
Ranti pun di pecat dari kantor Anggar, sedang kan Dina, atas permintaan sang istri Anggar pun memberikan nya satu kali kesempatan lagi karena Ara merasa kasihan dengan Dina yang harus membiayai sekolah adik nya, namun tidak begitu saja Anggar memberikan kesempatan itu.
Dina harus menanda tangani surat perjanjian yang isi nya, Seandainya Dina mengulangi perbuatan nya lagi, maka Dina harus siap masuk penjara.
Walaupun isi perjanjian nya mengerikan, tapi Dina senang masih di beri kesempatan untuk bekerja di kantor itu.
"Mamah, papah" teriak Zila sambil masuk dengan beberapa cemilan di tangan nya.
Susi pun mengikuti Zila dari belakang, mereka masuk setelah mengetuk pintu dan di izin kan masuk oleh Anggar.
"Sayang sudah pulang, udah beli cemilan nya? Tanya Ara.
"Sudah mah" jawab Zila lalu duduk di sofa.
"Pak, bu, ini cemilan dan kembalian nya" kata Susi sambil memberikan belanjaan beserta uang kembalian nya.
"Nak, kamu mau ambil jajanan lagi ngga? Tanya Ara sambil melihat ke arah Zila.
"Udah ah mah, Zila udah kenyang" jawab Zila sambil menghabiskan cemilan nya.
"Ya sudah Sus, kamu ambil saja ini buat kamu semua" kata Ara sambil memberikan semua belanjaan dan cemilan nya.
"Semua ini bu? Susi pun kaget dan bahagia mendapat kan makanan dan uang dari Ara dan Anggar.
"Iya, ambil saja Sus buat kamu dan yang lain nya, atau kamu bawa pulang saja" ucap Anggar.
"Makasih pak, bu, kalau ngga ada yang bisa saya kerjakan dan lakukan lagi, saya mohon undur diri kembali bekerja" Susi pun pamit dan pergi dari ruangan Anggar.
"Mas, mau ngantar aku ngga ke cafe? Kalau ngga aku minta tolong sama pak Roni buat nganterin aku" ucap Ara sambil menatap ke arah Anggar suami nya.
"Zila ikut ya mah? Tanya Zila.
"Boleh sayang, tapi Zila duduk yang manis, jangan ngerepotin papah ya? Ucap Ara sambil mengelus puncak kepala Zila.
*
*
"Kenalkan ini Lusi, penyanyi baru kita" Aldo pun mengenal kan Lusi kepada Mela dan Jo.
"Baru lagi pak? Memang nya mau ada acara besar ya pak nambah penyanyi? Tanya Jo.
"Ngga, cuma buat gantiin Ara aja di kala Ara ngga masuk" jawab Aldo yang masih menutupi jati diri Ara.
__ADS_1
"Lusi" ucap Lusi sambil menjabat tangan Jo dan Mela secara bergantian.
"Jadi ini pemain gitar nya, ah aku bakalan betah nyanyi di sini, pemain gitar nya oke begini, mudah-mudahan masih jomblo" gumam bathin Lusi sambil menatap ke arah Jo.
Dikala mereka lagi berbincang, terdengar suara yang mereka kenal.
"Malam semua" teriak Ara sambil menghampiri mereka.
Sedang kan Anggar dan Zila sudah duduk manis di sudut meja sambil menikmati minuman dan cemilan nya.
"Malam juga" jawab mereka semua serempak dan menoleh kearah suara.
"Ara? Gumam Jo dengan senyuman di bibir nya, Jo merasa senang dengan kehadiran Ara.
"Akhir nya kamu datang juga Ra, aku ngga bakalan menyia-nyiakan waktu lagi, malam ini akan aku ungkap kan perasaan aku kepadamu Ra" gumam bathin Jo.
"Udah pada siap manggung nih? Tanya Ara sambil melihat ke arah mereka, mereka pun mengangguk kan kepala nya.
"Oh ya Ra, kenal kan dia Lusi, mulai malam ini dia akan nyanyi di cafe ini" Aldo pun mengenalkan Lusi kepada Ara.
"Lusi" jawab Lusi sambil menjabat tangan Ara dan menatap nya.
"Ya sudah, kalian udah siap kan? Kalau begitu kalian mulai saja, dan kamu Ra, kamu ikut saya ke ruangan" ucap Aldo lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kalau begitu aku ke ruangan nya pak Aldo dulu ya? Ucap Ara sambil tersenyum lalu pergi mengikuti langkah Aldo.
"Yang tadi penyanyi baru bang? tanya Ara setelah duduk di ruangan Aldo'
"Iya Ra, jadi malam ini boleh dijadikan malam terakhir, tapi abang kok sedih ya Ra? Ucap Aldo.
"Jangan lebay deh bang, aku juga ngga pindah negara kok, nanti ku sempat kan waktu untuk main kesini dan bertemu dengan abang" jawab Ara dengan senyuman di bibir nya.
"Kamu ini Ra, jadi kamu mau nyanyi dulu apa langsung pulang Ra? Tanya Aldo.
"Mau nyanyi dulu sebentar bang, sebagai salam perpisahan, lagian suami dan anak ku juga ikut kesini" kata Ara.
"Mereka ikut? Sekarang dimana? Kenapa ngga kamu bawa masuk Ra? Tanya Aldo.
__ADS_1
"Mereka udah masuk kok dan sekarang lagi menikmati makanan dan nuansa cafe ini" jawab Ara.
"Ini sisa pembayaran dan bonus buat kamu" kata Aldo sambil memberikan amplop yang berisikan uang.
"Masih dapat bayaran ya bang" kata Ara sambil mengambil amplop yang di berikan Aldo.
"Ya iya lah, itu hak kamu Ra, dan pak Leonal memberikan bonus juga buat kamu" jawab Aldo.
"Kalau begitu makasih ya bang, dan bilangin ke pak Leonal makasih juga" kata Ara.
"Ya sudah bang, kalau begitu aku menemui mereka dulu ya bang? Ucap Ara sambil berdiri.
*
*
"Pah, mamah kemana ya? Kok ngga ada nyanyi, padahal Zila mau lihat mamah nyanyi" kata Ara.
"Nanti juga mamah nyanyi sayang, mungkin lagi siap-siap" jawab Anggar.
"Hai pak Anggar, anda kemana saja baru main kesini lagi? Tanya Leonal yang baru datang dan melihat Anggar.
Leonal kenal Anggar ketika dirinya menjalin kerjasama dengan pak Hardian, dan sampai sekarang masih terjalin kerja sama dan silaturahmi dengan baik.
"Biasa sedikit banyak kerjaan" jawab Anggar sambil menjabat tangan Leonal.
"Ini anak mu kan? tanya Leonal sambil melihat kearah Zila.
"Iya, dia anak ku" jawab Anggar sambil mengangguk dan tersenyum.
"Hai cantik, apa kabar? sapa Leoanl.
"Hai om ganteng, kabar Zila baik kok om" jawab Zila, Leonal pun tersenyum mendengar jawaban Zila.
"Oh ya pak Anggar, saya dengar dari Aldo katanya anda sudah menikah dengan Sahara penyanyi terbaik saya" kata Leonal.
"Iya pak, tapi belum pada ada yang tahu, karena kita juga belum mengadakan resepsi" jawab Anggar.
"Pantas saja, saya tidak menerima undangan nya" kata Leonal sambil tertawa.
"Seandainya Sahara menikah nya bukan dengan pak Anggar, ngga bakalan saya izin kan untuk keluar secepat nya, karena menurut saya Sahara ini penyanyi terbaik saya dan asal bapak tahu banyak sekali yang ingin mendapat kan Sahara untuk tampil di cafe mereka, tapi pendirian Sahara kuat walaupun dia di iming-imingi bayaran yang lebih tinggi dari cafe ini" ucap Leonal.
__ADS_1
Anggar menyungging kan senyuman nya, dia merasa bangga dengan istri nya.