Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Shock


__ADS_3

Motor Damar pun memasuki halaman rumah Zila, Zila pun turun dan membuka helm nya.



"Masuk dulu kak" ajak Zila sambil memberikan helm kepada Damar.



"Lain kali saja, ini juga sudah sore dan juga kamu butuh waktu dengan mamah kamu" jawab Damar.



"Ya sudah kalau begitu aku masuk ya kak, makasih untuk hari ini" ucap Zila.



"Iya sama-sama, pokok nya kalau kamu butuh apa-apa tinggal hubungi kakak saja, no nya yang tadi kamu save ya" ucap Damar.



"Iya kak." jawab Zila sambi tersenyum lalu melambaikan tangan nya.



Damar pun melajukan motor nya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah Zila.



Zila masuk ke dalam rumah, dilihat nya kedua orang tua nya sedang duduk di ruang tamu beserta adik-adik nya.



"Assalamualaikum" ucap Zila sambil melangkah menghampiri mereka yang lagi kumpul.



"Waalaikum salam" jawab mereka serempak sambil melihat ke arah datang nya suara.



"Darimana kak? Tanya Anggar.



Zila tidak menjawab nya, tapi dia langsung bersimpuh di hadapan Ara, dia tenggelamkan wajah nya di kedua paha Ara sambil menangis.



"Mah maaf kan Zila, Zila sudah salah menilai mamah" ucap Zila sambil terisak menangis.



Anggar, Nathan dan Rania pun hanya diam sambil melihat ke arah mereka berdua.



"Sebelum kamu meminta maaf sama mamah, jauh-jauh hari sudah mamah maaf kan nak" jawab Ara sambil mengusap puncak kepala Zila dengan deraian air mata.



"Sudah lah ayo bangun, sini mamah peluk" ucap Ara sambil menyentuh kedua bahu Zila.



Zila pun memeluk erat Ara sambil menangis, "Makasih mah, mamah sudah mau memaafkan Zila." ucap ZIla.



"Cerita sama mamah, apa yang telah terjadi sama ZIla, anggap mamah ini mamah kamu, sahabat kamu tempat sandaran kamu dimana kamu ada keluh kesah, tolong bicara sama mamah, tapi, mamah minta sama kamu, kalau mamah ngasih tahu kamu atau ngasih pendapat tolong diterima baik-baik, mamah kasih saran kamu seperti itu karena mamah sangat menyayangi kamu nak" ucap Ara sambil mengelus lembut punggung Zila.



"Zila," ucap Zila sambil melirik ke arah Anggar dan adik-adik nya.

__ADS_1



Ara pun memberi kode kepada Anggar agar pergi dan membawa anak-anak menjauh.



"Kak Nathan, Nia, kita ke taman yuk, kita main di sana" ajak Anggar sambil memberi kode sama Nathan.



"Ngga ah, Nia mau di sini aja sama mamah dan kak Zila." jawab Rania.



Nathan yang memang sudah mengerti pun langsung mengajak adik nya untuk jalan-jalan.



"Dek, kita jalan-jalan naik motor yuk? Mumpung cuaca cerah" ajak Nathan pada adik nya.



"Ayo, kita beli ice cream ya kak ke mini market yang di ujung jalan" jawab Nia sambil berdiri.



"Papah ikut juga ya? ucap Anggar.



"Papah jalan kaki saja, kalau naik motor kan ngga bisa bertiga, itu bahaya papah" ucap Zila.



"Ya sudah papah jalan saja deh sambil menggerak kan kaki papah, biar ngga pegel." jawab Anggar.



"Mah kita jalan-jalan dulu ya? Ucap Rania.




"Kak Zila nanti Nia beliin cokelat, kak Zila jangan nangis lagi ya? Ucap Nia sambil menatap Zila.



"Iya sayang, makasih ya? Jawab Zila sambil tersenyum.



"Emang Nia punya uang nya? Tanya Nathan sambil menatap ke arah Nia.



"Kan uang nya minta sama papah" jawab Nia sambil tersenyum.



Anggar pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya." ya sudah ayo kita berangkat." ajak Anggar.



Mereka bertiga pun akhir nya pergi meninggalkan Zila dan Ara.



"Sekarang tinggal kita berdua, kalau kakak mau menceritakan nya, mamah siap untuk jadi pendengar buat kakak" ucap Ara sambil menyentuh dan mengelus tangan ZIla.



Zila pun menceritakan dari awal sampai dia tersadar, bahkan pas Zila di cium sampai udah baju nya di lepas pun ZIla cerita, ngga ada yang Zila tutupin lagi ke Ara ibu sambung nya.

__ADS_1



"Astagfirullah hal Adzim, kakak, pantesan saja perasaan papah dan mamah ngga setuju dengan Aksa, apalagi pas mamah melihat Aksa jalan bersama seorang wanita dengan saling peluk dengan mesra" teriak Ara.



"Zila mohon mah, jangan sampai papah tahu ya, Zila takut mah, mulai sekarang Zila janji akan selalu mendengar kan mamah, Zila janji akan jadi anak penurut bukan pembangkang seperti kemarin." ucap Zila sambil menangis.



Ara shock, Ara kecewa, tapi dia juga bersyukur karena Zila ngga sampai melakukan di luar batas.



"Ya sudah lupakan masalah kemarin, dan mulai sekarang kakak harus lebih waspada lagi, papah sama mamah ngga melarang kakak punya kekasih, tapi lihat dulu dia itu tulus atau tidak mencintai dan menyayangi nya, dan kakak jangan sampai terbuai oleh ucapan seorang laki-laki." ucap Ara sambil memeluk Zila.



"Tapi mamah janji ya? Ngga kasih tahu papah masalah yang tadi" ucap Zila sambil menatap Ara dengan tatapan memohon nya.



"Iya, mamah janji, sudah jangan nangis lagi, ngomong-ngomong, Damar orang nya gimana? Apa sama juga seperti Aksa? Tanya Ara.



"Ngga tahu juga mah, kan Zila baru bertemu dua kali sama kak Damar, oh iya mah, papah bisa bantu ngga ya kak Damar kerja di perusahaan papah? Ucap Zila.



"Ya kamu bilang aja langsung ke papah, mamah mana tahu masalah kantor nak" jawab Ara.



"Mah, maafin sikap Zila ya? Dan makasih selama ini mamah udah ngurusin Zila dan menyayangi Zila seperti anak kandung." ucap Zila lalu memeluk dan mencium seluruh wajah Ara.



"Sama-sama sayang, mamah akan selalu menyayangi anak-anak mamah, mamah tidak akan membeda-bedakan kalian, kalian adalah harta yang paling berharga buat mamah" jawab Ara lalu membalas mencium Zila.



Zila pun tersenyum, dia sangat bahagia sekali sudah dapat kata maaf dari mamah sambung nya itu.



"Kak Zila, ini cokelat buat kak Zila" teriak Rania sambil berlari menghampiri Zila.



"Jalan-jalan nya sudah dek? Tanya Zila.



"Sudah kak, ini kan udah mau maghrib, jadi kita cepet-cepet pulang" jawab Nia sambil memberikan cokelat nya kepada Zila.



"Makasih banyak adek sayang" ucap Zila lalu mencium pipi Nia.



"Buat mamah adek belikan apa? Tanya Ara.



"Cokelat juga, kata papah mamah lagi sedih jadi harus dikasih cokelat biar sedih nya hilang dan tersenyum manis kembali seperti manis nya cokelat ini" jawab Nia sambil memberikan cokelat kesukaan Ara.



"Wah, makasih sayang, kok Nia tahu kesukaan mamah? Tanya Ara sambil mengambil cokelat dari tangan Nia.


__ADS_1


"udah pada tersenyum lagi kan? Kalau ngga tersenyum manis seperti manis nya cokelat ini, papah akan tuntut pabrik cokelat nya" ucap Anggar sambil duduk di samping Ara.


__ADS_2