
Sepulang nya dari dokter mereka bertiga bahagia sekali, di perjalanan mereka tak henti-henti nya selalu tersenyum, Zila sudah ngga sabar untuk segera melihat adik nya.
"Mah kapan adik bayi nya keluar? Tanya Zila yang duduk di belakang.
"Masih lama Sayang, kan adik bayi nya baru satu bulan, sedangkan adik bayi nya lahir ke dunia itu kalau sudah sembilan bulan di perut mamah" jawab Ara sambil melihat ke arah belakang.
"Berarti delapan bulan lagi ya mah? Tanya Zila sambil berhitung.
"Iya sayang, kakak yang sabar ya nunggu adik nya hadir" ucap Ara dengan suara anak kecil, Zila pun tertawa mendengar Ara bicara seperti anak kecil.
"Makanya mulai sekarang ZIla jangan di gendong sama mamah ya? Nanti adik bayi nya ke tekan" ucap Anggar sambil fokus mengemudi.
"Iya pah, Zila ngga bakalan minta di gendong sama mamah lagi" Jawab Zila.
Anggar dan Ara pun tersenyum penuh dengan kebahagiaan, mereka pun berjanji kalau nanti nya tidak akan membeda-beda kan kasih sayang diantara anak-anak mereka.
*
*
Tiga bulan berlalu, kesehatan bu Malika berkembang pesat dari prediksi dokter, Waktu itu dokter mengatakan kalau bu Malika harus menjalani pengobatan paling lama enam bulan untuk benar-benar kembali pulih, tapi dengan adanya sahabat yang selalu menemani dan memberi support, tidak lupa anak, menantu dan cucu nya yang selalu memberikan dukungan di tambah ada seseorang yang dulu ia cintai selalu ada di samping nya membuat dia cepat untuk kembali fresh dan pulih seratus persen.
Sampai detik ini Ara, Anggar dan Zila belum memberitahukan tentang kehamilan nya, karena mereka ingin memberikan surprise untuk orang tua nya.
Kini pak Hardian dan bu Carlota sedang berada di ruangan nya bu Malika bersama dokter Rendra.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Masih ada keluhan nyeri di dada atau sesak ngga? Tanya dokter Rendra.
"Alhamdulilah udah ngga, dan badan pun lebih segar dan enteng" jawab bu Malika sambil tersenyum.
"Alhamdulilah" ucap pak Hardian dan bu Carlota bersamaan.
"Berarti kalau kita melakukan perjalanan ke Indonesia minggu depan sudah bisa dok? Tanya bu Carlota.
__ADS_1
"Tentu bisa, dan hari ini sudah boleh keluar dari sini" jawab dokter Rendra dengan senyum bahagia nya, tapi di dalam hati nya ada ketidak relaan bu Malika untuk keluar dari rumah sakit ini.
Selama bu Malika di rawat di rumah sakit ini membuat dokter Rendra lebih semangat bekerja dan tampilan nya pun lebih fresh di mata para suster dan dokter lain nya.
"Benarkah? Kalau begitu selesaikan semua pembayaran pah, biar kita cepat keluar dari sini, kita istirahat di hotel satu minggu, lalu kita pulang ke Indonesia" ucap bu Carlota.
"Semua pembayaran sudah lunas bu, sekarang ibu sudah bisa keluar dari rumah sakit ini" ucap suster yang membuka selang infusan dan membereskan semua alat yang sudah di gunakan oleh bu Malika.
"Sudah lunas? Siapa yang bayarin sus? Tanya bu Malika kaget.
"Dokter Rendra bu" bisik suster.
Bu Malika pun menatap dokter Rendra dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dia ngga menyangka kalau Rendra akan melakukan itu semua, padahal dulu dia yang meninggalkan nya dengan menikah dengan pilihan orang tua nya.
"Ren? benarkah kamu yang membayar semua nya? Tanya bu Malika sambil menatap ke arah dokter Rendra.
"Pah, seperti nya dokter Rendra masih menyimpan rasa sama Malika" bisik bu Carlota pada suami nya.
"Kita satukan saja mah, biar Malika ada pendamping nya" jawab pak Hardian sambil berbisik juga.
"Serahkan semua nya kepada mamah pah" jawab bu Carlota, dan membuat pak Hardian tersenyum, karena istri nya ini selalu semangat kalau untuk membuat orang bersatu.
"Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu, soalnya ada jadwal pemeriksaan ke ruangan lain nya, sehat selalu ya Ka? Jaga pola makan dan jangan banyak pikiran" ucap dokter Rendra.
Sungguh hati mereka berdua merasakan kesedihan kembali, karena selama tiga bulan selalu bersama walaupun hanya di waktu luang dan waktu pemeriksaan saja mereka bertemu, tapi rasa sayang dan cinta mereka telah tumbuh kembali di hati mereka masing-masing.
"Iya Ren, makasih untuk semuanya, kamu juga selalu jaga kesehatan ya" jawab bu Malika dengan wajah sendu nya.
"Kalau begitu aku pamit mau ke ruangan lain nya" ucap dokter Rendra lalu pergi keluar setelah menjabat tangan semua orang yang berada dalam ruangan dengan hati yang teramat sedih.
__ADS_1
"Aku keluar sebentar ya Ka? Mas tunggu di sofa aja dulu, saya titip sebentar ya sus" teriak bu Carlota kepda suster.
"Iya bu" jawab suster sambil membereskan semua nya.
Bu Carlota pun segera keluar setelah dapat izin dari bu Malika dan suami nya.
Bu Carlota berlari ke ruangan dokter Rendra, dia langsung membuka pintu setelah dia mengetuk nya terlebih dahulu.
"Carlota? Gumam dokter Rendra sambil mengusap mata nya.
"Kamu nangis Ren? Tanya bu Carlota sambil menatap mata Rendra yang memerah.
"Siapa yang nangis, saya hanya kelilipan kok" jawab dokter Rendra berbohong.
"Kamu jangan bohongi aku Ren, aku tahu kamu sedih kan mau berpisah lagi dengan Malika? Tanya bu Carlota.
Dokter Rendra hanya diam dan menunduk kan kepala nya, dokter Rendra bingung harus apa.
Bu Carlota pun meneruskan bicara nya, "Aku tahu diantara kalian masih ada rasa sayang dan rasa ingin memiliki, jadi aku sarankan kamu kejar dia, kamu dapatkan kembali dia, aku yakin dia juga masih menyimpan rasa sama kamu" ucap bu Carlota sambil menatap ke arah dokter Rendra.
"Aku ngga yakin Ta? Kita sudah puluhan tahun berpisah, aku ngga yakin kalau dia masih menyimpan rasa itu untukku" jawab dokter Rendra..
"Kamu jangan menyerah sebelum berperang, nanti malam kamu datang saja ke hotel xxxx kamar 502, di kamar itu lah Malika istirahat, kamu bisa memanfaat kan waktu seminggu ini untuk mendekati dan meyakinkan dia sebelum kita pulang ke Indonesia" ucap bu Carlota.
Dokter Rendra pun mendengar dan mencerna semua kata-kata dari bu Carlota.
"Pikirkan dan Ingat semua perkataan ku, kamu jangan sia-sia kan kesempatan ini, kesempatan tidak datang dua kali, pokok nya aku akan selalu mendukung kalian berdua" ucap bu Carlota lalu pergi meninggalkan dokter Rendra sendirian.
Dokter Rendra memang sudah selesai dengan pemeriksaan kepada semua pasien nya, dia hanya berbohong karena dia ngga rela dan sedih untuk berpisah kembali dengan Malika,
__ADS_1