anak yang di kandungnya. Dia anak Mas," jawab Tasya dengan air mata yang penuh dengan air mata.


Mendengar ucapan itu, Zaka hanya terdiam. Tiba tiba dia pergi dari ruangan itu dengan melepaskan tangan Tasya. Tasya yang menyadari hal itu, dia hanya diam dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah Zaka.


"Saya minta maaf Bu, gara gara saya Pak Zaka marah dengan Ibu!" ucap Zaka dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar apa yang di katakan oleh Sarah, Tasya menghela nafas. Dia melihat ke arah Sarah dan meminta Sarah untuk duduk di kursi yang berada di dekat tempat duduknya.

__ADS_1


"Tidak papa Sarah, ini bukan salah kamu. Sekarang kamu makan buah itu, Mas Zaka tidak masalah kok dengan hal itu," ucap Tasya dengan nada lirih.


Setelah mendengar ucapan itu, Sarah pun memakan buah Tasya yang di dapat dari rumah sakit. Saat itu Sarah tampak sangat lahap memakan buah itu, melihat hal itu Tasya meneteskan air mata. Dia benar benar tidak menyangka kalau Sarah memang belum makan.


Pada awalnya Sarah tidak sadar dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Ketika dia sudah sadar Tasya menangis, Sarah menghentikan tindakannya. Dia melihat ke arah Tasya dengan ikut bersedih.


"Bu Tasya, kenapa ibu menangis?" tanya Sarah.


"Tidak papa Sarah, semua baik baik saja. Aku hanya sedih dengan sikap Mas Zaka ke kamu, maafkan Mas Zaka," jawab Tasya dengan air mata yang memenuhi matanya.


Beberapa saat Zaka datang dengan membawa sebuah kantung plastik yang berisi makanan.


Saat itu Zaka tampak diam, dia menghampiri meja yang berada di dekat Tasya untuk mempersiapkan makanan yang di bawahnya dan di berikan kepada Sarah.


Tasya yang melihat hal itu dia tersenyum kepada Sarah, setelah itu dia meraih tangan Zaka dan memegangi tangan Zaka dengan sangat erat.


"Terimakasih ya, kamu sudah mau membeli makanan untuk Sarah," ucap Tasya dengan sedih.


Melihat hal itu Zaka mencium kening Tasya di hadapan Sarah. Sarah yang melihat hal itu dia berpura pura tidak melihatnya.


"Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan ini demi anak kita," jawab Zaka dengan senyum kecil di bibirnya lalu dia melanjutkan mencium kening Tasya.


Beberapa saat kemudian, Dokter Afridi datang ke rumah sakit. Dia tampak membawa sebuah kotak yang berusia makanan untuk Sarah dan Zaka.


"Sarah, apa kamu sudah makan?" tanya Afridi kepada Sarah.

__ADS_1


"Sudah kak, Sarah baru saja makan. Sarah di belikan makanan dari Pak Zaka," jawab Sarah dengan baik.


"Ya sudah."


"Apa yang Kakak bawah memangnya?" tanya Sarah.


"Ini makanan dari Bibi."


Setalah mengatakan hal itu Dokter Afridi menaruh kotak makanan itu di meja yang dekat dengan Tasya.


"Dokter, apa itu makanan rumahan?" tanya Tasya.


"Iya Tasya, itu masakan dari Bibi. Pembantu yang bekerja di rumah ku," jawabnya.


"Aku boleh mencicipinya?" Mendengar apa yang di katakan oleh Tasya, Zaka tampak terkejut. Dia terlihat langsung menoleh ke arah Tasya setelah melihat apa yang di katakan oleh Tasya. Dia terlihat tidak setuju dan meminta untuk Tasya menjaga dirinya sendiri, namun Tasya yang sudah rindu dengan makanan rumah, dia memaksa Zaka untuk makan makanan itu. Akhirnya, mau tidak mau Zaka pun mengizinkan Tasya untuk makan makanan itu itu dengan syarat hanya sedikit.


"Wah, masakan Bibi enak sekali." Puji Tasya setalah dirinya diizinkan Zaka untuk makan makanan rumahan itu.


Saat itu Tasya tampak sangat kagum dengan masakan yang di masak oleh pembantu Dokter Afridi. Tasya seperti jatuh cinta dengan masakan yang di masak oleh pembantu yang bekerja di rumah Dokter Afridi.


Waktu itu Tasya tampak sangat lahap memakan makanan yang di bawa oleh Afridi.


"Makasih ya kalian sudah mengizinkan saya mencicipi makanan dari Bibi, "ucap Tasya dengan tersenyum kecil di bibirnya.


"Sama sama, " jawab Afridi dengan membalas senyuman kepada Tasya.

__ADS_1


__ADS_2