
"Mari saya bantu nona" ucap Lastri sambil menarik tangan Leni agar menjauh dari pangkuan Anggar.
Leni pun berdiri sambil mendengus kesal kepada Lastri.
"Jangan sok baik kamu" bisik Leni.
"Makasih" jawab Leni yang ingin kelihatan baik di depan Anggar.
"Ketahuan kamu, kalau kamu cuma pura-pura terjatuh, dan pura-pura baik di depan pak Anggar" gumam bathin Lastri dengan sedikit tersenyum.
"Kamu ngga apa-apa nak? Kaki kamu sakit ngga? Tanya pak Dika yang sama-sama memainkan sandiwara nya.
"Ngga apa-apa pak, selama ada pak Anggar di samping Leni, Leni akan merasa lebih baik" jawab leni sambil tersenyum.
"Maaf bukan nya nona ingin ke toilet? Mari saya akan mengantar anda" ucap Lastri.
"Terima kasih" jawab Leni lalu berdiri dan pura-pura berjalan dengan sedikit sakit di kaki nya.
"Maaf kan anak saya tadi pak Anggar, dia memang suka ceroboh dalam melakukan hal apa pun" ucap pak Dika.
"Ngga apa-apa pak, kan tidak di sengaja, tapi kalau seandainya itu di sengaja, maka saya tidak akan segan-segan untuk membatalkan kerja sama kita ini" jawab Anggar dengan tatapan tajam nya.
"Mampus aku, Leni harus di kasih tahu ini" gumam bathin pak Dika.
"Kamu jangan sok belain bos mu itu ya, kamu kan cuma sekertaris nya, apa kamu menyukai pak Anggar" ucap Lebih sambil mendorong Lisna.
"Ternyata dugaan saya benar, kamu ngga lebih dari wanita yang memanfaatkan keadaan, atau mungkin kamu dan ayah mu itu sudah merencanakan semua ini," jawab Lastri sambil menyimpan kedua tangan di dada nya
"Jangan sok tahu kamu, kalau kamu ingin bersaing sama saya, ayo siapa takut, meskipun kamu sekertaris nya pak Anggar, saya tidak takut" ucap Leni.
"Lihat saja nanti, pak Anggar akan milih siapa" jawab Lastri sambil berlalu dari hadapan Leni.
Lastri sengaja tidak mengatakan kalau Anggar sudah mempunyai istri, karena Lastri ingin tahu sampai dimana dia melakukan trik licik nya itu.
"Breng sek kamu, dasar sekertaris belagu, lihat saja nanti" gumam Leni lalu kembali ke meja mereka.
__ADS_1
"Anak saya mana nona? Tanya pak Dika yang melihat Lastri kembali dari toilet hanya seorang diri.
"Oh Nona Leni masih di toilet tuan, dia menyuruh saya kembali duluan" jawab Lastri sambil duduk.
"Jangan anggap saya bodoh tuan, saya akan melindungi pak Anggar dari otak licik kalian berdua" gumam bathin Lastri sambil tersenyum penuh arti.
"Kenapa yah, nyari aku ya? teriak Leni yang sudah berada di belakang pak Dika.
"Ngga apa-apa, ayah cuma khawatir saja" jawab pak Dika.
"Oke, kalau begitu saya permisi dulu nanti kita jadwalkan pertemuan kita kembali" ucap pak Dika sambil mengulurkan tangan nya.
"Oh ya pak, boleh saya minta no ponsel nya? Biar nanti kita mudah untuk membicarakan lagi masalah pekerjaan kita" ucap Leni.
"Lastri kasih dia no ponsel nya" ucap Anggar.
Lastri yang paham pun langsung memberikan no ponsel kantor.
Anggar tidak pernah memberikan no ponsel pribadi nya pada siapa pun, hanya sekertaris nya saja yang ia berikan selain keluarga dan para sahabat nya.
Anggar pun pergi meninggalkan cafe tersebut di ikuti oleh Lastri.
"Len, seperti nya pak Anggar ini susah untuk di dapatkan, jadi kamu berhenti untuk mengejar nya, kalau tidak nanti imbas nya sama perusahaan ayah" ucap pak Dika serius.
"Tapi aku terlanjur menyukai nya yah, dia adalah tipe yang aku ingin kan, bagaimana pun cara nya ayah harus membantu aku supaya mendapat kan nya" jawab Leni.
Leni ini anak perempuan yang sangat dia sayang, makanya apapun yang di inginkan Leni, pak Dika selalu mengabulkan nya.
"Tapi Sayang, pak Anggar ini susah untuk di takluk kan, ayah ngga bisa janji" ucap pak Dika.
"Baik, kalau ayah ngga mau bantu aku untuk mendapatkan pak Anggar, biar aku yang bergerak sendirian, dan ayah lihat saja nanti, Pak Anggar akan menjadi milik ku" ucap Leni.
Pak Dika pun hanya bisa diam sambil menggelengkan kepalanya, dia ngga tahu harus bagaimana lagi menghadapi sifat nya Leni.
Leni memang di manja semenjak kecil, jadi seperti ini lah sekarang Leni, keras kepala, egois, dan semua keinginan nya harus di wujudkan nya.
__ADS_1
*
*
"Lastri kamu kasih no siapa tadi? tanya Anggar, mereka kini sudah berada di dalam mobil dengan pak Roni yang mengemudi.
"Seperti biasa pak, saya kasih dia no kantor" jawab Lastri.
"Bagus, pokok nya siapapun yang meminta no pribadi saya, kamu jangan kasih" ucap Anggar.
"Baik pak, saya mengerti, oh ya pak tapi maaf sebelum nya, saya kira bapak harus hati-hati dengan Leni, soal nya saya melihat kalau dia punya maksud tertentu kepada bapak" ucap Lastri.
"Kamu juga menyadari nya ya? Saya pun tadi tidak nyaman ada dia, tapi saya harus profesional, makasih kamu telah mengingat kan saya, tapi bantu saya juga buat menghadapi mereka" ucap Anggar.
"Tentu saja pak saya akan membantu bapak, saya ngga mau ada wanita lain yang merusak keluarga bapak, karena saya benci sama yang namanya pelakor" jawab Lastri dengan muka yang menunjuk kan kemarahan nya.
"Seperti nya kamu marah sekali sama yang suka menghancurkan keluarga orang lain" kata Anggar.
"Ya saya sangat membenci nya, karena dulu ayah saya pergi meninggalkan ibu saya hanya demi seorang wanita penggoda" jawab Lastri.
"Jadi sekarang kalian ngga ada sosok ayah dong di rumah kalian? Tanya Anggar.
"Ngga ada pak, makanya saya lah yang menjadi tulang punggung di keluarga saya, maka dari itu saya ngga mau membuat kesalahan dalam pekerjaan saya" jawab Lastri.
"Bagus, tingkat kan terus kinerja kerja kamu, dan buktikan kalau kamu yang terbaik, kalau dalam setahun kinerja kamu baik bahkan lebih baik, saya janji akan memberikan sebuah mobil untuk kamu" jawab Anggar.
"makasih pak, insya Allah saya akan lebih baik lagi" jawab Lastri.
Anggar pun tersenyum mendengar jawaban Lastri, lalu kembali fokus sama ponsel nya.
"Wah aku akan di kasih mobil sama pak Anggar, baik pak, saya janji sama diri saya sendiri, kalau saya akan lebih baik lagi dari sekarang" gumam Lastri sambil tersenyum.
"Pak, nona Leni chat ke ponsel perusahaan" ucap Lastri.
"Mau apa dia? Tanya Anggar.
"Maaf pak, bapak baca saja sendiri" ucap Lastri sambil memberikan ponsel nya kepada Anggar.
Anggar pun membaca pesan yang di kirim Lani, "Hati-hati di jalan ya pak Anggar tampan"
__ADS_1
"Hapus saja pesan nya" ucap Anggar sambil memberikan kembali ponsel nya.