Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
49. Keinginan untuk menenangkan diri


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, saat itu Tasya tampak berhenti di sebuah rumah sederhana dengan pohon yang rindang. Saat dia sudah sampai di rumah itu, Tasya turun dari mobil dan meminta supir untuk pulang. Pada awalnya supir itu ingin menolak dan ingin tetap di tempat Tasya, namun karena di saat itu dia menyadari hal itu adalah perintah dari Tasya akhirnya mau tidak mau supir itu pergi dari rumah tersebut.


Ketika supir itu sudah pergi, Tasya masuk ke dalam rumah itu dengan berjalan perlahan. Saat dia berada didepan rumah, Tasya mengetuk pintu dengan memanggil manggil ibu angkatnya.


Beberapa saat kemudian, seorang laki laki membuka pintu. Dia adalah ayah angkat dari Tasya yang sudah menganggap Tasya seperti anak kandungnya. Melihat kedatangan Tasya, tanpa memberi kabar Ibu dan ayahnya sangat terkejut. Mereka berdua bertanya tanya dengan apa yang terjadi hingga membuat Tasya pulang dengan keadaan mata yang penuh dengan air mata dan membengkak.


"Ada apa Tasya?" tanya Ayah Tasya dengan membawa Tasya masuk ke dalam rumah dengan memeluk erat.


Saat itu Tasya masih belum bisa menjelaskan kepada ayahnya tentang masalah yang di hadapannya. Dia hanya memeluk erat ayahnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Saat berada di dalam rumah, secangkir air putih di bawa oleh ibu angkat Tasya dan di berikan kepada Tasya. Dia tampak duduk di samping Tasya yang terus menangis.


"Ada apa Tasya?" tanya ibu angkat Tasya.


"Apa yang harus Tasya katakan ibu? Aku bingung ... Bingung, harus melepaskan atau mempertahankan?" jawab Tasya dengan air mata yang terus meneteskan air mata.


Mendengar jawaban dari Tasya, Ayah Tasya yang memang sangat dekat dengan Tasya. Dia memegangi salah satu tangan Tasya.


"Tasya, ada apa cerita ke Ayah, Ayah janji. Ayah anak membantu kamu sebisa Ayah," ucap Ayah Tasya dengan baik.


Mendengar apa yang di katakan ayahnya, Tasya pun terdiam beberapa saat, dia melihat ke arah ayahnya dengan tatapan yang di penuhi oleh air mata.

__ADS_1


"Papa, apa yang harus aku lakukan dengan posisi ku sekarang? Aku jujur aku tidak ingin kehilangan Mas Zaka, tapi setiap kali aku melihat Sarah dan Mas Zaka bersama hati ku seakan berkata mereka harus bersama. Di tambah ada Sarah sudah melahirkan anaknya. Hal itu membuat aku benar benar semakin bingung dengan apa yang aku rasakan!" ucap Tasya dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.


Saat itu dia bercerita dengan sesekali menyeka air matanya yang terus berderai membasahi matanya.


Mendengar apa yang di katakan oleh Tasya, Ayah Tasya hanya diam. Dia memeluk Tasya dengan erat, menyadari hal itu Tasya menangis di pelukan ayahnya.


"Aku bingung ayah!" ucap Tasya.


Belaian halus pun di lakukan boleh Ayah Tasya. Dia melakukan hal itu agar Tasya lebih tenang lagi.


Di tempat lain, tampak Zaka sedang khawatir. Dia mengendarai mobilnya dengan terus mencemaskan Tasya, saat dia sampai di depan rumah ayah mertuanya yang tidak lain adalah panti asuhan tempat Tasya dulu tinggal. Saat Zaka sudah berada di depan panti, Zaka bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri rumah Tasya.


"Mama, Tasya dimana Ma?" tanya Zaka dengan cemas kepada Ibu angkat Tasya.


"Dia ada di dalam, ayo masuk Nak!" jawab Ibu angkat Tasya. Setalah mereka masuk ke dalam rumah, Ibu angkat Tasya meminta Zaka untuk duduk di sofa ruang tamu dan berbicara dengan Tasya dan ayahnya. Ketika Zaka melihat Tasya ada di rumah orang tuannya, Zaka tampak sangat bahagia. Dia tersenyum kepada Zaka dengan raut muka yang penuh kebahagiaan.


Mendengar kalau ibu mertuanya ingin dia duduk di sofa, akhirnya Zaka pun duduk di sofa ruang tamu. Dia duduk di dekat Tasya.


"Sayang, aku minta maaf jika aku selalu berbuat jahat ke kamu. Aku sungguh sungguh minta maaf, tapi aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Kejadian di rumah sakit tadi bukan salah ku, aku juga tidak meminta Sarah untuk memegangi tangan ku!" ucap Zaka dengan mencoba meminta maaf kepada Tasya. Saat itu Tasya yang menangis di pelukan ayahnya, dengan perlahan melepaskan pelukannya dan dia melihat ke arah Zaka.


Saat itu matanya tampak di penuhi oleh air mata yang terus mengalir membasahi matanya.

__ADS_1


"Mas, kenapa Mas menjelaskan hal ini kepada ku? Aku tidak menuduh Mas bersalah, aku hanya ingin menenangkan diri ku. Aku mohon dengan Mas, tolong biarkan aku untuk tenang selama beberapa hari ini," ucap Tasya dengan air mata yang mengalir tanpa henti dan tampak kesal kepada Zaka.


Mendengar apa yang di katakan oleh Tasya, Ayah Tasya memegangi tangan Tasya dengan perlahan dan penuh dengan kasih sayang.


"Tasya, jangan seperti ini. Biarkan ayah yang jelaskan kepada Zaka apa yang kamu inginkan," sahut Ayah Tasya dengan baik.


Mendengar hal itu, Tasya pun terdiam. Dia memalingkan wajahnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.


"Zaka, dengarkan Ayah. Saat ini Tasya hanya ingin menenangkan pikirannya dari semua masalah yang kalian hadapi, ayah mohon kamu mengerti. Ayah pikir ini hanya sekitar dua atau tiga hari lagi, setelah ini ayah yakin kalau Tasya akan kembali ke kamu!" jawab Ayah Zaka.


"Zaka tahu ayah, Zaka hanya ingin tahu kenapa kamu melakukan ini? Maksudku, kenapa kamu pergi dari rumah ketika Huda datang ke rumah ?" tanya Zaka dengan air mata yang memenuhi matanya.


Tasya yang mendengar ucapan itu, dia melihat ke arah Zaka. Setalah itu dia memegangi salah satu tangan Zaka. Tampak air matanya mengalir membasahi matanya.


"Bukan itu alasan ku pergi dari rumah Mas," jawab Tasya dengan mengingat kejadian di rumah sakita yang secara tiba tiba Sarah menggandeng tangan Zaka.


Menyadari Tasya terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya, Zaka menyadari kalau Tasya kepikiran dengan kejadian di rumah sakit beberapa saat lalu.


"Ya sudah, jika memang kamu ingin menenangkan diri kamu, maka lakukan saja. Tapi aku mohon dengan kamu, tolong kamu kembali, aku akan selalu menunggu kamu datang di rumah!" ucap Zaka dengan nada rendah. Setelah mengatakan hal itu, Zaka bangun dari duduknya dan berpamitan kepada Ayah mertuanya.


Menyadari hal itu, Tasya hanya tampak sedih. Matanya memerah, dia seakan menahan sebuah kesedihan di dalam hatinya. Zaka pun pergi dari rumah setelah dirinya berpamitan dengan Ayah dan Tasya. Dia pergi dengan raut muka yang tampak sangat sedih.

__ADS_1


__ADS_2