
Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Fian datang ke kantornya dengan membawa Habib ke kantor. Sesampainya di kantor dia masuk ke dalam ruangannya. Ketika dia berada di dalam ruangannya dia melihat sebuah undangan pesta. Fian yang menyadari hal itu dia mengambil undangan itu dan membaca undangan itu.
Setalah membaca undangan itu, Fian terdiam selama beberapa. Dia tampak berpikir dengan sesekali melihat ke arah undangan itu dan ke arah Huda. Dia kebingungan, harus datang ke acara itu atau tidak.
Ketika dia tangah berpikir, sebuah pesan dari seorang wanita yang bernama Sintia masuk ke ponselnya. Menyadari ponselnya berbunyi, Fian melihat dan membuka pesan dari Sintia.
"Don't Forget to come!" sebuah pesan dengan tulisan tebal yang di dapat dari Sintia membuat dirinya memutuskan untuk datang, apalagi Sintia adalah teman dari mantan kekasihnya.
Waktu berlalu begitu cepat, di sepanjang waktu Fian bekerja, Huda sedikitpun tidak berisik. Dia hanya diam dengan sesekali merengek ingin menangis. Namun Fian yang sangat cekatan dan sangat menyayangi Huda seperti anaknya sendiri. Dia pun terlihat sangat mudah untuk menenangkan Huda.
Di rumah Tasya, dengan di temani oleh ibu dan ayah mertuanya. Tasya terlihat mempersiapkan puluhan banner yang bertuliskan anak hilang dengan foto Huda. Saat itu dengan di bantu Vira, ayah Vira dan Scurity. Mereka menyebarkan banner itu dan menempelkan banner di tiang listrik dan tembok kosong.
Waktu berlalu begitu cepat, sore hari pun tiba terlihat Fian mengajak Huda pulang ke rumah. Namun sebelum dia pulang Fian tampak memeriksa keadaan Huda. Menyadari keadaan Huda baik baik saja akhirnya Fian dan Huda pun pulang ke rumah.
Tak berselang lama, Fian dan Huda sampai di depan rumah. Dia turun dari mobilnya dan mengangkat Huda keluar dari mobil dengan penuh kasih.
Saat itu Fian tidak menyadari kalau Sarah tangah mengawasi dirinya, dia sangat bersyukur ketika melihat anak laki lakinya menerima perlakuan baik dari laki laki yang tidak di kenalnya tersebut.
"Syukurlah, orang ini merawat anak ku dengan baik. Aku lihat dia juga sangat menyayangi anakku, terimakasih ya Pak, sudah baik dengan anak ku!" ucap Sarah dari kejauhan dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah Fian dan Huda yang masuk ke dalam rumah.
Waktu berlalu begitu cepat, malam hari pun tiba terlihat Fian sudah bersiap untuk pergi ke pesta. Dia Fian terlihat rapi, dengan menggunakan jas hitam dan celana berwarna senada tengah berjalan keluar dari kamarnya dengan mendorong kursi bayi yang tidak lain adalah Huda.
Beberapa saat kemudian, Ibu Fian menghampiri Fian yang sudah tampan.
__ADS_1
"Fian, apa kamu ingin mengajak Habib ke acara kamu? Apa nanti kamu tidak kerepotan?" tanya Ibu Fian dengan baik kepada Fian.
"Iya Mama, Fian yakin. Fian yakin, akan mengajak Habib ke acara Fian, Fian tidak tega jika harus meninggalkan Habib dengan Mama dan Papa. Fian justru takut kalau nanti, Fian meninggalkan Huda dengan Papa dan Mama, justru kalian yang kerepotan, " jawab Fian dengan baik.
"Oh ya sudah, kalau begitu. Kamu hati hati ya," ucap Ibu Fian lalu dia melemparkan senyuman kepada Fian dan Habib.
Beberapa saat kemudian, Fian dan Habib sampai di sebuah rumah yang mana rumah itu sudah dia hiasan dengan sangat rapi dan indah. Tampak sebuah kemewahan yang tergambar jelas di tempat itu, beberapa saat kemudian beberapa wanita dan laki laki duduk di salah satu meja. Mereka terlihat sangat bahagia dan sangat menikmati acara tersebut.
"Sorry, gue telat!" ucap Fian dengan mendorong Habib mendekati teman temannya.
Melihat secara tiba tiba Fian mendorong kereta bayi, teman temannya sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"OMG! Kapan Lo nikah? Kenapa Lo tidak undang kita kita?" ujar seorang wanita yang tidak lain adalah salah satu teman Fian. Dia berjalan perlahan mendekati bayi yang ada di kereta bayi itu. Dia adalah Sintia, wanita yang meminta Fian untuk datang ke acaranya tadi siang.
"Tunggu, kamu habis minum alkohol atau tidak?" ucap Fian. "Kalau kalian habis minum, aku mohon jangan dekati dia!."
Mendengar apa yang di katakan oleh Fian, Sintia pun menjauhi Habib dan melihat Habib dari kejauhan.
"Fian, kenapa gue lihat anak Lo sama sekali tidak mirip dengan Lo?" tanya Sintia dengan sesekali meminum bir yang ada di tangannya.
"Dia bukan anakku!" jawab Fian. Mendengar hal itu, tiba tiba Huda menangis dengan sangat kencang. Menyadari hal itu Fian menggendong Huda. Dia mencoba menenangkan Huda, namun Huda terus menangis.
"Sayang jangan menangis, maafkan Papa. Habib adalah anak Papa Fian, " ucap Fian untuk menenangkan Habib.
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan oleh Fian, Habib langsung terdiam dari tangisnya dan dia tenang di gendongan Fian.
Melihat hal itu semua teman temannya, terdiam dia benar benar tidak percaya karena Fian dapat menangkan anak itu.
"Astaga Fian, aku benar benar tidak percaya kalau kamu bisa menenangkan anak ini!" ucap Sintia.
Ketika Huda sudah tenang, Fian mengajak Huda duduk di salah satu kursi di antara teman temannya.
"Fi, bagaimana kamu bisa mendapatkan anak ini? Siapa dia sebenarnya?" tanya salah satu teman cowok nya yang bernama Amar.
"Aku akan cerita ke kalian, tapi aku mohon biarkan aku menidurkan Habib terlebih dahulu," jawab Fian.
Setalah merasa kalau Habib sudah benar benar tidur. Fian menaruh Habib di kereta bayi nya. Setalah itu dia menceritakan kepada teman temannya awal dirinya bisa bertemu dengan Habib. Dia mengatakan kepada teman temannya, kalau ibunya menaruh Habib di depan rumahnya.
"Aku menemukan dia di depan rumah ku, sebenarnya bukan menemukan. Entah apa yang harus aku katakan tantang Habibi, maksud ku ... Ada seseorang wanita, yang malam malam datang ke rumah. Dia menaruh Habib di depan rumah ku, namun saat aku mau mengejar wanita itu. Tiba tiba dia menghilang entah kemana. Itulah cerita yang sebenarnya," terang Fian kepada teman temannya.
"Sungguh tega, wanita macam apa dia itu. Tega sekali membuang anaknya ke rumah orang lain," ucap Sintia dengan sangat marah dan kesal.
"Sebenarnya aku tidak tahu tentang anak ini, satu satunya identitasnya adalah kalung berhuruf kan H dan selimut yang memiliki huruf H di salah satu sisinya!."
"Oh maka dari itu kamu memberi dia nama Habib, " sahut Amar. "Fi, Lo enggak coba untuk mencari tahu keberadaan ibu dan ayah dari anak itu. Aku takut kalau anak itu adalah anak dari curian yang kemudian di letakkan di depan rumah kamu."
"Aku sedang mencari orang tuannya, namun ....." Ucap Fian namun dia menghentikan nya dan melihat ke arah Habib dengan sedih .
__ADS_1