
Kedamaian sesaat di rasakan oleh Vira dan ayahnya, ketika Natasya sudah pergi meninggalkan rumah Vira. Setelah melihat Natasya benar benar pergi dari rumah Vira, Vira dan ayahnya masuk ke dalam rumah. Mereka mengira kalau ibunya sudah tidak marah lagi, namun saat mereka berdua sudah berada di dalam rumah raut muka Ibu Vira terlihat sangat marah.
Saat itu dia duduk di sofa ruang tamu dengan menatap tajam ke arah kedua orang itu yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Sudah puas menjelek jelekkan aku di hadapan wanita itu?" Tanya wanita jahat itu kepada Vira dan suaminya.
Mendengar ucapan itu suami dari wanita itu heran dan terkejut, dia bertanya tanya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Apa maksud kamu? Siapa yang menjelekkan kamu?" Jawab suaminya dengan baik.
Mendengar jawaban dari suaminya, Ibu Vira bangun dari duduknya. Dia pergi mendekati Vira dan suaminya yang saat itu masih berdiri di dekat pintu.
Di saat yang bersamaan, saudari dari Vira keluar dari kamar. Dia hanya diam melihat ibunya marah dengan ayah dan Vira.
"Baiklah. Baiklah, kalau Mas memang tidak menjelekkan aku di depan wanita itu. Tapi .... Tapi apa yang kamu lakukan di depan wanita itu? Apakah kamu tertarik dengan wanita itu? Atau seperti apa?" Jawab Ibu Vira.
"Diam kamu!" Bentak Ayah Vira dengan tegas dengan tangan menunjukkan ke arah istrinya. Lalu, dengan perlahan dia mendekati istrinya.
"Selama ini aku salah, aku salah membiarkan kamu bertidak seenaknya. Tapi kali ini tidak, kamu sungguh sungguh keterlaluan hari ini. Kamu menyiksa anak kamu di depan rumah, apa kamu tidak malu kelakuan kamu di lihat oleh banyak orang? " Ucap Ayah Vira melanjutkan ucapannya yang sebelumnya.
"Oh, jadi sekarang kamu membela anak itu setelah bertemu dengan wanita itu. Aku kira ... Apa yang aku katakan itu benar? Kamu suka dan tertarik dengan wanita itu."
"Sera!" Teriak laki laki di hadapan Sera yang tidak lain adalah Ibu Vira. Saat itu dia bersiap untuk menampar wanita yang ada di hadapannya. Namun, Vira menghentikan ayahnya yang ingin menampar ibunya.
__ADS_1
"Ayah!!!" Panggil Vira, seketika laki laki yang ada di hadapannya menghentikan tindakannya dan mematung dengan mata yang penuh dengan kemarahan.
Setalah itu ia menurunkan tangannya dengan perlahan dan dengan raut muka yang masih marah. Ayah Vira berbalik dan berdiri di hadapan Vira. Dia mengerakkan tangannya ke arah pipi Vira.
Ketika dia sudah memegangi kedua pipi Vira, dengan perlahan dia menundukkan tubuhnya dan duduk bertekuk lutut di hadapan Vira.
"Maafkan Ayah, Vira. Sekarang kamu pergi ke kamar kamu, Ayah ingin berbicara dengan ibu kamu," ucap Ayah Vira dengan baik kepada Vira.
"Ayah janjikan hanya berbicara dengan ibu. Ayah janjikan, kalau tidak akan menyakiti ibu?" Jawab Vira dengan polosnya membela wanita yang sudah kejam menyiksa dirinya.
Mendengar ucapan itu, Ayah Vira menganggukkan kepalanya dan berjanji kepada Vira tidak akan menyakiti ibunya. Melihat hal itu, Vira pun pergi ke kamarnya.
"Kamu lihat! Anak yang kamu siksa mati matian, anak yang kamu hajar sampai babak belur. Dia masih sayang dengan kamu, dia masih membela kamu. Lalu kenapa? Kenapa kamu tidak bisa menyayangi dia? Dia itu anak kandung kamu," ucap Ayah Vira dengan tegas kepada Sera.
"Aku mohon sama kamu Sera, stop sakiti Vira. Jangan siksa dia terus menerus. Apa kamu tidak kasihan dengan dia?" Ucap Ayah Vira melanjutkan ucapan sebelumnya.
"Jadi sekarang kamu sudah berubah?Berubah menjadi laki laki yang lebih baik, bertanggung jawab dengan keluarga, dan membela Vira. Jadi, wanita itu berhasil menghasut kamu, iya?" Jawab Sera dengan serius.
"Diam kamu!" Bentak Ayah Vira.
"Kamu yang diam!" Bentak Sera untuk membalas bentakan dari suaminya dengan tangan yang sesekali menunjuk-nunjuk suaminya.
"Di sini hanya aku yang berkuasa, tidak dengan orang lain. Jangan pernah kamu membentak aku lagi, kalau kamu berani membentak aku lagi, kamu pergi dari sini!." Ucap Sera dengan pedas hingga membuat suaminya hanya bisa diam dan menahan kemarahannya.
__ADS_1
Di sisi lain, Sera pun terlihat benar benar murka dengan apa yang di katakan oleh suaminya.
Sebenarnya, Ayah Vira memang sudah tidak tahan dengan kelakuan istrinya, dia ingin berpisah sejak lama dengan Sera namun hal itu tidak pernah terjadi. Bukan kerena Ayah Vira tidak setuju dengan perceraian itu, namun hal itu terjadi kerana tujuannya menikah dengan Sera adalah untuk mengambil harta Sera dan ketika semua harta Sera sudah di kuasainya. Dia akan pergi dengan kedua anaknya dan membuat Sera hidup menderita, merasakan penderitaan yang di rasakan oleh Vira selama ini.
Namun, semua yang selama ini dia lakukan untuk mendapatkan harta Sera, tidak ada satu pun yang berhasil. Selama ini dia hanya bisa melihat bagaimana Sera menyiksa salah satu anaknya, tanpa bisa membela Vira. Ketika Ayah Vira merasa kalau penyiksaan yang di lakukan Sera kepada Vira sangat kejam. Dia justru di bungkam dengan ancaman akan mengusir dirinya dari rumah yang di tempati saat ini.
Ayah Vira yang mendengar hal itu, dia benar benar tidak bisa berbuat banyak. Dia takut kehilangan harta yang selama ini menjadi incarannya. Demi keberhasilannya mendapatkan harta Sera, dia justru rela mengorbankan salah satu anaknya. Walaupun di dalam hatinya ada ketidakrelaan yang di rasakan oleh Ayah Vira yang terus melihat anaknya di siksa oleh Sera.
Melihat suaminya tidak berkutik, Sera pun menatap suaminya. Dia menunjukkan suaminya dengan sangat sadis.
"Kamu itu di sini hanya sebuah sampah. Semua ini ... Semua ini adalah milik ku. Rumah ini memang tidak besar, tapi rumah ibu adalah rumah ku. Aku adalah putri di rumah ini, jadi kamu jangan macam macam dengan aku," ucap Sera dengan tegas kepada suaminya.
Setalah mengatakan hal itu, Sera pun pergi menuju ke kamarnya. Saat itu saudari Vira, yang melihat hal itu dengan perlahan mendekati ayahnya setelah ibunya pergi. Dia ikut sedih dengan apa yang di katakan oleh ibunya.
"Ayah, " panggil Elsa kepada Ayah Vira.
"Elsa," jawab Ayah Vira dengan raut muka yang masih sedih dengan yang terjadi.
"Maafkan Ayah, karena Ayah tidak bisa berbuat apa apa. Ayah tidak bisa menolong kakak kamu," ucap Ayah Vira melanjutkan ucapan yang sebelumnya.
Mendengar ucapan itu, Elsa meneteskan air mata dan tanpa berpikir panjang dia memeluk ayahnya.
Sebenarnya, Elsa dan Ayah Vira sangat menyayangi Vira. Mereka ingin membantu Vira, namun setiap kali dia ingin membantu Vira berjualan atau yang lainnya. Sera mengancam kedua orang itu, dengan mengatakan kalau dirinya tidak akan memberi makan malam kepada mereka berdua.
__ADS_1
Mendengar ancam itu, akhirnya Elsa dan ayahnya pun mengorbankan Vira dan membiarkan Vira melakukan pekerjaannya sendiri.