
Acara pun selesai, mereka pun satu per satu meninggalkan sekolahan.
Kini keluarga pak Hardian sudah berada di halaman sekolah dan menghampiri mobil nya masing-masing.
"Kita makan siang di cafe biasa ya nak? Sekalian merayakan kelulusan Zila dan mau masuk nya Zila ke sekolah dasar" ajak Pak Hardian lalu masuk ke dalam mobil nya, di ikuti bu Carlota dan bu Malika.
"Iya pah" jawab Anggar.
"Bu, bisa kita bicara sebentar? Teriak bu Ratih kepada Ara.
Ara pun melihat ke bu Ratuh lalu melirik ke arah Anggar dan Zila.
"Sebentar ya mas aku menemui guru nya Zila dulu sebentar" ucap Ara lalu menghampiri bu Ratih setelah mendapat anggukan dari Anggar.
"Iya bu, kenapa? Apa saya ada membuat kesalahan sehingga ibu memanggil saya? Tanya Ara dengan sopan.
Ara tahu guru ini yang selalu menatap sinis kepada diri nya tapi dia ngga mau memperlihat kan kalau dia kesal kepada nya.
"Bu, tolong maaf kan semua sikap saya kepada ibu, saya ngga tahu kalau ibu adalah istri baru nya pak Anggar" ucap bu Ratih sambil menunduk kan kepala nya.
"Ibu minta maaf kepada saya karena ibu sudah tahu kalau saya ini istri nya pak Anggar? Seandai nya saya bukan istri nya pak Anggar, apa ibu akan meminta maaf? saya rasa tidak" jawab Ara, bu Ratih pun terdiam dan menunduk.
"Saya kasih tahu ya bu, saya bukan mau mengajari ibu yang berpropesi sebagai guru, tapi ibu harus bisa menjaga sikap ibu pada siapa pun bahkan pada seorang tukang sapu sekalipun dan kalau masih bisa ibu lakuin jangan suka mengandal kan orang lain, jaga atitude dan jaga nama baik ibu dan para guru lain nya, karena dimata tuhan kita sama" ucap Ara.
Ara kesal karena dia tadi melihat kalau bu Ratih memarahi tukang bersih-bersih di sekolah itu hanya karena ada sampah plastik yang tergeletak di lantai.
"Dan permohonan maaf ibu, saya sudah memaafkan nya, tapi jangan diulang lagi ya bu? Ucap Ara lalu membalikan tubuh nya.
"Terimakasih bu" ucap bu Ratih dengan persaan malu nya, dia merasa tertampar dengan kata-kata yang Ara ucap kan.
Ara pun melangkah menghampiri mobil suami nya lalu masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ada apa Yang? Tanya Anggar sambil melajukan mobil nya dengan perlahan.
"Ngga ada apa-apa mas" jawab Ara sambil tersenyum, dia ngga mau sampai Zila mendengar semua nya.
Anggar pun diam dan dia paham kenapa istri nya ngga mau bercerita.
*
*
"Mereka kok lama sih pah, perasaan tadi bareng deh naik mobil nya" kata bu Carlota sambil melihat ke arah luar cafe.
"Macet mungkin mah? Atau ada yang di beli dulu sama mereka" jawab pak Hardian.
"Eh, itu mereka datang" kata bu Malika sambil menunjuk kearah mereka yang sedang berjalan menghampiri nya.
"Kenapa kalian lama sekali sampai nya? Tanya bu Carlota.
Anggar dan Ara yang mau memberikan alasan pun menutup kembali mulut nya ketika Zila yang mendahului menjawab pertanyaan bu Carlota.
"Tadi mamah bicara dulu sama bu Ratih omah, makanya kita terlambat" jawab Zila.
"Ngga ada apa-apa mah, aku cuma bilang terima kasih aja ke dia karena selama ini sudah mendidik Zila dengan baik" Ara pun terpaksa berbohong karena dia ngga mau semua orang mengetahui kelakuan bu Ratih yang nanti nya akan membuat bu Ratih di pecat dari sekolahan, karena pak Hardian mertua nya pasti ngga bakal tinggal diam.
"Ya sudah kalian pesan makanan sana" ucap pak Hardian, mereka pun memesan berbagai makanan yang mereka sukai.
"Nak, besok papah sama mamah mau membawa bu Malika ke Luar Negeri, kami mau membawa nya untuk berobat di sana" kata pak Hardian.
"Besok pah? Anggar pun kaget karena Anggar mengira satu mingguan lagi mereka berangkat.
"Iya nak, dan kami pun sudah membuat jadwal untuk bertemu dokter nya langsung di sana" ucap pak Hardian.
"Maafkan kami ya nak, resepsi kalian harus menunggu kami pulang dari Luar Negeri dulu" kata bu Malika.
"Ngga apa-apa bu, lagian aku juga ngga terlalu berharap untuk semua itu" jawab Ara.
__ADS_1
"Omah, opah dan uti mau pergi ke Luar Negeri? Berarti Zila di rumah ngga ada siapa-siapa dong" rengek Zila.
"Kan ada mamah sama papah sayang" jawab bu Carlota.
"Mamah dan papah sibuk bekerja" jawab Zila sambil mengerucutkan bibir nya.
"Sayang, mamah janji, mamah akan berhenti bekerja, tapi tunggu sebentar lagi ya nak? Soal nya atasan mamah masih mencari pengganti mamah nya dulu, Zila do\*a kan saja mereka secepat nya mendapat kan pengganti mamah, biar mamah bisa selalu sama Zila di rumah" jawab Ara dengan lembut.
"Tapi janji ya mah" kata Zila sambil menatap wajah Ara.
"Iya sayang, mamah janji" jawab Ara sambil tersenyum dan mengulurkan jari kelingking nya, Zila pun mengaitkan jari kelingking nya ke jari kelingking nya Ara.
"Tenang sayang, nanti papah akan menghapus kontrak yang papah berikan sama mamah, biar mamah diam di rumah saja" kata Anggar.
"Tapi mas? Rengek Ara, karena Ara ngga mau dianggap wanita yang memanfaat kan Anggar oleh rekan kerja nya sebelum mereka mengetahui kalau dirinya adalah istri Anggar atasan mereka.
"benar nak, sudah cukup kamu jangan bekerja keras lagi, kamu sudah punya Anggar yang bertanggung jawab untuk hidup kamu.
Ara pun pasrah dan terdiam, karena keputausan Anggar pasti susah untuk dia tolak.
"Terserah mas saja, tapi izinkan aku untuk kerja seminggu lagi ya mas? Aku mau nya keluar dengan baik-baik, aku ngga mau mereka menganggapku tidak bertanggung jawab" kata Ara.
"Oke baik seminggu saja ya" jawab Anggar.
*
*
Setelah makanan habis mereka pun berencana untuk pergi ke makam nya Anya, dan Ara pun izin sama bang Aldo untuk tidak masuk dulu malam ini, karena Ara mau berkumpul bersama keluarga nya sebelum mereka berangkat besok pagi.
Anggar pun menggandeng mesra Ara sambil berjalan, sedangkan Zila menggenggam tangan Ara di sebelah nya, mereka kelihatan sangat bahagia sekali.
Bu hani yang memang memanfaat kan hari libur nya untuk jalan-jalan bareng suami dan anak nya pun tidak sengaja melihat Ara yang di gandeng mesra oleh Anggar.
"Itu kan Ara? Kok mesra banget sama pak Anggar? Apa benar ya semua yang di katakan Dina? Besok aku tanyain saja langsung sama Ara biar enak dan jelas" gumam bathin bu Hani sambil terus menatap ke arah Anggar, Ara dan Zila.
__ADS_1