
"Pergi!" bentak Tasya setalah dirinya sadar kalau Sarah tidak ingin memberi tahu keberadaan Huda. "Pergi dan jangan kemari lagi, tapi sebelum kamu pergi. Kamu ingat kata kata ku, aku akan menemukan Huda sebentar lagi, aku bersumpah dengan kamu!" ucap Tasya melanjutkan ucapannya sebelumnya.
Sarah yang mendengar apa yang di ucapan oleh Tasya dia hanya diam dengan tatapan mata yang tajam. Tasya yang melihat hal itu, dengan tatapan mata yang penuh kemarahan dia menarik Sarah pergi dari rumah. Sarah yang melihat hal itu dia hanya diam dengan tatapan mata yang terus melihat ke arah Tasya.
Ketika Tasya dan Sarah sudah berada di depan gerbang rumah Zaka, Tasya melemparkan Sarah keluar dari halaman rumah dengan tatapan penuh amarah.
"Pergi kamu, jangan pernah kamu kembali ke hidup ku atau keluarga ku lagi!. Jika kamu kembali, apa yang aku rasakan akan kamu rasakan!" ucap Tasya dengan sangat tegas.
Saat itu Sarah hanya diam. Dia hanya terus menatap ke arah Tasya dengan mata yang memenuhi matanya.
"Bu Tasya, saya mohon. Tolong maafkan saya, saya tahu saya salah saya minta maaf," ucap Sarah dengan derai air mata.
"Pergi!" tegas Tasya kepada Sarah.
Melihat hal itu, Afridi yang saat itu diam. Tiba tiba dia berjalan mendekati Sarah dan membantu Sarah untuk bangun dari jatuhnya.
Menyadari hal itu, Tasya hanya menatap tajam.
"Ayo bangun, kita pergi dari sini!" ucap Dokter Afridi sambil membangunkan Sarah. Setalah mereka berdua bangun, akhirnya Afridi dan Sarah pun pergi dari rumah Zaka.
Di tempat lain, terlihat Fian tengah tidur di samping Huda yang saat itu tengah tertidur pulas. Dia terlihat memandangi Huda dengan penuh kasih sayang sambil membelai lembut Huda dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Aku tidak tahu siapa kamu, dan dari mana asal kamu? Tapi kenapa? Kenapa aku bisa sangat menyayangi kamu?" tanya Fian dengan membelai lembut wajah Huda.
Malam hari pun tiba terlihat, Fian bangun dari atas tidur dan memberi bantal di samping Huda agar Huda tidak jatuh. Saat itu dia terlihat terus menerus memutar video yang memperlihatkan Sarah menaruh anaknya di depan rumah.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Fian dengan sangat kebingungan dengan terus menerus memutar video.
Tak berselang lama, Ibu Fian masuk ke dalam kamar Fian. Dia berniat untuk memeriksa anak yang di temui oleh Fian. Menyadari Fian belum tidur dan sibuk dengan kerjaannya Ibu Fian menghampiri Fian yang duduk di hadapan komputer.
"Kamu tidak tidur? Ini sudah malam Fian, " ucap Ibu Fian dengan penuh kasih sayang dan penuh dengan perhatian.
"Belum Mama, aku takut jika aku tidur nanti aku tidak tahu kalau Habib menangis!. Mama kan tahu, aku akan sulit bangun jika sudah tidur," jawab Fian dengan sangat baik.
"Ya sudah kalau itu keinginan kamu. Oh iya, apa kamu tidak ingin mencari orang tua Habib yang asli? Ibu kasihan dengan Habib dan kamu," ujar Ibu Fian.
"Aku tidak tahu, Mah. Apa yang harus aku lakukan, maksudnya ... Aku bingung, aku juga
kasihan dengan Habib, tapi ... Aku ... Aku tidak ingin kehilangan dia. Entah, apa yang terjadi dengan aku? Aku tidak bisa jauh dari Habib sekarang!" ucap Fian dengan sedih dan lirih.
Mendengar apa yang di katakan oleh Fian, Ibu Fian sangat mengetahui perasaan Fian sekarang. Dia memegangi salah satu bahu Fian dengan baik, Fian yang menyadari hal itu dia hanya diam dengan mata yang melihat ke arah ibunya.
Beberapa saat kemudian, Huda yang saat itu tertidur pulas. Dia tiba tiba menangis dengan sangat kencang, menyadari hal itu Fian bergegas menghampiri Huda dan mencoba menenangkan Huda.
__ADS_1
Ketika Fian sudah dekat dengan Huda dan dirinya menggendong Huda, tiba tiba Huda diam dan tidak menangis lagi. Dia tampak sangat dekat dengan Huda.
"Mama jujur, Mama sangat heran dengan anak ini Fian. Kalian baru mengenal, tapi dia sudah sangat dekat dengan kamu," ucap Ibu Fian dengan baik.
"Iya Mama, maka dari itu aku tidak bisa jika aku harus kehilangan Habib. Tapi, dia juga harus tahu tantang orang tuannya Mah," jawab Fian.
"Fian, kamu memang dekat dengan anak ini. Tapi kamu harus ingat, ada orang tua anak ini yang mencari dirinya," ujar Ibu Fian dengan baik.
"Iya Mama, Fian tahu."
"Ya sudah, Mama akan buatkan susu untuk Habib. Supaya kamu tidak kerepotan nanti, " ucap Ibu Fian setelah itu dia pergi ke dapur.
Tak berselang lama, Ibu Fian datang dengan membawa sebotol susu di tangannya. Setelah itu dia memberikan kepada Fian.
"Fian, setalah Habib tidur. Kamu juga harus segera tidur, jaga diri kamu juga. Mama akan segera tidur," ucap Ibu Fian setelah dia pergi dari kamar.
Pagi hari pun tiba, terlihat Huda dan Fian tidur dengan pulas. Melihat hal itu Ibu Fian yang saat itu ingin membangunkan Fian, dia terlihat sangat tidak enak. Akhirnya dia pun memutuskan untuk membiarkan Fian dan Huda untuk tidur.
Ketika ibunya sudah keluar dari kamar Fian, Fian terlihat bangun dari tidurnya. Setalah dia bangun dia mencium kening Huda hingga membuat Huda menangis, mendengar suara tangisan itu Ibu Fian yang saat itu diluar kamar tampak bergegas masuk ke dalam kamar. Dia mengira kalau Habib menangis sendiri sedangkan Fian masih tertidur.
Ketika dia sudah berada di dalam kamar Fian, dia sangat terkejut kerana melihat Fian sudah menggendong Habib dan memeluk Habib untuk menangkan dirinya. Saat itu dia melihatnya, seperti sangat mimpi karena dia melihat laki laki yang tidak pernah memiliki seorang anak sebelum bisa sangat dekat dengan anak yang sama sekali bukan darah dagingnya.
__ADS_1
Pada awalnya Fian tidak menyadari ibunya berdiri di belakangnya dengan memandang ke arahnya, ketika di sudah sadar. Ibunya tersenyum kepada Fian dan menghampiri Fian.
"Ibu sangat bahagia melihat kamu seperti ini, kamu seperti ayahnya. Dan Ibu melihat Habib juga membutuhkan kamu untuk menenangkan dirinya," ucap Ibu Fian. Fian yang menyadari hal itu dia hanya tersenyum kepada ibunya.