Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Diam


__ADS_3

Pagi ini tidak seperti pagi biasanya yang selalu di penuhi dengan senyuman dan candaan dari mereka, pagi ini sepi, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring mereka.



Zila yang menampakan wajah kesal nya tidak membuka suara nya sedikit pun, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.



Mereka cuma saling melirik, membuat Rania heran dengan situasi seperti ini.



"Kenapa semua nya pada diam sih, kalian semua nya pada sakit gigi ya? Tanya Rania sambil melirik kearah mereka satu persatu.



"Ngga kok sayang, ngga sakit gigi" jawab Ara sambil tersenyum.



"Terus kenapa pada diam? Tanya Nia kembali.



"Nia sudah belum makan nya? Kalau udah kita berangkat yuk? Tanya Nathan yang tahu akan kondisi di rumah nya.



"Udah kak Nat, eh bentar susu nya belum di minum" ucap Nia lalu mengambil gelas yang berisi susu dan meminum nya hingga habis.



"Pintar nya anak papah ini, belajar yang rajin ya nak" ucap Anggar sambil mengelus rambut Nia.



"Papah, kebiasaan deh suka ngerusak rambut Nia yang sudah cantik ini" Nia pun mengomel.



"Ups, maaf papah lupa, tapi kamu masih kelihatan cantik kok, benar kan mah? Tanya Anggar sambil melirik ke arah Ara.



"Iya, masih cantik kok rambut nya ngga kusut" jawab Ara sambil tersenyum.



Zila yang sedang kesal dari semalam pun, berdiri lalu pergi dari ruang makan tanpa pamit kepada siapa pun.



Ara pun melirik ke arah Anggar, dan hendak mengejar Zila, tapi tangan Anggar menahan nya.



"Sudah biarkan saja, percuma di kasih penjelasan juga dia nya lagi emosi" ucap Anggar pelan, Ara pun kembali duduk di samping Anggar.



"Kalian memang sudah ngga sayang aku lagi" gumam Zila sambil terus melangkah.



"Kak Zila kenapa mah, lagi marahan ya sama mamah dan papah? Tanya Rania.



"Ngga sayang, kak Zila lagi pusing aja mikirin pelajaran nya soal nya kan sebentar lagi mau selesai kuliah nya" jawab Ara.



"Oh gitu ya mah, ya udah deh kalau gitu Nia berangkat dulu bareng kak Nat yang tampan ini" ucap Nia sambil mencium telapak tangan nya Ara dan Anggar.



"Kamu kok udah tahu yang tampan sih dek? Tanya Nathan.



"Kan teman-teman nya Nia sering bilang gini, eh Nia kak Nathan nya tampan deh aku mau jadi pacar nya, gitu" jawab Nia.


__ADS_1


"Terus adek jawab apa kalau teman nya bilang gitu? Tanya Anggar dengan penasaran akan obrolan anak kecil.



"Nia jawab begini pah, Nia ngga mau punya kakak ipar kamu, karena kamu cerewet" jawaban Nia membuat semua nya tertawa terpingkal-pingkal.



"Ya ampun nak, kamu ini kok bisa menjawab seperti itu" jawab Ara di sela tertawa nya.



"Udah ah, ayo kita berangkat dek, kalau dengerin curhatan kamu ngga bakalan berangkat-berangkat kita" ajak Nathan.



Mereka berdua pun berangkat ke sekolah setelah pamitan dan mencium telapak tangan ke dua orang tua nya.



"Pah, seperti nya Zila masih marah, terus mamah harus gimana? Tanya Ara.



"Sudah jangan di pikirin, biarkan semau dia, pusing papah, di bilangin ngeyel" ucap Anggar.



"Tapi pah," ucap Ara.



"Mah, dengar kan papah, Zila lagi emosi, percuma kita bicara juga, yang ada nanti malah tambah panas dan emosi.



"Sudah lah jangan di pikirin, papah berangkat dulu" ucap Anggar sambil berdiri lalu mencium kening istri nya.



Sepeninggal suami dan anak-anak nya, Ara termenung sendiri memikir kan Zila anak sambung nya.



"Mamah itu sayang kamu kak, bukan maksud mamah menghalangi kebahagiaan kamu, mbak Anya maaf kan saya kalau saya sudah membuat Zila merajuk dan marah" gumam bathin Ara.


*


*


Sambil menunggu Aksa pun Zila melihat ponsel dan membalas chat dari teman-teman nya.



"Hai sayang, maaf aku telat tadi aku bantuin ibu-ibu nyeberang jalan dulu." Aksa pun memberikan alasan, padahal dia habis ngantar pulang Reni.



Zila hanya diam dan menatap tajam kearah Aksa.



"Kamu kenapa sih yang, kok cemberut gitu" ucap Aksa sambil duduk di di depan nya.



"Kenapa semalam kamu ngga angkat telepon aku" ucap Zila dengan nada ketus.



"Maaf Yang, semalam aku ketiduran, siang nya kan aku sibuk, ada kerjaan juga di kantor nya papah" jawab Aksa dengan sejuta kebohongan nya.



"Beneran? Tanya Zila sambil menatap kearah Aksa.



"Ya benar lah Yang, ngapain aku bohongin kamu, kalau ngga percaya tanya bi Siti deh" jawab Aksa sambil menggenggam tangan nya Zila.



"Siapa bi Siti? Tanya Zila.

__ADS_1



"Pekerja di rumah ku Yang" jawab Aksa lalu mencium lembut tangan Zila.



"Ya sudah lah," ucap Zila.



"Senyum dong, kalau kamu cemberut cantik nya hilang." ucap Aksa.



"Oh ya Yang, habis ini kamu pulang atau mau jalan-jalan dulu? Tanya Aksa.



"Aku ngga mau pulang, aku lagi males pulang ke rumah" jawab Zila.



"Wah kesempatan nih" gumam bathin Aksa.



"Kenapa males pulang Yang? Aksa pura-pura bertanya, padahal lagi mau menjalankan aksi nya.



"Males aja, mamah sudah ngga sayang sama aku lagi, mereka lebih sayang adik-adik ku" jawab Zila.



"Sudah lah Yang ngga usah di pikirin, kan masih ada aku yang sangat menyayangi kamu" jawab Aksa.



"Sayang kamu ngga bakalan luntur kan? Tanya Zila.



"Sayang ku ke kamu ngga akan pernah luntur, pokok nya kamu adalah wanita satu-satu nya dalam hidup ku" jawab Aksa sambil terus mencium tangan Zila.



Zila pun merasa sangat di sayang dan di cintai oleh Aksa, Zila pun terbuai dengan segala rayuan Aksa.



"Aku mendapat kan kamu harus pelan-pelan sayang, kamu berbeda dengan wanita yang lain nya" gumam bathin Aksa.



"Kalau kamu ngga mau pulang, gimana kalau kita main ke rumah teman ku saja" ajak Aksa.



"Emang ada siapa saja di rumah teman nya? Tanya Zila.



"Ngga tahu Yang, mungkin orang tua dan adik nya ada di rumah" jawab Aksa.



Zila pun terdiam, dia berpikir antara ikut dan tidak.



"Sudah lah Yang, jangan kebanyakan mikir, mending kita kesana aja sekarang" ajak Aksa sambil berdiri.



Zila pun menuruti kemauan Aksa, Aksa pun memeluk bahu Zila sambil berjalan.



Aksa pun sambil berjalan menulis kan pesan kepada teman nya, teman nya sudah paham dengan kode dari Aksa.



"Wah, pemasukan lagi, oke bos akan aku siap kan tempat untuk mu malam ini" gumam teman nya Aksa.

__ADS_1



DIa sudah biasa menyewakan rumah kosong warisan dari kakek nya untuk Aksa melayani para wanita nya.


__ADS_2