Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
19. Di rumah dokter dan Tasya di ingatkan


__ADS_3

Keesokan harinya, terdengar suara burung berkicau. Terlihat cahaya matahari secara remang remang menyinari gorden putih yang menutupi jendela. Saat itu, Vira yang tertidur pulas dia terbangun dari tidurnya. Hal itu terjadi kerana cahaya silau yang menyinari wajahnya.


"Apakah ini sudah pagi?" Tanya Vira dengan dirinya sendiri, sambil mengumpulkan nyawanya yang masih terkumpul setengah di dalam dirinya.


Saat itu, cahaya matahari memang langsung menyinari wajahnya. Dia yang menyadari hal itu, langsung menutupi wajahnya dengan tangan.


Merasa kalau hari memang sudah pagi, Vira pun bangun dari tempat tidurnya dan membangunkan ayahnya.


"Papa, bangun Pa," ucap Vira dengan baik sambil menggoyang goyangkan tubuh Ayah Vira.


Ayah Vira yang merasakan hal itu, dia langsung terbangun dari tidurnya.


"Maaf Papa, Vira membangunkan Papa. Tapi, hari sudah pagi sekarang waktunya untuk siap siap bekerja!" Ucap Vira.


"Iya Vira, makasih sudah membangunkan ayah."


Mereka berdua pun bangun dari tidurnya dan merapikan tempat tidur yang di tempati nya, setelah tempat tidurnya rapi, Vira membangunkan Nasya dari tidurnya.


Ketika Nasya sudah bangun, mereka bertiga pun menuju ke dapur untuk mencari peralatan yang akan di pakai oleh mereka bertiga bekerja.


Saat Meraka bertiga berada di dapur, mereka bertemu dengan pembantu yang bekerja dengan Dokter Afridi.


"Bibi, di mana ya alat alat untuk bersih bersih halaman?" Tanya Ayah Vira kepada pembantu Dokter Afridi.


"Semua alat alatnya ada di gudang, coba kamu ambil di sana," jawab pembantu itu dengan baik.


Setalah mendengar jawaban itu, Ayah Vira pun mengambil sapu dan lain lainnya untuk berkerja. Ketika Ayah Vira sudah mengambil peralatan, dia berterima kasih kepada si pembantu itu.


Saat itu di meja dapur terlihat makanan sudah siap untuk di sajikan kepada Dokter Afridi. Waktu itu, terlihat beberapa jenis makanan di atas piring, melihat hal itulah Nasya dan Vira langsung kelaparan. Dia tergiur dengan aroma dan tampilan makanan itu yang sangat menarik perhatiannya. Saat itu Vira masih berusaha untuk menahan rasa laparnya, begitupula Nasya. Namun, Karena pembantu itu menyadari kalau Vira dan Nasya lapar akhirnya dia mengambil tiga buah piring.


Dia mengambilkan beberapa centong nasi dan beberapa lauk untuk Vira, Nasya dan Ayah Vira.

__ADS_1


"Ini kalian makan, Bibi tahu kalau lapar," ucap pembantu itu dengan baik.


Melihat hal itu, pada awalnya Vira dan Nasya menolak dan menyembunyikan laparnya. Dia takut jika Dokter Afridi memarahi pembantu itu, jika dirinya mengambilkan makanan untuk dirinya tanpa izin kepada dokter.


Dokter Afridi yang mendengar penolakan dari Vira, atas makanan itu. Dengan perlahan dia berjalan mendekati keluarga Vira.


"Tidak papa Vira, ambil saja makanan itu. Saya memang sudah menyuruh Bibi, mulai hari ini menyiapkan sarapan pagi lebih banyak. Karena, di sini saya tidak sendiri lagi, melainkan ada kalian bertiga. Jadi, kalian ambil saja makanan itu untuk sarapan dan setelah itu kalian bisa bekerja."


"Terimakasih Dokter," jawab Ayah Vira, setalah itu dengan perlahan dia mengambil piring itu secara bergantian.


Waktu itu, Vira dan Nasya terlihat sangat lahap. Dia seolah tidak pernah memakan makanan yang sangat lezat itu.


Saat itu, Dokter Afridi hanya memandangi mereka berdua dengan tersenyum kecil di bibirnya.


Setelah memandang beberapa saat, Dokter Afridi pun pergi ke rumah sakit untuk bekerja.


Di rumah Zaka, terlihat Natasya tengah duduk sarapan bersama dengan Zaka dan orang tua Zaka. Saat itu mereka terlihat sangat menikmati apa yang di hidangkan oleh Tasya hari itu. Namun, ketika di pertengahan sarapan. Suara ponsel berbunyi. Saat itu, terlihat ponsel Mas Zaka bergetar dan terlihat nama Sarah terpampang jelas di layar ponsel Mas Zaka.


"Mas Zaka, kenapa Sarah menghubungi kamu sepagi ini?" Tanya Tasya kepada Zaka dengan menghentikan sarapan paginya.


Saat itu Sarah memberitahu Zaka kalau hari ini adalah hari di mana ada pertemuan penting antara Zaka dengan salah satu pemimpin perusahaan besar di salah satu restoran.


"Pak Zakaria, bapak tidak lupa kan, kalau hari ini adalah hari pertemuan bapak dengan pemimpin perusahaan besar?" Ucap Sarah di telepon.


"Iya, Sarah. Kamu jangan khawatir, saya ingat dengan pertemuan itu. Saya akan segera ke kantor," jawab Zaka dengan nada rendah, setalah itu dia mematikan panggilan nya.


"Ada apa Mas?" Tanya Tasya dengan baik kepada Zaka.


"Hari ini ada pertemuan, makanya aku harus segera pergi ke kantor." Jawab Zaka dengan sedikit menekuk wajahnya. Dia tampak terlihat sedih karena, dia tidak bisa melanjutkan sarapan bersama dengan keluarganya.


"Oh, ya sudah. Kamu hati hati ya," jawab Tasya.

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, Zaka pun bangun dari duduknya dan dia menghampiri Tasya. Dia memegangi salah satu tangan Tasya untuk meminta maaf kepada Tasya atas apa yang terjadi.


"Aku minta maaf, Sayang. Aku tidak menyelesaikan sarapan kali ini," ucap Mas Zaka dengan nada rendah dan sedih.


Mendengar hal itu, Tasya hanya tersenyum lalu dengan lirih dia menjawab apa yang di ucapkan oleh Zaka.


"Tidak papa, ini kan pekerjaan kamu."


Mendengar ucapan itu, Zaka terlihat sangat bahagia. Dia tersenyum kepada Tasya dan setelah itu dia mencium kening Tasya.


Setalah melakukan hal itu, Zaka pun pergi dari rumah dan meninggalkan Tasya dan keluarganya.


Ketika Zaka sudah pergi, ibu mertua Tasya melihat Tasya dengan sangat tajam.


"Tasya, Sarah itu siapa?" Tanya Ibu mertua Tasya dengan baik dan masih menatap tajam Tasya.


"Sarah itu sekretarisnya Mas Zaka Bu," jawab Tasya dengan baik kepada ibu mertuanya.


Mendengar jawaban itu, Ibu mertua Tasya menatap Tasya dengan semakin kejam.


"Tasya, kamu itu harus hati hati dengan Sarah. Anak ibu yaitu suami kamu, dia itu tampan dan bertanggung jawab. Kamu jangan biarkan kalau Sarah, dekat dengan Zaka terus. Sesekali kamu yang dekat dengan dirinya, ibu hanya takut. Ibu takut, kalau Zaka dan Sarah ...." Ucap Ibu mertua Tasya yang menaruh rasa curiga. Namun, saat itu ucapannya di potong oleh suaminya yang duduk di sampingnya.


"Hus, jangan ngomong gitu. Zaka itu anak kandung kamu, kok bisa kamu curiga dengan anak kamu sendiri? Jangan gitu lagi, apalagi kamu ngomong di depan mantu kita. Jangan di ulang lagi, " ucap Ayah mertua Tasya dengan kesal.


"Pah, bukan maksud Mama curiga dengan Zaka. Mama hanya tidak mau, kalau masa lalu kita terulang lagi dengan Zaka. Mungkin ... Dulu Papa bisa berubah dan mencintai Mama, tapi bagaimana dengan Zaka , jika masa lalu terulang lagi?" jawab ibu mertua Tasya dengan khawatir.


Mendengar hal itu, Tasya mencoba menangkan ibunya yang terlihat khawatir.


"Mama, tenang saja. Tasya yakin, apa yang terjadi di masa lalu, tidak akan terjadi di masa kini. Tasya yakin, kalau Mas Zaka tidak akan melakukan kesalahan seperti yang di lakukan oleh Ayah." Jawab Tasya dengan tenang.


"Ibu sangat berharap apa yang kamu katakan itu benar Tasya, kalau seandainya Zaka melakukan kesalahan seperti ayahnya di masa lalu. Ibu tidak akan pernah memaafkan dia, tidak akan pernah."

__ADS_1


"Ibu jangan bicara seperti itu, apa yang ibu pikirkan, tidak akan terjadi. Tasya janji," jawab Tasya lalu dia tersenyum kepada ibunya.


Mendengar jawaban itu, Ibu mertua Tasya pun membalas senyuman Tasya.


__ADS_2