
Malam hari tiba, terlihat semua keluarga sudah tidur di kamar masing masing, namun tidak dengan Sarah yang justru tidur di sofa tanpa sebuah selimut.
Saat itu udara sangat dingin, tubuh Sarah menggigil tidak karuan. Tak berselang lama, Tasya bangun dari tidurnya di berniay untuk mengambil air minum karena saat itu dirinya sangat haus. Ketika dia sudah keluar dari kamarnya, dia masih tidak menyadari kalau Sarah masih berada di rumah Zaka. Dia mengira kalau Sarah sudah pulang ke rumahnya.
Ketika dia sudah berada di luar kamarnya, Tasya mendengar suara rintihan kedinginan di ruang tamu. Mendengar hal itu, Tasya sempat merinding dan mengira kalau suara itu adalah suara hantu. Namun karena perasaan penasarannya yang sangat luar biasa, akhirnya Tasya memberanikan dirinya untuk memeriksa suara di balik sofa.
Saat dia sudah melihat kalau rintihan itu ada Sarah dan bukannya hantu, Tasya sangat terkejut. Dia benar benar tidak percaya kalau keluarganya tega melakukan hal ini kepada Sarah yang tengah mengandung anak Mas Zaka.
"Sarah!" panggil Tasya dengan raut muka ya g sangat terkejut melihat keadaan Sarah di rumahnya yang tidak di perlukan baik dengan keluarganya.
Mendengar suara Tasya, Sarah pun terbangun dari tidurnya.
"Maafkan saya Bu, saya tinggal di rumah ini tanpa meminta izin ke ibu," jawab Sarah dengan baik.
Melihat hal itu Tasya sangat kecewa dengan sikap ibu dan suaminya, Tasya meminta Sarah untuk menunggu sebentar. Dia berniat untuk mengambil selimut untuk Sarah agar dia tidak kedinginan. Saat dia sudah mengambil selimut, Tasya memberikan selimut itu kepada Sarah dengan baik. Tasya juga meminta Sarah untuk tidur di rungan tamu.
Keesokan harinya, pagi menyambut Tasya yang saat itu memilih untuk tidur di sofa. Beberapa saat kemudian, ibu Zaka keluar dari kamarnya. Dia tidak menyadari kalau Tasya tidur di sofa sedangkan Sarah tidur di kamar tamu.
Ketika Tasya menyadari kalau Tasya tidur di sofa, dia bergegas Membangunkan Tasya, dia tampak kebingungan.
"Tasya, kenapa kamu tidur di sofa?" tanya Ibu Zaka dengan nada baik.
__ADS_1
Mendengar suara dari ibunya, Tasya pun bangun dari tidurnya dan merapikan selimutnya. Namun saat itu dia masih belum menjawab sepatah katapun kepada ibunya.
Ketika sofa sudah rapi, Tasya sudah berdiri di hadapan ibunya dengan raut muka yang sangat marah. Dia kesal dengan sikap orang tuanya yang memperlakukan Sarah dengan tidak baik.
"Mama, maaf jika Tasya melawan dengan Mama. Kenapa sih Mah? Kenapa Mama memperlakukan Sarah seperti itu? Tasya tahu Mama kesal, Mama marah. Tapi Tasya mohon jangan memperlakukan Sarah seperti ini," ucap Tasya dengan nada rendah.
"Tasya, Mama hanya ingin menjaga kamu. Mama tidak mau kalau wanita itu merusak kebahagiaan kamu," jawab Ibu Zaka dengan mata yang tiba tiba di penuhi dengan air mata.
"Mama, kebahagiaan Tasya sudah berantakan. Tasya mohon jangan pernah berbicara tentang kebahagiaan lagi," jawab Tasya dengan meneteskan air mata.
Setelah mendapatkan ucapan itu, Ibu Zaka memeluk Tasya dengan erat. Dia mencoba menenangkan Tasya yang emosinya masih belum stabil.
Melihat Sarah keluar dari kamar tamu, Zaka tampak menatap tajam Sarah. Dia tampak tidak suka dengan kehadiran Sarah di rumahnya.
Saat itu semua orang sudah berkumpul di ruang makan, namun tidak dengan Sarah yang tampak terus menjauh dari keluarga Zaka. Menyadari kalau Sarah tidak ikut makan pagi dengan keluarganya Tasya melihat ke arah Sarah. Dia menatap Sarah dengan sedih, karena tidak ada keluarganya yang mengajak dirinya makan.
"Sarah... Kamu tidak mau bergabung?" tanya Tasya dengan baik kepada Sarah. Mendengar ucapan itu, Zaka yang di kala itu tengah lahap makan, tiba tiba terhenti. Dia menatap piringannya dengan penuh emosi. Dia tampak tidak suka jika Sarah bergabung dengan keluarganya. Pada saat itu Zaka masih bisa menahan emosinya.
Mendengar ucapan itu, keluar dari Tasya, Sarah pun berjalan perlahan untuk mendekati keluarga Zaka yang sedang makan. Setalah itu dia duduk di kursi yang mana kursi itu adalah kursi yang menjadi tempat duduk Tasya.
Menyadari hal itu, Zaka pun melihat ke arah Sarah. Dia terlihat sangat marah dengan hal itu, tiba tiba dia menjatuhkan sendok dan garpunya di atas piring hingga membuat sebuah suara. Setelah itu ia terbangun dari duduk makan paginya dengan raut muka yang penuh dengan emosi.
__ADS_1
Melihat hal itu, Tasya mengajar Zaka. Dia mengikuti Zaka dengan sesekali memanggil Zaka. Saat itu Zaka menuju ke kamarnya dan akan mempersiapkan dirinya untuk bekerja, ketika Zaka berada di depan kamar. Zaka menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Tasya dengan sangat kesal.
"Apakah seperti ini cara balas dendam kamu ke aku, dengan terus mendekatkan aku dengan Sarah, iya?" ucap Zaka dengan marah.
Mendengar ucapan itu, Tasya hanya diam. Dia hanya menggelengkan kepalanya, berusaha untuk meyakinkan Zaka bukan itu tujuannya.
"Bukan itu tujuan aku Mas, tujuan ku melakukan itu karena aku ingin kamu dekat dengan anak yang di kandung Sarah!" jawab Tasya dengan tegas. Tiba tiba air matanya memenuhi mata, dia melanjutkan "aku tidak ingin hubungan kamu dengan anak kamu itu rusak karena kesalahan ibunya, hanya itu yang aku inginkan. Tapi kamu, kamu justru menuding aku melakukan balas dendam. Maafkan aku, jika setiap apa yang aku lakukan bagi kamu adalah balas dendam!."
Setalah mengatakan hal itu Tasya pergi dengan sedih dan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.
Melihat hal itu Zaka pun mengejar Tasya dia mencoba menghentikan Tasya dengan memegangi salah satu tangan Tasya dan memohon maaf atas apa yang sudah di lakukannya.
"Sayang aku mohon, jangan pergi lagi. Aku minta maaf karena sudah mengatakan hal itu ke kamu aku mohon maafkan aku, aku mengatakan hal itu karena aku tidak suka jika kamu terus mendekatkan aku dengan Sarah, " jawab Zaka dengan nada tegas. Dia meraih kedua tangan Tasya dengan perlahan, setalah itu dia memegangi salah satu tangannya dengan penuh kasih sayang.
"Aku mohon maafkan aku, aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku janji, dan kalau memang Sarah memang sedang mengandung anak ku, aku juga janji ke kamu aku akan bertanggung jawab. Tapi, aku mohon ... Tolong maafkan aku," ucap Zaka dengan nada rendah dan mata yang di penuhi oleh air mata.
Mendengar ucapan itu Tasya hanya diam. Dia tidak mengatakan sepatah katapun kepada Zaka.
"Aku mohon jangan pergi lagi, kita pulang ke rumah," ajak Zaka dengan air mata yang memenuhi matanya.
Mendengar ucapan itu, akhirnya Tasya pun menerima ajakan Zaka untuk pergi ke luar rumahnya lagi.
__ADS_1