
Pagi-pagi Ara pun terbangun lalu melihat ke arah suami nya yang ternyata sedang menatap dirinya sambil tersenyum.
"Kamu sudah bangun mas? Tanya Ara dengan suara khas bangun tidur nya.
"Aku ngga bisa tidur Yang, ingin cepat melihat hasil nya" jawab Anggar.
"Hasil apa? tanya Ara yang masih belum mengerti arah pembicaraan suami nya.
"Hasil kita semalam, aku benar-benar menikmati nya, semalam kamu sangat beda Yang, kamu benar-benar memuaskan aku" ucap Anggar sambil terus mencium pipi Ara.
Ya, semalam memang mereka melakukan penyatuan dengan Ara yang mendominasi permainan, Ara benar-benar menepati janji nya di kala makan bakso, dia benar-benar memberikan servis yang sangat amat memuaskan bagi Anggar.
"Tapi aku takut kamu dan Zila kecewa mas" ucap Ara sambil mengelus dada bidang Anggar yang tanpa ada penutup satu helai pun.
"Di coba aja dulu Yang, apapun hasil nya kita serah kan semua nya kepada yang maha pencipta.
"Kalau negatif gimana mas? Tanya Ara yang belum yakin akan hasil nya.
"Ya kita coba lagi dengan berbagai gaya, atau kita lakukan sekali lagi sebelum kamu tes? Ucap Anggar dengan senyuman jahil nya.
"Itu mah mau kamu mas" kata Ara sambil terbangun dari tidur nya dan tidak lupa Ara pun menutup tubuh nya dengan selimut.
"Ngapain di tutup sih Yang, biarkan aja ngga usah di tutup, biar aku bisa menatap indah nya tubuh kamu" ucap Anggar sambil menarik selimut dari tubuh Ara istri nya.
"Mas ih, jangan jahil deh, mending mas mandi atau bangun kan Zila, kemarin kan mas janji mau bangunin Zila pagi-pagi" kata Ara.
"Sekali aja Yang ya? Pinta Anggar.
"Mas, nanti Zila keburu bangun terus gedor-gedor pintu gimana? Aku bingung cari alasan nya" kata Ara.
"Sebentar aja Yang, masih ada waktu kok, lagian ini juga masih terlalu pagi buat bangunin Zila" kata Anggar sambil tangan nya sudah kemana-mana.
__ADS_1
Ara pun pasrah dengan kelakuan suami nya ini, entah kenapa sekarang suami nya ini ngga cukup satu kali untuk melakukan penyatuan.
Sekuat apapun Ara mempertahan kan selimut di tangan nya, Ara tetap saja kalah dengan kelakuan Anggar, apalagi tangan Anggar sudah berada di titik kenikmatan dan kelemahan nya, hingga membuat selimut yang di pegang Ara pun terjatuh ke lantai dan menampakan tubuh indah Ara yang tanpa ada penutup sehelai benang pun.
Terjadilah kembali apa yang semalam mereka lakukan, entah lah tubuh Ara bagaikan candu buat Anggar.
Pagi itu mereka kembali membuat kehangatan dan membuat keringat di tubuh mereka sampai mereka mendapat kan kenikmatan yang selalu membuat mereka melayang-layang, hingga Anggar terkulai lemas di samping Ara istri nya.
"Makasih Sayang, tubuh kamu menjadi candu buat mas, I Love U" ucap Anggar lalu mencium lembut kening Ara.
"I Love U To" jawab Ara sambil mencium bibir Anggar sebentar lalu bangun dari tidur nya dan pergi ke kamar mandi.
Anggar pun tersenyum melihat istri nya yang tanpa penghalang sehelai benang pun di tubuh nya berjalan ke kamar mandi.
"Sayang maafkan aku, aku melakukan ini di depan kamu, aku harap kamu ngga marah sama aku" gumam Anggar sambil menatap poto Anya dengan diri nya yang ada di kamar itu.
"Apa aku pindahin aja ya poto nya ke ruang tengah" gumam Anggar yang mulai merasa ngga enak karena apa yang dia lakukan di kamar itu serasa di lihatin almarhumah istri nya.
Sambil menunggu hasil nya yang membutuhkan beberapa menit, Ara pun membersihkan tubuh nya dari sisa percintaan dengan suami nya.
Anggar yang sudah membersihkan tubuh nya di kamar mandi yang lain nya dan sudah memakai baju lengkap, ia pun masuk ke kamar Zila dan membangun kan nya.
"Sayang bangun, katanya mau melihat hasil perut mamah" ucap Anggar sambil menggoyang kan pundak Zila dengan pelan.
Zila yang merasa ada yang membangunkan pun mengerjap kan matanya lalu bangun dari tidur nya.
"Iya pah, ayo kita ke kamar mamah" ajak Zila sambil mengerjap kan ke dua mata nya.
"Kamu cuci muka dulu sayang, biar agak segeran" ucap Anggar, Zila pun mencuci muka nya.
Ara yang sudah selesai dengan ritual mandi dan sudah memakai baju lengkap nya, lalu mengambil tespack di kamar mandi dengan jantung yang berdebar.
__ADS_1
Ara mengambil nya dengan kedua mata yang terpejam, Ara takut hasil nya mengecewakan suami dan anak nya.
Tespack pun sudah berada di tangan nya, Ara membuka ke dua mata nya secara perlahan dan melihat garis yang timbul di tespack yang Ara gunakan.
Seketika Ara menangis melihat hasil tespack tersebut, dia bingung harus bilang apa kepada suami dan anak nya.
Diluar kamar mandi sudah menanti Anggar dan Zila dengan perasaan yang tidak menentu.
"Mah, sudah belum? Kalau sudah keluar dong, Zila ingin melihat nya" teriak Zila.
Ara pun membuka pintu kamar mandi dengan pelan, terlihat lah wajah suami dan anak nya yang sedang menunggu hasil tespack.
"Gimana Yang? Positif apa negatif" ucap Anggar dengan antusias.
"Iya mah, gimana adik bayi nya ada apa ngga? Tanya Zila dengan wajah penasaran nya.
Ara pun keluar dengan wajah menunduk sedih bahkan air mata nya sudah menetes dan mengalir di pipi mulus nya itu.
"Mamah menangis? Jangan menangis mah, Zila ngga apa-apa kok kalau belum ada adik bayi nya, Zila akan sabar menunggu nya sampai adik bayi tumbuh di perut mamah" ucap Zila sambil memeluk pinggang Ara, karena tinggi Zila sebatas pinggang nya Ara.
"Jangan nangis Yang, aku juga akan selalu sabar menunggu hadir nya anak kita, kita akan terus berusaha agar anak kita tumbuh di rahim kamu" kata Anggar sambil memeluk Ara dan Zila.
Ara pun tersenyum melihat ke arah Anggar dan Zila yang sedang memeluk nya.
"Ini hadiah buat kalian berdua" kata Ara sambil memberikan sebuah tespack dengan garis dua yang berwarna merah.
"Yang, kamu, kamu positif" teriak Anggar lalu mencium seluruh wajah Ara.
"Nak adik bayi nya ada di dalam perut mamah, kamu akan jadi seorang kakak" teriak Anggar sambil mengangkat Zila keatas saking bahagia nya.
"beneran pah, mah, Zila mau jadi seorang kakak? Tanya Zila dengan wajah bahagia nya.
__ADS_1
Ara pun mengangguk sambil tersenyum dengan mata yang di penuhi air mata kebahagiaan.