Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
43. Sarah Dan Kakaknya


__ADS_3

Keesokan harinya, Tasya perlahan mulai sadar. Dia mulai menggerakkan tangannya perlahan dan membuka matanya. Ketika dia sudah benar benar bisa membuka matanya, dia tampak masih pucat dan lemah.


Dia melihat ke sana kemari dengan tampak kebingungan, di saat itu dia ingin minum namun tidak ada satu orang pun yang sudah bangun dari tidurnya. Melihat hal itu Tasya yang tidak ingin menganggu tidur keluarganya dengan perlahan mencoba meraih satu gelas air putih yang ada di meja di dekatnya.


Dia berusaha untuk meraih gelas itu, namun tangannya masih tidak dapat meraih gelas itu. Saat dia sudah sedikit meraih gelas itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas itu hingga membuat semua orang terkejut dan bangun dari tidurnya, tidak terkecuali Zaka yang tertidur di sampingnya.


"Sayang kamu sudah bangun," ucap Zaka ketika dia bangun dari tidurnya yang di akibatkan gelas air putih yang jatuh.


Menyadari Tasya sudah bangun, orang orang yang menunggunya di rumah sakit mendekati dirinya dengan sangat bahagia.


"Air ... Air ..." ucap Tasya dengan sangat lirih. Menyadari kalau Tasya membutuhkan air, namun air putihnya sudah tumpah. Zaka mencoba keluar dari kamar yang di tempati oleh Tasya. Dia mengangkat air minum untuk Tasya dan membantu Tasya minum.


Zaka tampak sangat bahagia melihat Tasya sudah sadar. Dia memegangi tangan Tasya dengan sangat erat sambil sesekali mencium tangan Tasya dan bersyukur kepada Tuhan atas kepulihan Tasya dari komanya.


"Tasya kamu baik baik saja kan?" tanya Ibu Zaka dengan nada rendah.


Mendengar pertanyaan itu, Tasya membalas senyuman di bibirnya, tanpa banyak bicara.


Melihat kesadaran Tasya, Zaka benar benar bahagia. Dia terus tersenyum kepada Tasya dengan sesekali mencium kening Tasya.


Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Tasya sudah bisa duduk dan mulai banyak bicara. Dia tampak lebih segar dari pertama dirinya sudah sadar, saat itu Vira dan Sarah masih belum mengetahui tentang kesadaran Tasya.


Mereka masih mengira kalau Tasya belum sadarkan diri, saat itu mereka berdua datang dengan Afridi dengan membawa makanan untuk Zaka dan keluarga yang lainnya yang di saat itu tengah menunggu kesembuhan Tasya.

__ADS_1


Ketika mereka sampai di ruangan yang di tempati oleh Tasya, mereka sangat terkejut karena Tasya sudah sadar. Melihat hal itu, Vira langsung menghampiri Tasya dan memeluk Tasya dengan sangat bahagia.


"Syukurlah Tante sudah sadar, aku sangat rindu sekali dengan Tante," ucap Vira dengan sangat tulus dan memeluk Tasya dengan sangat erat.


"Apa selama Tante tidak sadar, Om Zaka tidak mengizinkan kamu memeluk Tante? Sampai sampai kamu memeluk Tante dengan sangat erat seperti ini," jawab Tasya. Mendengar ucapan itu Vira yang memeluk Tasya dengan erat seketika langsung merenggang pelukannya dan tersenyum kepada Tasya dengan merasa tidak enak sudah memeluk dirinya dengan sangat erat.


Beberapa saat kemudian, pandangan matanya Tasya mengarah ke arah Sarah yang perutnya sudah membesar. Melihat hal itu, Zaka tampak sangat marah. Dia tampak sangat tidak dengan Sarah yang terus mendekati Tasya. Namun saat itu dia masih berusaha untuk mengontrol emosinya.


"Bagaimana kabar Bu Tasya?" tanya Sarah dengan baik kepada Tasya dengan berjalan mendekati Tasya. Saat dia berada di dekat Zaka, Sarah hanya menundukkan kepalanya dengan raut muka yang takut dengan Zaka.


Melihat hal itu, Tasya menyadari ada sesuatu antara Zaka dan Sarah.


"Ada apa Sarah?" tanya Tasya dengan baik ketika dia menyadari ada sesuatu.


Mendengar pertanyaan itu, Sarah hanya menggelengkan kepalanya. Dia berusaha untuk menutupi apa yang di lakukan Zaka kepada dirinya ketika Tasya koma.


"Kalau tidak ada apa apa, lalu kenapa kamu seperti orang ketakutan dengan Mas Zaka? " tanya Tasya dengan baik kepada Sarah. "Kemari lah Sarah, jangan takut."


Mendengar apa yang di pinta oleh Tasya, dengan perlahan Sarah melangkahkan kakinya mendekati Tasya. Ketika dia berada di dekat Tasya, Sarah tersenyum kepada Tasya. Melihat hal itu, Tasya membalas senyuman kepada Sarah. Dia meminta Sarah mendekatinya lagi, karena dia ingin merasakan anak yang di kandung oleh Sarah.


Ketika Sarah sudah berada di dekat Tasya dengan perlahan ia mengerakkan tangannya mendekati perut Sarah. Dia membelai lembut perut Sarah.


Merasakan setiap gerakan yang di lakukan oleh bayi yang di kandung Sarah, Tasya tampak sangat bahagia. Dia merasa kalau anak yang di kandung oleh Sarah menyukai dirinya.

__ADS_1


"Dia pasti akan menjadi anak yang menyayangi ibu, aku yakin itu," ucap Tasya dengan baik kepada Sarah sambil membelai perut Sarah. Sarah yang mendengar ucapan itu seketika terdiam. Dia seperti menahan sebuah kesedihan di dalam hatinya.


Saat itu Tasya tidak menyadari kesedihan itu, orang yang menyadari kesedihan Sarah adalah Afridi kakaknya.


"Emm ... Maaf Tasya, bolehkah aku bicara dengan Sarah sebentar saja?" ujar Dokter Afridi.


Mendengar hal itu, Tasya terdiam dan dengan perlahan dia menjauhkan tangannya dari perut Sarah. Menyadari hal itu, Dokter Afridi pun memegangi salah satu tangan Sarah. Setalah itu dia menarik perlahan Sarah keluar dari kamar yang di tempati oleh Tasya.


Ketika berada di luar kamarnya, Dokter Afridi melepaskan tangannya dan dia tampak sangat marah dengan Sarah.


"Kamu ragu, hah? Ragu untuk berkorban, iya?" ucap Dokter Afridi dengan tegas.


"Kenapa Kaka melakukan hal itu? Apa maksud Kakak mengatakan hal itu?" jawab Sarah seolah dia tidak mengetahui apa yang di maksud oleh Afridi.


"Kamu tidak usah berpura pura tidak tahu Sarah, aku tahu kamu menyadari dan mengetahui apa yang aku maksudkan. Dengarkan aku, lakukan ini untuk penebusan atas sebuah kesalahan yang sudah kamu lakukan. Apa kamu mau, nanti anak kamu akan mengikuti jejak kamu?" ujar Afridi dengan nada tegas kepada Sarah.


Saat itu Sarah hanya diam, dia tidak mengatakan sepatah katapun di hadapan kakaknya. Namun, air matanya memenuhi mata.


Menyadari hal itu, Dokter Afridi mendekati Sarah. Dia memegangi kedua tangan nya dengan penuh kasih sayang antara kakak dan adik.


"Kakak melakukan ini demi kebaikan kamu, kakak mohon dengan kamu. Tolong kamu pahami keinginan kakak, kakak hanya tidak ingin kalau anak kamu mendapatkan hinaan dari orang lain, cukup kamu yang menerima hal itu. Kakak mohon mengertilah," pinta Dokter Afridi dengan nada rendah dan penuh kasih sayang.


Mendengar apa yang di katakan oleh Dokter Afridi, Sarah hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, Dokter Afridi memeluk Tasya dengan sangat erat dan penuh dengan kasih sayang.

__ADS_1


"Maafkan Kakak, Kakak melakukan ini tidak untuk berbuat jahat. Kakak hanya ingin, anak kamu tidak punya pemikiran untuk .... Maafkan Kakak," ucap Dokter Afridi dengan baik.


Sarah yang mendengar hal itu dia hanya menganggukkan kepalanya.


__ADS_2