
Waktu berlalu begitu cepat, malam hari telah tiba. Saat itu Vira tengah duduk di atas tempat tidurnya, dengan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan letih setelah bekerja di rumah Dokter Afridi.
Saat itu dia terlihat sangat bahagia, karena dia sudah memiliki tempat tinggal walaupun dia harus bekerja.
Saat itu Vira menadahkan tangan dengan menghadap ke arah langit langit rumah sakit. Matanya di penuhi dengan air mata.
"Ya Tuhan, terimakasih Engkau sudah memberi hamba dan keluarga hamba tempat tinggal. Ya Tuhan, jagalah ibu dimanapun dia berada, lindungi dia dari marabahaya yang mengintai dirinya, walaupun dia sering menyakiti aku. Aku mohon Tuhan, tolong jangan beri dia balasan yang jahat seperti dia melakukan hal kejam kepada ku. Tuhan, buatlah ibu selalu hidup dalam ke bahagia, tanpa kekurangan apapun di dalam hidup nya," ucap Vira dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
Beberapa saat kemudiaan, Nasya datang ke kamar yang di tempati nya. Dia terlihat sangat terkejut karena dia melihat Vira yang tengah duduk selonjoran di tempat tidurnya menangis dengan menadahkan tangannya.
Melihat hal itu, Nasya menghampiri Vira dia duduk di samping Vira dengan ikut sedih melihat Vira menangis.
"Kak, Kak Vira pasti rindu dengan ibu? Aku juga rindu dengan ibu!" Ucap Nasya dengan sangat polos dan tulus. Air matanya tiba tiba membanjiri mata dan pipinya.
Mendengar ucapan itu, Vira tersenyum. Dia memeluk erat Nasya yang duduk di sampingnya, saat itu mereka berdua sedang menangis bersama. Mereka merindukan Sera.
"Nasya, kamu jangan sedih. Kakak yakin, ibu pasti baik baik saja. Dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik. Kamu jangan khawatir," ucap Vira dengan memeluk Nasya dengan semakin erat.
Nasya yang mendengar hal itu dia hanya menganggukkan kepalanya. Dia membalas pelukan Vira dengan semakin erat.
Di luar rumah, Sera yang sudah depresi karena di tinggalkan oleh anak anaknya dan suaminya. Dia benar benar sudah menjadi gila dan tidak tahu arah, dia berkeliaran kesana kemari dengan mencari cari anaknya.
Malam itu, dia sudah pergi dari rumah Dokter Afridi. Dia duduk di sebuah pos kamling dengan melihat ke sana kemari seperti anak kecil.
"Nasya! Vira! Jangan pergi!. Aku mohon jangan pergi," ucap Sera dengan bersikap seperti anak anak yang tidak ingin di tinggalkan oleh teman temannya.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita dengan seorang anak yang berusia sama dengan Nasya berjalan melewati Sera. Ketika dia sudah melihat Sera di pos kamling, wanita yang bersama dengan anaknya itu sudah tampak takut untuk melewati Sera. Saat itu dia sudah menyadari kalau Sera adalah orang gila. Dengan wajah takut, wanita itu dan anaknya langsung bergegas pergi dari hadapan Sera. Namun saat itu, di saat bersamaan Sera menyadari kalau ada anak kecil yang mirip dengan Nasya.
__ADS_1
Sera yang melihat hal itu, dia mengira kalau anak itu adalah Nasya.
"Nasya!" Panggil Sera kepada anak yang di bawa oleh wanita itu. Dia langsung bergegas menghampiri wanita itu dan anaknya, di waktu yang bersamaan wanita itu dengan anaknya juga berlari menjauh dengan raut muka yang sangat ketakutan.
Merasa kalau wanita dan anak itu berhasil kabur dari hadapannya, Sera terlihat sedih. Dia hanya menundukkan kepalanya dengan mengatakan berulang kali kalau Sera sudah pergi.
*
Di rumah Tasya, makan malam sedang di lakukan oleh Tasya dan keluarganya. Mereka terlihat sangat menikmati makanan yang saat itu di hidangkan di atas meja makan.
"Mama.. Papa.. Taysa... Aku mau bicara penting dengan kalian." Ucap Zaka dengan meletakkan sendoknya di atas piring.
Mendengar ucapan itu, Tasya dan orang tuanya pun langsung terdiam. Mereka memperhatikan Zaka yang saat itu ingin berbicara.
"Iya Mas, ada apa?" Jawab Tasya dengan baik.
Mendengar ucapan itu, orang tua Zaka langsung terdiam begitu pula Tasya.
"Kapan? Dan dengan siapa? Tasya ikutkan?" Sahut Ibu Zaka.
"Besok Mah. Dan ... Dan orang yang pergi dengan aku adalah.... Sarah!." Mendengar jawaban itu, membuat Ibu Zaka sangat terkejut, tidak hanya Ibu Zaka, Tasya yang mendengar hal itu pun juga terkejut. Dia tidak bisa berkata kata.
"Tasya ikutkan?" Jawab Ibu Zaka dengan semakin tegas kepada Zaka.
"Tidak Mama, Tasya tidak ikut. Hanya aku dan Sarah yang pergi keluar kota bersama," ucap Zaka dengan merasa tidak enak mengatakan hal itu.
Mendengar apa yang katakan oleh Zaka, Ibu Zaka benar benar sangat marah.
__ADS_1
Bruuakkk....
Suara pukulan terdengar, terlihat Ibu Zaka berdiri dari duduknya dengan mantap tajam Zaka. Hal itu benar benar membuat Zaka dan yang lain lainnya terkejut.
Dia benar benar marah dengan Zaka, dia berjalan ke arah Zaka dengan emosi yang sudah tidak terkontrol.
"Apa apaan ini Zaka?" Ucap Ibu Zaka ketika dia sudah berada di dekat Zaka. Dia sangat marah dengan Zaka, lalu dengan sekuat tenaga dia menampar Zaka hingga membuat Zaka hanya bisa memalingkan wajahnya dengan memegangi pipinya yang di tampar oleh ibunya.
Melihat hal itu, Tasya semakin terkejut. Dia terbangun dari duduknya dan menghampiri Zaka yang baru saja di tampar ibunya sendiri.
"Zaka, Tasya itu istri kamu. Jika kamu ingin pergi ke luar kota atau ke luar negeri, orang yang kamu ajak itu istri kamu yaitu Tasya, bukan orang lain!."
"Mama, tenang Mah. Tasya tidak papa kalau Mas Zaka pergi dengan Sarah," jawab Tasya.
Mendengar jawaban itu, Ibu Zaka tidak semakin tenang. Dia semakin marah, bahkan kepada Tasya.
"Bodoh memang! Kamu itu memang bodoh. Mama sudah katakan berulang kali kepada kamu Tasya, jangan pernah kamu biarkan wanita lain masuk ke dalam hidup kamu. Tapi ternyata, apa yang selama ini Mama katakan ke kamu hanya kamu anggap sebagai angin." Jawab Ibu Zaka dengan semakin marah.
"Bukan seperti itu Mama, Tasya tidak pernah menganggap ucapan Mama sebagai angin, tidak pernah! Tapi sekarang Mas Zaka melakukan ini karena sebuah pekerjaan, dan aku sangat yakin kalau Mas Zaka tidak akan mungkin melakukan hal yang tidak baik," jawab Tasya dengan baik dan mata yang di penuhi oleh air mata.
"Terserah kamu, tapi yang jelas Mama sudah ingatkan kamu. Dan kamu harus ingat juga, jika kamu mengizinkan Zaka pergi dengan Sarah hari ini, jika suatu hari nanti terjadi sesuatu di antara hubungan kamu dan Zaka. Mama akan sangat amat menyesal, Mama akan selalu menyalahkan diri Mama. Kamu ingat itu, " ucap Ibu Zaka dengan tegas dan serius kepada Tasya. Setalah itu dia pergi meninggalkan Zaka dan keluarganya di ruangan itu.
Melihat kepergian ibunya Tasya semakin sedih.
"Tasya kamu jangan khawatir dengan Mama kamu, kamu urus saja suami kamu!."
Mendengar ucapan itu, Taysa menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, Ayah mertua Tasya pun pergi. Dia menyusul istrinya yang saat itu pergi ke kamar.
__ADS_1