Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Gawat


__ADS_3

"Papah kemana nak? perasaan belum keluar kamar deh dari sepulang kerja" tanya Ara yang lagi duduk di ruang keluarga bersama Zila dan bu Carlota.



"Ngga tahu mah, Zila belum lihat papah, kan Zila baru selesai ngerjain pr" jawab Zila.



"Coba kamu lihat nak, soal nya ngga biasa nya dia ngga langsung gabung di sini" ucap bu Carlota.



"Ya sudah aku susul mas Anggar dulu ya mah" ucap Ara lalu berdiri dan menuju kamar nya.


*


*


"Maaf kan mas ya sayang, bukan nya mas ngga sayang kamu lagi, kamu tetap di hati mas ko, cuma poto kita aja yang mas pindahin, mas merasa ngga enak sama Ara, walaupun dia bilang ngga apa-apa, tapi mas tahu perasaan nya" gumam Anggar sambil mencoba melepas kan poto Anya dan diri nya dari dinding kamar nya.


"Mas, kamu lagi ngapain? Tanya Ara yang baru masuk dan melihat suami nya lagi naik tangga besi dan tangan nya yang sedang menyentuh bagian sisi poto Anya dan suami nya.



"Eh kamu Yang, mas mau pindahin poto ini dan menggantikan nya dengan poto kita" jawab Anggar.



"Ngga usah mas, jangan, biarkan saja poto itu di situ" ucap Ara yang melarang suami nya untuk melepas poto Anya dan suami nya.



"Kan mas mau ganti dengan poto kita Yang" ucap Anggar.



"Tempel saja di samping nya mas, dan ngga usah mindahin poto kalian, nanti Zila sedih melihat poto mamah nya di pindahin" ucap Ara.



"Kamu ngga marah Yang? Tanya Anggar sambil turun dari tangga besi nya.



"Ngapain harus marah mas, lihat mas, dia sangat cantik dia lagi tersenyum seakan-akan dia melihat kita dengan nyata, apa mas tega mindahin nya? Tanya Ara sambil melihat ke arah suami nya.



Anggar pun terdiam sambil terus menatap poto mereka.



"Sudah ngga usah di pandang terus, ngga bakalan luntur kok senyuman nya" ucap Ara sedikit merajuk.



"Kamu ini Yang, masa sama Almarhumah istriku aja cemburu" ucap Anggar sambil memeluk Ara dari samping lalu mencium pipi nya dengan lembut.



"Jujur aku memang sedikit cemburu sama bunda nya Zila, dia itu pasti orang baik, cantik hingga dia sulit untuk di lupakan sama siapa pun juga, aku melihat dari diri sahabat nya seperti nya mereka sangat menyayangi beliau." ucap Ara sambil menyandarkan kepala di pundak nya Anggar.

__ADS_1



Sejenak mereka pun terdiam sambil menatap poto Almarhumah Anya.



"Mas sangat bersyukur sekali, dalam perjalan hidup mas, mas selalu di berikan pendamping wanita cantik dan sangat baik seperti kalian berdua, mas mohon kamu jangan tinggalkan mas seperti Anya ya? Kayak nya mas ngga akan sanggup harus kehilangan lagi" ucap Anggar sambil menatap ke arah Ara.



"Aku tidak akan meninggalkan mas, tapi kalau memang sudah takdir siapa pun tidak akan bisa menolak nya." jawab Ara.



"Ya sudah kalau begitu mas pasang poto ini di samping nya saja ya" ucap Anggar lalu mengambil poto dirinya dengan Ara, dia ngga mau bersedih lagi.



Ara pun mengangguk sambil tersenyum melihat suami nya yang sedang memasang poto mereka berdua.


*


*


Waktu pun tidak terasa kini kandungan Ara sudah mau memasuki bulan ke sembilan, mereka semua sudah ngga sabar menunggu kehadiran anak mereka.


Leni terus saja merengek kepada ayah nya ingin di pertemukan dengan Anggar, tapi pak Dika selalu mencari alasan agar keinginan Leni ngga terpenuhi.



Pak Dika sudah mengetahui kalau Anggar sudah berkeluarga , tapi Leni tidak perduli, dia tetap ingin mendapat kan Anggar, dia berharap Anggar menjadi milik nya seorang.




Tanpa sepengetahuan mereka, Anggar pun sedang berada di mall tersebut bersama Lastri, mereka sedang melakukan pertemuan dengan beberapa klien nya.



"baiklah pertemuan kita cukup sampai di sini, semoga ke depan nya kita semakin erat dan kompak lagi untuk memajukan perusahaan kita" ucap Anggar menutupi pertemuan mereka.



"Terima kasih pak, sudah mau menyempatkan waktu nya untuk bertemu dengan kami" ucap salah satu klien Anggar.



Mereka pun saling berjabat tangan, lalu Anggar pun pergi dari tempat itu di ikuti oleh Lastri.



Begitu mau menuju pintu keluar mall tersebut ada seorang wanita dengan sengaja menjatuhkan tubuh nya ke tubuh Anggar, hingga Anggar menahan tubuh wanita itu supaya tidak terjatuh.



Ara yang baru masuk ke mall itu pun melihat suami nya yang sedang memeluk tubuh seorang wanita.



"Mas Anggar" gumam bathin Ara dengan mata yang sudah berkaca-kaca lalu membalikan tubuh nya.

__ADS_1



Lastri yang melihat ke arah Ara pun kaget, "Bu Ara? Gumam bathin Lastri sambil melihat ke arah Ara dan Anggar yang sedang menahan seorang wanita yang sangat ia kenali.



"Gawat, jangan sampai ibu pergi dari sini, dan pak Anggar di kuasai oleh curut ini" gumam bathin Lastri lalu pergi berlari mengejar Ara yang hendak berbalik.



"Kita pulang aja mah, aku lagi ngga enak badan"ucap Ara sambil membalikan tubuh nya.



"Kamu kenapa sayang? Ada apa? Tanya bu Carlota yang memang tidak melihat Anggar karena tadi lagi menunduk benerin baju Zila.



"Ya, kok balik lagi sih mah" ucap Zila kecewa.



"Aku sudah ngga mau masuk, aku mau pulang saja" ucap Ara lalu melangkah dengan sedikit di percepat jalan nya.



"Bu, ibu tunggu" panggil Lastri dengan sedikit menahan suara nya karena takut Anggar dan Leni mendengar nya.



Ara yang sudah melangkah pun langsung menghentikan langkah nya tanpa membalikan tubuh nya, karena dia hapal dengan suara yang memanggil nya barusan.



"Bu tunggu sebentar jangan pergi dulu" ucap Lastri sambil mengatur nafas nya.



"Bu saya mohon ibu jangan pergi begitu saja, apa yang ibu lihat barusan bukan kelakuan pak Anggar, tapi itu semua di sengaja sama si curut yang mau merusak rumah tangga ibu, ayo kita melawan nya sama-sama bu, saya akan membantu ibu" ucap Lastri yang kini sudah ada di hadapan Ara.



"Anggar? Gumam bu Carlota sambil mencari-cari sosok anak nya itu.



"Papah? mana papah? Gumam bathin Zila yang sama dengan bu Carlota sambil mencari keberadaan papah nya.



"Kita pergi ke sana dulu, kita bicarakan di sana bagaimana? Ajak Lastri.



"Ya sudah ayo, tapi benar kan suami saya ngga melakukan nya? Tanya Ara ingin memastikan.,



"Saya bersumpah bu, saya dan pak Anggar tadi habis bertemu dengan klian" jawab Lastri.


__ADS_1


"Ya sudah mari bu" Lastri pun mengajak mereka duduk di sebuah tempat duduk yang memang di sediakan oleh mall tersebut.


__ADS_2