
Siang ini Zila tidak ada kelas, seharian ini Zila ngga kemana-mana, dia berdiam diri di dalam kamar saja.
Sikap Zila belum seratus persen baik lagi sama Ara ibu nya, dia masih menyimpan rasa kesal.
Zila pun menghubungi Aksa dari pagi sampai saat ini, tapi chat nya ngga di baca, telepon nya juga ngga di angkat.
"Kamu kemana sih Sa" gumam Zila sambil terus menatap ponsel nya.
Zila pun menyimpan ponsel di samping nya, lalu dia membayangkan apa yang telah Aksa lakukan pada diri nya, refleks tangan Zila menyentuh bibir nya
"Apa yang sudah aku lakukan, andai papah tahu, apa aku kan di usir dari rumah ini? Gumam Zila.
Selagi Zila lagi berkecamuk dengan segala pemikiran nya, tiba-tiba suara ponsel nya berdering, Zila pun langsung menerima panggilan tanpa melihat siapa yang menghubungi diri nya.
"Halo Aksa, kamu kemana aja sih dari tadi aku telpon ngga diangkat, di chat ngga di bales, sebenar nya kamu lagi dimana sih Sa? Tanya Zila tanpa basa basi.
"Zil, aku kak Damar bukan Aksa" jawab suara seseorang yang ternyata itu adalah Damar.
"Oh kakak, aku kira Aksa, maaf ya kak" ucap Zila.
"Ngga apa-apa Zil, kamu lagi dimana sekarang? Tanya Damar.
"Aku lagi di rumah kak, ada apa? Zila pun balik bertanya pada Damar.
"Aku ingin kamu melihat kelakuan Aksa yang sebenar nya" ucap Damar.
"Maksud kakak? Zila masih belum percaya dengan segala omongan Damar.
"Lihat saja nanti, kan kakak sudah bilang, kakak ngga bakalan cerita, tapi kakak akan membuat mu melihat dengan mata kamu sendiri, biar kamu percaya dan membuka mata hati kamu yang sudah tertutup oleh rayuan Aksa" ucap Damar.
"Kakak ada di depan rumah kamu, kalau kamu mau bukti nyata, kamu ikut kakak sekarang juga" ucap Damar.
Damar memang sengaja langsung pergi ke rumah Zila begitu Aksa masuk ke rumah nya dengan seorang wanita, agar bisa langsung membawa Zila memergoki kelakuan Aksa.
__ADS_1
"Kakak udah ada di depan rumah ku? Tanya Zila memastikan.
"Iya aku ada di depan gerbang rumah kamu, kalau kamu mau bukti tentang Aksa, cepetan kita pergi sekarang" ucap Damar sambil menatap rumah besar Ara di depan nya..
"Oke, aku turun sekarang, aku matikan telepon nya" ucap Ara sambil bangun dari rebahan nya, lalu dia mengambil tas selempang yang biasa dia pakai kalau lagi jalan, dan sedikit merapihkan riasan dan rambut nya.
Zila turun ke bawah sedikit berlari, dia melihat Ara sedang duduk di ruang keluarga, tapi Zila menghiraukan nya.
"Nak, kamu mau kemana? Teriak Ara sambil melihat ke arah Zila yang sedikit berlari keluar.
Zila terus saja berlari seolah-olah dia tidak mendengar teriakan Ara, ibu nya.
"Mau kemana dia? Gumam Ara sambil berdiri lalu melangkah keluar untuk melihat Zila pergi dengan siapa.
"Kak Damar" teriak Zila sambil menghampiri Damar dengan sedikit mengatur nafas nya.
"Kenapa kamu berlari? Capek kan? memang aku nyuruh kamu cepetan, tapi tidak berlari juga Zil." ucap Damar sambil memberikan helm.
"Ya sudah ayo naik, takut sudah selesai" ajak Damar.
"Selesai apa kak? Tanya Zila sambil duduk di jok belakang motor Damar.
"Nanti juga kamu tahu sendiri Zil." jawab Damar sambil melajukan motor nya dengan sedikit kencang.
"Kamu mau kemana kak? Siapa laki-laki yang bersama Zila." gumam bathin Ara sambil menatap ke arah Zila yang sudah menghilang.
"Mamah harus gimana lagi sama kamu kak, mamah ngga mau kamu jadi korban Aksa, Ya Allah lindungilah anak hamba" gumam bathin Ara lalu melangkah kembali ke dalam rumah.
*
*
Damar pun sudah sampai ke rumah nya, tapi dia sengaja menyimpan motor nya di warung kopi tempat dia nongkrong bareng teman-teman nya, karena takut Aksa mengetahui kehadiran nya.
"Itu motor Aksa, jadi dia di rumah kakak dari tadi? Tanya Zila sambil menatap ke arah rumah Damar yang sudah terparkir motor Aksa di sana.
__ADS_1
"Iya Aksa ada di dalam, tapi kakak mohon kamu masuk ke dalam secara perlahan, dan kamu langsung masuk ke kamar depan, di sana lah Aksa." jawab Damar.
"Kakak ngga ikut? Zila balik bertanya.
"Ngga, dan kamu jangan bilang sama Aksa kalau kakak yang ajak kamu kesini" jawab Damar.
"Baik lah kak, aku mengert, ya sudah aku ke dalam dulu ya kak" ucap Zila.
Zila pun melangkah berjalan masuk ke dalam rumah Aksa dengan secara perlahan.
Di dalam kamar rumah Aksa, terdengar suara dua insan manusia yang sedang memadu kasih.
Mereka melampiaskan hasrat yang membuncah, sehingga melupakan semua nya, mereka melupakan akan dosa, dan mereka melupakan akan masa depan, yang mereka rasakan saat ini hanyalah kesenangan dan kenikmatan sesaat saja.
Zila yang sudah berada tepat di pintu utama pun dengan secara perlahan membuka nya, lalu masuk ke dalam dengan langkah kaki yang benar-benar tidak terdengar.
"Tas perempuan?" gumam hati Zila begitu dia melihat ada tas seorang perempuan di atas sofa.
Zila pun melirik ke sebuah kamar. "Pasti kamar yang ini." gumam bathin Zila, ia pun melangkah dengan jantung yang berdebar.
Zila pun menempel ken telinga nya ke pintu dan terdengar lah suara yang membuat hati dan tubuh dia gemetar hebat.
Rasa penasaran yang ada di diri Zila pun semakin kuat, perlahan dia membuka pintu kamar, dan nampak lah seorang perempuan yang sedang berada di atas tubuh Aksa yang sedang meliuk-liuk kan tubuh nya bak penari.
Saking mereka sangat menikmati penyatuan mereka di siang hari itu, mereka tidak menyadari kalau ada seorang perempuan yang sedang menatap nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aksa" teriak Zila dengan suara yang sangat lantang terdengar oleh sepasang muda mudi yang sedang terlena itu.
Aksa dan Reni pun spontan menatap ke arah suara wanita yang berteriak memanggil nama Aksa, mereka pun langsung melepaskan penyatuan mereka dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang tanpa penghalang apa pun.
"Zila." gumam Aksa sambil menjauhkan tubuh Reni lalu mengambil celana boxer yang tergeletak di samping nya.
__ADS_1
"Jadi semua yang mamah omongin benar tentang kamu, jadi selama ini kamu hanya mempermainkan aku, aku sudah membela kamu mati-matian di depan orang tua ku sampai aku berdebat dengan mamah, ternyata semua yang mamah bicarakan tentang kamu benar ada nya, mulai saat ini kita putus!" teriak Zila dengan deraian air mata nya.
.