
"Apa apa Tasya?" Tanya Sintia dengan memegangi Sintia.
"Tidak ada, aku hanya kurang enak badan!" Jawab Tasya lalu dia pergi menuju ke mejanya.
Saat berada di meja mereka, Tasya tiba tiba bersedih setalah melihat makanan yang ada di atas meja. Dia bersedih melihat makanan itu, karena makanan itu adalah makanan kesukaan dari Zaka.
Menyadari Tasya bersedih, Sintia mendekati Tasya dan memegangi kedua lengan Tasya. Dia tampak kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Ada apa Tasya?" Tanya Sintia dengan baik.
"Makanan ini ... Makanan ini adalah makanan kesukaan suamiku, " jawab Tasya dengan air mata yang terus berderai.
"Ya bagus dong, kenapa kamu tidak menghubungi dia dan kita makan bersama di sini!" Jawab Sintia tanpa mengetahui apa yang terjadi di dalam hidup Tasya.
"Aku tidak mungkin bisa melakukan hal itu, aku tidak akan mungkin bisa," jawab Tasya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Dia sempat berhenti beberapa saat.
"Dia sudah meninggal, meninggalkan aku sendiri!" Ucap Tasya dengan histeris dan tidak bisa berkata kata lagi. Mendengar apa yang di katakan oleh Tasya, Sintia dan Amar sangat terkejut. Dia benar benar tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau suami kamu sudah meninggal. Aku sungguh sungguh minta maaf, " ucap Sintia dengan ikut sedih.
Tasya yang mendengar hal itu dia hanya diam dengan menangis di pelukan Sintia. Tiba tiba, tanpa Sintia minta, Tasya mulai bercerita kepada Sintia. Dari dia hidup bahagia dengan suaminya, lalu datanglah Sarah yang menghancurkan hidupnya.
"Pada awalnya rumah tangga ku baik baik saja, semuanya sempurna. Namun kebahagiaan itu di hancurkan oleh Sarah!. " Tasya mengatakan hal itu dengan sedih sambil mengingat kejadian kejadian sebelum sebelumnya.
Setalah mengatakan hal itu dia melanjutkan "dia berselingkuh dengan suami ku hingga memiliki anak, yang bernama Huda. Awalnya aku merasa, dengan hadirnya Huda semua akan baik baik saja. Namun hal itu tidak benar, aku justru dilema dengan rasa sakit dan cinta yang aku punya untuk Huda!."
"Jadi, maksud kamu Huda ibu bukan anak kamu dengan Zaka, melainkan anak Sarah dengan suami kamu," ucap Sintia. Mendengar apa yang di katakan oleh Sintia, Tasya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sarah, membawa pergi Huda dan entah kemana dia membawa nya," jawab Tasya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Tasya, dia hanya diam. Sintia berpikir sejenak dengan pandangan mata melihat ke arah Amar sang suami.
"Berarti Sarah yang membuang Huda ke rumah Fian, " ucap Sintia di dalam hatinya.
"Tasya kamu jangan khawatir, aku janji aku akan bantu kamu mencari Huda," ucap Sintia. Lalu, Amar jug melanjutkan tersenyum kepada Tasya.
Makan siang pun akhirnya di lakukan oleh mereka bertiga. Beberapa saat kemudian, terlihat Tasya berpamitan kepada Sintia dan Amar. Dia ingin pergi ke rumahnya.
Ketika Tasya sudah pergi, Sintia dan Amar kembali masuk ke dalam restoran. Mereka membicarakan tentang cerita yang terjadi di dalam hidup Tasya.
"Mas Amar, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Sintia.
"Lebih baik kamu coba untuk membujuk Fian lagi, aku merasa apa yang di katakan oleh Tasya adalah kebenaran," jawab Amar.
"Aku juga merasakan hal yang sama, aku akan coba menghubungi Fian, siapa tahu dia mau datang ke mari."
"Ada apa?" Tanya Tasya dengan marah.
"Fi, aku mohon dengan kamu. Dengar kan aku, ini demi kebaikan Habib!. Ada orang tua yang menunggu dirinya Fi," ucap Sintia di telepon dengan air mata yang terus berderai.
"Fi, Tasya itu baru saja kehilangan suami nya. Di waktu yang bersamaan, dia juga kehilangan Huda. Aku mohon dengan kamu tolong, kamu jangan egois. Setidaknya, jika kamu tidak ingin mengembalikan Habib, maka temui dia sekali saja," Jawab Si Tia dengan sangat sedih dan berurai air mata.
Mendengar hal itu, Fian hanya diam. Dia hanya mendengarkan apa yang di katakan oleh Sintia, mendengar apa yang di katakan oleh Sintia. Mata Fian di penuhi oleh air mata. Dia tidak bisa berkata kata atas apa yang sudah terjadi dengan Tasya.
Setalah beberapa saat mendengar cerita dari Sintia, tiba tiba Fian mematikan panggilannya dan lemas tidak berdaya di samping Huda yang saat itu tertidur pulas.
__ADS_1
"Halo, Fi. " Ucap Sintia setalah Fian menyadari panggilannya di putuskan oleh Fian.
"Pasti di putus lagi oleh Fian," ucap Amar.
Mendengar hal itu Sintia terdiam. Dia hanya menganggukkan kapalnya.
Di rumah Zaka, terlihat Sarah sudah berdiri di depan rumah. Dia seolah ingin bertemu dengan Tasya, menyadari hal itu Tasya yang baru saja sampai di rumah. Dia berubah sikap, dia terlihat sangat marah dengan Sarah.
Dia turun dari mobilnya dengan tatapan mata yang tajam melihat ke arah Sarah.
"Ngapain kamu ke sini, hah?" Tanya Tasya dengan marah kepada Sarah.
"Aku ingin meminta maaf Bu Tasya, " jawab Sarah dengan sedih.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah, Tasya hanya menghela nafas. Dia melihat ke arah Sarah dengan tatapan mata yang tajam.
"Atas dasar apa kamu meminta maaf, bukannya aku sudah bahagia menghancurkan hidupku dan membawa anak ku pergi dari ku," jawab Tasya.
Mendengar hal itu, Sarah yang saat itu diam dengan sedih, mendengar kalau Tasya menganggap a
Huda adalah anaknya, dia sangat marah dan menolak hal itu.
"Dia itu bukan anak kamu, dia bukan darah daging kamu. Dia itu adalah anak ku," ucap Sarah dengan tegas.
"Dia memang bukan darah daging ku, tapi dia ... Dia adalah hidupku, Jika kamu merebut hidup ku dari ku aku tidak akan pernah menerima hal itu!" Ucap Tasya dengan sangat tegas kepada Sarah. " Tidak papa jika kamu tidak ingin memberi tahu keberadaan Huda, tapi kamu harus ingat suatu hari nanti. Ketika Huda tahu apa yang di lakukan ibunya kepada nya, dia pasti tidak akan pernah menganggap kamu sebagai ibunya, kamu akan hidup sendiri!" Ucap Tasya dengan tegas kepada Sarah.
Sarah yang mendengar hal itu dia hanya diam, setalah itu dia meminta Tasya untuk pergi dari rumahnya. Jika dia tidak mau pergi maka dia akan mengusir Sarah dari hadapan nya.
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau Sarah pun pergi dari rumah Sarah dengan wajah yang sedih.
Ketika Sarah pergi dari rumah Zaka, sedikitpun Tasya tidak menoleh ke arah Sarah. Dia hanya diam dengan terus melihat ke arah rumah. Lalu, setalah itu dia pergi menuju ke dalam rumah dan menutup rapat pintu rumah tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Sarah.