Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Tersadar


__ADS_3

Setelah mengucapkan beberapa kata, Zila pun membalik kan tubuh nya lalu pergi berlari keluar dari kamar itu.



"Zila tunggu" teriak Aksa sambil berlari mengejar Zila.



Aksa pun meraih tangan Zila yang hendak keluar dari rumah Damar.



"Zil tunggu ini bisa aku jelaskan." teriak Aksa sambil menggenggam tangan nya Zila.



"Lepaskan, aku sudah ngga sudi di sentuh oleh kamu" teriak Zila sambil mengibaskan tangan nya dengan keras.



"Aku minta maaf, aku khilaf" ucap Aksa.



"Khilaf, khilaf kamu bilang? teriak ZIla sambil mengibas kan tangan nya lalu melayang ke pipi Aksa dengan sangat keras.



"Mulai detik ini jangan muncul di hadapan ku, mengerti" teriak Zila sambil kembali melayangkan tangan ke pipi nya AKsa.



Zila pun berlari keluar dengan air mata yang terus turun mengalir di pipi nya.



"Ah, breng sek" teriak Aksa.



"Siapa dia Sa,? Tanya Reni yang baru keluar dari kamar dengan tubuh masih terbalut selimut.



"Dia hanya mantan aku sayang, sudah lah kita lupakan saja dia." jawab Aksa sambil menghampiri Reni.



"Beneran dia mantan kamu? Bukan pacar kamu? selidik Reni.



"Benar sayang, masa sih aku bohong sama kamu, sudah lah kita lupakan, ayo kita lanjutkan yang tadi, belum selesai juga sudah ada pengganggu." ucap Aksa sambil memeluk dan mencium bibir Reni, lalu membawa ke kamar kembali dan melanjutkan apa yang sempat tertunda tadi.



"Mah maaf kan Zila, Zila tidak mendengar apa yang mamah bilang" gumam bathin Zila sambil terus berlari menuju tempat dimana ada Damar yang sedang menunggu nya.



"Kak, ayo kita pergi" ajak Zila sambil menunduk menghindari tatapan dari Damar.



Damar yang sudah tahu apa yang akan terjadi pun hanya mengangguk dan naik keatas motor nya.



"Ayo, ni pakai dulu helm nya" jawab Damar sambil memakai kan helm ke kepala Zila.

__ADS_1



Zila pun naik keatas motor Damar dan duduk sambil menyandar kan kepala nya ke punggung Damar sambil terus menangis hingga baju Damar pun basah oleh air mata Zila.



Damar pun tidak membawa Zila pulang ke rumah nya, tapi Damar membawa Zila ke suatu tempat yang bisa membuat Zila lebih tenang lagi.



Zila sendiri tidak sadar kalau dirinya tidak diantar ke rumah orang tua nya, karena Zila terus menangis di punggung Damar.


*


*


Di sini lah mereka sekarang, di sebuah pantai yang indah yang membuat hati seseorang bisa meluapkan segala nya.


"Sudah sampai, ayo turun" ucap Damar sambil melirik ke arah belakang.



Zila pun tersadar dan melihat ke sekeliling pantai, "Kok kita kesini? Tanya Zila sambil melihat lautan yang sangat luas.



"Sengaja kakak bawa kamu kesini biar hati kamu tenang, biar kamu bisa meluapkan semua yang ada di hati kamu" jawab Damar.



Zila dan Damar pun turun dari motor, Damar membawa ZIla duduk di bawah pohon besar di tepi pantai.



"Teriak lah yang kencang, teriak lah sepuas kamu, biar hati dan beban kamu ringan" ucap Damar.




"Aksa ba ji ngan, breng sek, aku benci kamu, aku tidak sudi lagi melihat kamu, arghhhhhhhhhhh." teriak Zila dengan suara yang sangat tinggi yang di ikuti dengan suara gemuruh ombak.



Zila pun membalik kan tubuh nya lalu menghampiri Damar yang sejak tadi hanya memandang nya dari bawah pohon.



"Thanks ya kak, sekarang aku sudah lega, makasih juga sudah membawa aku kesini" ucap Zila sambil duduk di samping Damar.



"Begitulah kelakuan Aksa, dia itu maniak, tidak cukup dengan satu wanita, mungkin diantara semua wanita yang dia bawa, hanya kamu yang lolos dari jeratan nya." ucap Damar sambil memandang ke arah ombak.



"Memang nya berapa wanita yang sudah dia bawa ke rumah kakak?" tanya Zila sambil menatap ke arah Damar.



"Tak terhitung, saking pusing nya kakak lihat dia gonta ganti wanita" jawab Damar.



"Terus kenapa rumah kakak di jadikan tempat maksiat sama Aksa? Zila pun sangat penasaran.



"Karena kakak lagi butuh uang, kakak di phk dari tempat kerja, dan sampai sekarang kakak belum mendapat pekerjaan lagi." jawab Damar.

__ADS_1



"Orang tua kakak kemana? Kembali Zila memberikan pertanyaan, Zila semakin penasaran dengan sosok Damar.



"Orang tua kakak bercerai, dan mereka kini tinggal bersama pasangan nya masing-masing, sedangkan kakak memilih tinggal sendiri di rumah, rumah itu warisan dari kakek" jawab Damar.



"Gimana kalau kakak melamar di perusahaan papah Zila? Nanti Zila bantu deh agar kakak bisa diterima." jawab Zila sambil tersenyum.



"Manis sekali senyuman nya" gumam bathin Damar sambil menatap wajah Zila.



"Beneran? Kakak janji, kalau kakak sampai diterima di perusahaan papah nya Zila, kakak ngga bakal sewakan rumah itu sama Aksa lagi." ucap Damar.



"Janji? Tanya Zila sambil mengangkat jari kelingking nya ke atas.



"Janji' jawab Damar sambil mengaitkan jari kelingking nya ke kelingking Zila.



"Terus kenapa kamu bisa lolos dari Aksa? Gimana cerita nya? Setahu kakak wanita yang sudah bersama Aksa, dia ngga bakalan bisa lepas dari jeratan nya." tanya Damar.



"Sebenar nya aku pun hampir saja kehilangan apa yang selama ini aku jaga, tapi untung nya Nathan, adikku menghubungi ku, mengabarkan kalau mamah lagi terpuruk gara-gara aku." jawab Zila.



"Kok kamu bisa membuat mamah kamu terpuruk seperti itu? Tanya Damar.



Zila pun menceritakan semua nya dari awal sampai sekarang dia berada di sini kepada Damar. Entah kenapa Zila merasa nyaman berbagi cerita hidup nya kepada Damar, padahal ini pertemuan mereka yang kedua kali nya.



"Nah begitulah kak cerita nya, sekarang aku menyadari kesalahan ku sama mamah" ucap Zila dengan mata yang sudah berkaca-kaca mengingat dirinya yang sudah bersikap ngga baik pada mamah sambung nya itu.



"Seharusnya kamu dengerin apa yang mamah kamu bilang, walaupun dia hanya ibu sambung, karena ibu sambung yang baik adalah ibu sambung yang menjaga kita dari segala keburukan dan kejahatan." jawab Damar.



"Iya, kak aku sudah bersalah banget sama mamah, ya sudah antar aku pulang ya kak, aku mau minta maaf sama mamah" ucap Zila sambil berdiri.



"Udah lega hati dan pikiran nya? Tanya Damar yang ikut berdiri.



"Sudah kak, untung aku bertemu dengan kakak, kalau tidak entah lah aku gimana sekarang dan ke depan nya." jawab Zila.



"Ya sudah ayo kita pulang, udah sorte juga, nanti aku disangka nyulik anak orang lagi" ajak Damar sambil bercanda.


__ADS_1


Mereka berdua pun berjalan menuju motor nya Damar yang sedang di parkir di tepi pantai.


__ADS_2