Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Kamar nya Bocor


__ADS_3

Pagi hari nya semua terbangun dan pagi ini mereka akan pergi ke bandara melepas bu Malika yang akan di bawa oleh dokter Rendra suami nya.


Seperti biasa mereka berkumpul di meja makan untuk melakukan sarapan pagi.


Sambil menata hidangan bi Nani senyum-senyum sendiri melihat dua pasang suami istri yang ada di hadapan nya.


"Omah, Uti," teriak Zila yang kini sedang di gandeng oleh Ara dan Anggar.


Semakin lebar saja senyuman bi Nani ketika melihat sepasang suami stri yang baru datang ke ruang makan ini.


"Bi, seperti nya pagi ini bibi lagi bahagia ya? Dilihat dari tadi bibi senyum-senyum terus" tanya bu Carlota.


"Iya nyonya bibi bahagia sekali, karena hanya kamar bibi saja yang tidak bocor" jawab bi Nani sambil terus tersenyum.


"Memang nya kamar siapa yang bocor? Tanya Anggar.


"Kamar nyonya besar, kamar den Anggar, dan kamar tamu, bukti nya semua nya pada basah" jawab bi Nani sambil tertawa.


Sumpah demi apapun bi Nani sudah tidak tahan lagi, akhir nya pecah lah tertawa nya sampai mata nya mengeluarkan air mata.


"Semua sudah siap, kalau begitu bibi kebelakang dulu" ucap bi Nani di sela-sela tertawa nya, lalu pergi langsung ke belakang dan melanjutkan tertawa nya.


Semua yang ada di meja makan saling menatap dan akhir nya pecah lah suara tertawa mereka setelah mengetahui apa yang di maksud bi Nani.


"Kenapa semua nya pada tertawa? Tanya Zila sambil melihat ke semua nya.


"Tidak apa-apa sayang, ayo makan" jawab ZIla.


"Ya ampun bi Nani, bi Nani, peka amat sih" ucap bu Carlota.


"Lagian kenapa barengan sih buat keringat nya? Tanya pak Hardian.


"Lo yang masuk kamar duluan siapa? Tanya dokter Rendra.


"Anggar dan Ara" jawab bu Carlota sama pak Hardian serempak.


"Lo, kenapa bawa-bawa kita? Tanya Anggar.


"Ya iya lah gara-gara sikap kamu semalam, mamah harus memberikan ide sama Ara" jawab bu Carlota santai.

__ADS_1


Ara yang memang sedang menyantap sarapan nya langsung tersedak begitu mendengar omongan mertua nya.


"Pelan-pelan dong Yang" ucap Anggar sambil memberikan minum.


"Jadi yang kamu bisikan sama Ara itu menjurus kesana? Tanya bu Malika, dan bu Carlota hanya mengangguk kan kepala saja.


"Jangan bilang yang suami kamu bisikan sama mas Rendra juga sama dengan apa yang kamu bisikan sama Ara" ucap bu Malika sambil menatap ke arah bu Carlota sama pak Hardian.


"Ya karena kita suami istri dan sehati, pasti yang di bisikan sama, bukti nya kita juga mengikuti yang kita bisikan" jawab pak Hardian.


"Sudah cukup jangan di bahas" ucap Ara sambil memberi kode kalau di sana ada Zila.


"Memang nya pada bahas apa sih, semua nya sudah pada tertawa, apa karena semua nya pada di keramas ya? Jadi tertawa? Tanya Zila dengan wajah polos nya.


"Ngga sayang, kita kan mau ngantar uti sama kakek ke bandara, jadi harus fresh, makanya kita pada keramas" jawab Ara.


"Berarti Zila ngga fresh dong, karena ZIla ngga di keramas" ucap Zila.


"Zila kan masih kecil, kalau masih kecil itu walaupun tidak di keramas tetap kelihatan fresh dan cantik" jawab Ara sambil tersenyum.


Zila pun tersenyum senang mendengar jawaban dari Ara.


"Ya sudah udah selesai kan sarapan nya, ayo kita berangkat takut nanti macet di jalan" ajak dokter Rendra.


"oke, ayo kita tunggu di depan" jawab Anggar


Sambil menggandeng tangan Ara.


"Tunggu di mobil saja, saya mau ambilkan koper dulu" ucap dokter Rendra.


Mereka pun semua langsung menuju mobil nya masing-masing, dokter Rendra dan bu Malika ikut dengan mobil Anggar sedangkan Zila ikut di mobil pak Hardian.


*


*


Tidak berapa lama mereka pun sudah sampai di bandara, bu Malika dan dokter Rendra pun pamit.


"Ibu pergi ya nak, jaga kesehatan kamu dan anak kamu, kalau mau melahirkan hubungi ibu" ucap bu Malika sambil memeluk erat Ara lalu mencium seluruh wajah Ara.

__ADS_1


"Iya bu, ibu juga sehat-sehat di sana ya" jawab Ara sambil membalas pelukan ibu nya dan mencium kedua pipi bu Malika.


"Jaga selalu anak dan cucu ibu ya nak? ibu titip mereka sama kamu" ucap bu Malika sambil memeluk Anggar menantu nya.


"Iya bu, saya akan selalu menjaga nya sebisa saya" jawab Anggar.


"Om pergi bawa ibu mu ya nak? Kamu dan anakmu sehat-sehat ya" ucap dokter Rendra sambil memeluk Ara.


Betapa nyaman nya Ara yang kembali mendapat kan pelukan dari seorang ayah, sudah lama Ara tidak mendapatkan pelukan itu.


"Ekhem" Anggar pun berdehem karena melihat Ara lama memeluk dokter Rendra.


"Ngga usah cemburu nak, ini hanya pelukan seorang ayah buat anak nya" ucap dokter Rendra sambil tersenyum.


"Baru semalam berjanji, apa mau tidur di luar malam ini" ucap Ara pelan.


"Ngga Yang, aku hanya ngga enak tenggorokan saja" jawab Anggar dengan wajah takut nya.


Mereka semua pun tertawa melihat wajah Anggar yang takut tidur di luar nanti malam.


"Takut kan? Semua pria juga takut kalau jurus wanita sudah keluar" ucap Pak Hardian sambil tertawa.


"Ya sudah aku pamit ya Ta, tolong jaga anak dan cucu ku" ucap bu Malika sambil memeluk erat sahabat nya itu.


"Tenang saja, aku akan jaga mereka berdua, kamu jangan lupa terus mencetak ya? Bila perlu tiap malam kan ngga ada yang ganggu juga" bisik bu Carlota.


"Kamu ini, kalau mencetak tiap malam yang ada aku encok dan ngga sembuh-sembuh" jawab bu Malika setengah berbisik membuat bu Carlota tertawa.


"Ren, titip sahabatku ini ya? awas jangan buat kamu dia encok nya kambuh ya? Main saja sewajar nya" ucap bu Carlota pelan.


"Tenang saja Ta, aku ngga bakalan buat dia encok kok, paling sampai ngga bisa jalan" jawab dokter Rendra sambil tersenyum dan mendapat pukulan di bahu nya oleh bu Malika.


"Mas ih, sudah ayo berangkat, tuh udah di panggil" ucap bu Malika.


"Zila Sayang, Uti berangkat ya nak? Ingat selalu pesan uti." ucap bu Malika lalu mencium seluruh wajah Zila.


"Iya uti, sehat selalu ya uti di sana, nanti kalau adik bayi nya udah lahir kita susul uti ke sana" jawab Zila sambil tersenyum.


"Kita pergi ya" ucap dokter Rendra setelah mencium kedua pipi Zila.

__ADS_1


Dokter Rendra pun berjalan menuju pesawat dengan menggandeng tangan bu Malika, lalu melambaikan tangan nya kepada mereka.


__ADS_2