
Selagi Ara memeluk bu Hani, mereka pun dikagetkan dengan suara intercom, Ara pun melepaskan pelukan nya, dan bu Hani segera menerima intercom.
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu? Tanya bu Hani.
"Ibu ada mamah Zila ngga? Kalau ada Zila minta tolong, tolong bilangin mamah di tunggu di ruangan papah" kata Zila.
"Baik non, nanti saya sampai kan" jawab bu Hani.
"Makasih ibu" ucap Zila.
"Sama-sama non" jawab bu Hani sambil tersenyum,. Walau bu Hani tahu senyuman nya tidak bisa di lihat Zila.
Bu Hani pun menyimpan kembali intercom kepada tempat nya, lalu berbalik menghadap Ara.
"Bu, di tunggu bapak di ruangan nya" ucap bu Hani sambil tersenyum menggoda.
"Ibu ih, sudah ku bilang panggil nya biasa saja" Ara pun protes karena panggilan bu Hani dengan bibir cemberut.
"Gitu aja marah kamu ini, kan ibu cuma menggoda kamu saja" jawab bu Hani sambil tertawa.
"Au ah, ya sudah saya ke sana dulu ya bu" ucap Ara lalu melangkah keluar dari pantry.
Bu Hani hanya tersenyum sambil melihat punggung Ara.
"Semoga kamu bahagia nak, kamu pasti sangat menyayangi non Zila dengan tulus, makanya kamu terpilih menjadi pendamping pak Anggar" gumam bu Hani.
*
*
Ara pun kini sudah berada di lantai ruangan suami nya, Ara menghampiri meja kerja nya Ranti.
"Maaf bu, saya di suruh pak Anggar ke ruangan nya, jadi saya mohon izin untuk masuk" Izin Ara, sebenar nya Ara ngga perlu minta izin Ranti untuk masuk ke ruangan suami nya, tapi Ara menghormati peraturan perusahaan, apalagi mereka belum tahu kalau dia adalah istri Anggar yang baru.
"Mau ngapain kamu ke ruangan nya pak Anggar? Apa jangan-jangan kamu memang selalu menggoda pak Anggar? Tanya Ranti dengan sinis.
"Maaf bu saya permisi" ucap Ara lalu melangkah menuju pintu ruangan Anggar lalu mengetuknya, dan masuk di kala ada jawaban dari dalam.
Ara bukan berlaku tidak sopan karena meninggalkan dan tidak menjawab pertanyaan Ranti, tapi Ara menghindar dari keributan yang akan menyebab kan suami nya malu melihat istri nya ribut di depan ruangan pribadi nya.
__ADS_1
"Breng sek kamu, aku diabaikan nya, awas kamu, baru jadi pemuas para bos saja kamu udah sombong gimana kalau sudah jadi istri nya" gumam Ranti sambil menatap ke arah pintu yang sudah di tutup kembali oleh Ara.
"Mamah" teriak Zila.
"Iya sayang, ada apa memanggil mamah kesini? Tanya Ara sambil duduk di samping Zila.
"Biar Zila di temenin saja, Zila jenuh di sini apalagi ada tante ganjen yang selalu cari perhatian papah" jawab Zila.
Ara kaget bukan karena ada yang menyukai suami nya, tapi Ara kaget kenapa Zila bisa ngomong seperti itu, bagaikan orang dewasa.
"Nak kamu ngomong seperti itu siapa yang ajarin? Tanya Ara.
"Ngga ada, cuma Zila tahu aja apalagi lihat sikap nya tante itu, Zila ngga suka deh mah" jawab Zila.
Ara pun menatap ke arah suami nya, dengan tatapan seperti sebuah pertanyaan, sedang kan Anggar hanya mengedikan bahu nya saja.
"Ya sudah ini juga sebentar lagi jam makan siang, jadi mamah temenin, kita pesan makanan saja ya? Zila mau makan apa? Tanya Ara sambil mengambil ponsel nya.
"Apa saja mah yang penting enak" jawab Zila.
"Apa saja Yang, yang penting kamu yang suapin pasti enak kok" jawab Anggar tanpa menatap Ara.
"Is, papah masa udah tua di suapin? Ucap Ara.
Anggar lupa kalau di situ ada Zila anak nya, Anggar pun menatap ke arah Ara yang sedang menatap tajam ke arah nya.
"Papah cuma becanda sayang" jawab Anggar sambil tersenyum.
Ara pun memesan makanan yang mereka sukai, Ara sudah hapal makanan kesukaan anak dan suami nya, dan mereka pun ngga pernah protes dengan apa yang di sajikan dan di pesan oleh Ara.
*
*
Ranti langsung memanggil Dina ke meja kerja nya di kala Ara sudah masuk ke dalam ruangan Anggar.
"Ada apa bu memanggil saya? Mau di belikan Bulgogi lagi? Tanya Dina.
"Makanan aja yang ada di pikiran kamu itu" jawab Ranti.
__ADS_1
"Ya kan lumayan bu, kalau ibu nyuruh beli makanan saya pun ikut kenyang, kan orang seperti kita mah gaji nya ngga banyak seperti ibu, jadi harus banyak ngirit biar cicilan tinggal sedikit" jawab Dina sambil tersenyum.
"Dasar kamu ini, eh Din kamu tahu ngga? Belum juga Ranti menyelesaikan omongan nya, sudah di potong oleh Dina.
"Ngga bu" jawab Dina.
"Makanya kamu dengerin dulu saya kalau lagi bicara, jangan main potong aja" cerocos Ranti.
"Oh oke, maaf bu, maaf, saking antusias nya saya, jadi semangat buat menjawab" jawab Dina sambil cengengesan.
"Tadi si Ara masuk lagi ke ruangan pak Anggar" ucap Ranti dengan pelan tapi pasti.
"Wah bahaya ini bu, bagaimana kalau kita gerebeg sekarang aja bu, kali aja mereka lagi enak-enak di atas sofa" jawab Dina dengan semangat empat lima nya kalau mau menjatuhkan dan membuat orang lain malu.
"Enak-enak gundul mu, di dalam juga ada anak nya pak Anggar, mana mungkin mereka melakukan di depan anak nya" ucap Ranti sambil melempar Dina dengan kertas yang sudah dia remas.
"Ibu ngga lihat rambut saya ya? Dina malah bertanya kepada Ranti.
"Ya lihat lah, saya kan punya mata" jawab Ranti sambil menatap kearah Dina.
"Kalau lihat kenapa bilang kepala saya gundul, jelas-jelas kepala saya ada rambut nya, panjang lagi" ucap Dina.
"Udah, kenapa jadi bahas kepala kamu, kita kan lagi bahas si Ara" kata Ranti.
"Terus gimana bu? Kalau seperti ini kita susah untuk membuat si Ara pergi dari kantor ini" kata Dina.
"Kita tunggu pak Anggar pergi dulu, baru kita melaksanakan rencana kita" ucap Ranti dengan penuh semangat.
"Tapi ngga mungkin pak Anggar pergi apalagi ada anak nya di dalam" jawab Dina.
"Asal kamu tahu, habis makan siang pak Anggar ada meeting di luar kantor, nah pada saat itu kita buat si Ara menderita, sampai tidak mau kembali lagi ke kantor ini" ucap Ranti dengan senyuman smirk nya.
"Terus dengan anak nya gimana? Tanya Dina.
"Ya jangan sampai anak itu tahu lah, masa anak itu akan nempel terus sama si Ara, ada kalanya kali si Ara jauh dari anak itu, nah pada saat anak itu lengah kita bawa si Ara, gimana? Tanya Ranti.
__ADS_1