Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Janji Nathan


__ADS_3

Malam hari nya Ara masih tidak mau bicara sama siapa pun kecuali sama Rania.



"Mah, kamu masih marah? Tanya Anggar sambil duduk di samping Ara.



"Mah, dengerin papah, papah tahu kalau mamah sangat khawatir dengan Nathan, tapi mamah juga harus memberi sedikit kebebasan dan kepercayaan pada Nathan, papah takut nya Nathan melakukan hal yang tidak kita ingin kan" ucap Anggar sambil mengelus bahu Ara.



"Pah, mamah cuma takut kalau Nathan kenapa-kenapa, itu aja" jawab Ara masih dengan wajah ketus nya.



"Papah ngerti, tapi berikan lah kepercayaan pada Nathan, biar dia bisa belajar dengan rasa tanggung jawab, dia itu laki-laki, jadi dari sekarang kita harus ajarkan dia tentang rasa tanggung jawab" ucap Anggar.



"Apa hubungan nya di beliin motor sama rasa tanggung jawab? Tanya Ara.



"Begini mah, kalau kita kasih Nathan motor, otomatis Nathan harus punya rasa tanggung jawab, tanggung jawab untuk selalu menepati janji nya, tanggung jawab untuk menjaga diri nya sendiri dan masih banyak tanggung jawab-tanggung jawab lain nya.



"Mah, pah, Nathan boleh masuk" teriak Nathan sambil mengetuk pintu.



"Masuk saja sayang, ngga di kunci kok" jawab Anggar dari dalam.



Pah, mah, maaf Nathan mengganggu" ucap Nathan setelah membuka pintu, lalu menghampiri Anggar dan Ara yang sedang duduk di tepi tempat tidur.



"Mah, maaf kan Nathan, Nathan bukan maksud untuk mebuat mamah dan papah bertengkar" ucap Nathan sambil bersimpuh di kaki Ara.



"Bangun lah nak, mamah ngga marah kok" jawab Ara sambil menarik kedua pundak nya Nathan.



"Nathan ngga apa-apa kok mah ngga di belikan motor juga" ucap Nathan sambil menunduk.



"Nathan tahu kenapa mamah ngga mengizin kan Nathan untuk bawa motor? Tanya Ara.



"Iya mah, mamah pasti khawatir Nathan akan ugal-ugal lan di jalan dan juga mamah takut kalau Nathan kenapa-napa" jawab Nathan yang masih menunduk.



"Nah itu Nathan tahu, terus kenapa Nathan masih ingin memiliki motor? Tanya Ara kembali.



Nathan pun hanya diam, dia bingung harus ngomong apa, dai takut mamah nya marah lagi.



"Jawab nak, apa alasan Nathan ingin memiliki motor? Kamu ungkap kan saja, kami tidak akan marah kok" Tanya Anggar.



"Nathan kan udah besar mah, Nathan ingin mandiri dengan pergi sekolah atau kemana pun biar ngga diantar pak Wawan atau papah" ucap Nathan.

__ADS_1



"Jadi Nathan ingin bebas gitu? Tanya Ara sambil menatap Nathan.



"Bukan mah, Nathan cuma ingin pergi tanpa diantar lagi, Nathan kan bukan anak TK kayak Rania yang harus masih diantar" jawab Nathan.



Ara sebenar nya ingin tersenyum mendengar jawaban dari Nathan, tapi dengan sekuat tenaga dia menahan nya.



"Terus kalau misalkan mamah mengizin kan Nathan mengendarai motor, apa yang akan Nathan lakukan untuk mamah? Tanya Ara.



Sedangkan Anggar hanya diam dan menjadi pendengar setia istri dan anak nya.



"Nathan janji sama mamah, Nathan ngga akan ugal-ugalan di jalan, Nathan menggunakan motor hanya untuk berangkat dan pulang sekolah saja, dan Nathan akan berusaha menjaga diri Nathan sendiri, Nathan akan berusaha bertanggung jawab dengan menepati janji Nathan sama mamah dan papah" jawab Nathan.



"Kalau misalkan kamu mengingkari janji kamu sama mamah dan papah, apa yang akan kamu jaminkan? Tanya Ara.



"Papah dan mamah boleh mengambil kembali motor nya dan menghukum Nathan" jawab Nathan.



"Bagaimana kalau mamah menghukum kamu dengan menyuruh kamu pergi dari rumah ini dan mamah hapus kamu dari keluarga besar Hardian" tanya Ara menggertak Nathan.



"Nathan siap menerima hukuman apapun dari mamah dan papah" jawab Nathan.




"Baik mah, maaf kan Nathan ya mah, pah" ucap Nathan lalu berlalu dan pergi ke kamar nya.



"Yang," panggil Anggar sambil memeluk tubuh Ara.



"Apa? jawab Ara pura-pura masih marah sama Anggar.



"Kangen" jawab Anggar sambil mencium bahu Ara.



"Lagi males ah" jawab Ara.



"Udah dong Yang marah nya, kan Nathan juga udah kasih penjelasan tadi" ucap Anggar.



"Memang nya Nathan mau motor apa sih pah? Tanya Ara.



"Mamah mau belikan motor buat Nathan? Anggar pun bukan nya menjawab tapi malah balik bertanya.

__ADS_1



"Iya" jawab Ara sambil mengangguk, sebenar nya Ara juga sudah memikirkan ini semua dari pagi tadi.



"Makasih mah, besok kita ke showroom ya? Mamah yang pilih motor nya buat Nathan" ucap Anggar sambil terus mencium pipi Ara istri nya.



"Mamah curiga, Nathan yang akan mamah belikan motor, kok kamu yang senang sih pah? Jangan bilang mau cari cewek pakai motor ya? Ucap Ara.



"Ya ampun mah, papah ini senang aja melihat istri dan anak papah selalu tersenyum" jawab Anggar sambil memeluk erqat istri nya.



"Mamah kan udah tersenyum lagi, jadi boleh dong papah ingin di manja di atas kasur ini" ucap Anggar sambil terus mencium bahu dan pipi Ara.



"Papah ini, sudah mau punya menantu pun masih saja ingin di manja, oh iya pah mamah sampai lupa" ucap Ara sambil berbalik ke arah samping dan menatap ke arah Anggar suami nya.



"Ada apa mah? Tanya Anggar sedikit melonggarkan pelukan nya.



"Tadi siang mamah lihat kalau Zila pulang diantar seorang pria pakai motor, apa Zila sudah mempunyai seorang kekasih ya pah? Tanya Ara.



"Mamah ngga tanya ke Zila? Anggar pun balik bertanya.



"Tadi siang mamah masih mode kesal, jadi belum bertanya apa-apa sama Zila." jawab Ara.



"Ya sudah besok pagi kita tanyakan langsung sama Zila, sekarang mamah harus melayani papah dan membuat papah bahagia malam ini" jawab Anggar yang sudah ngga tahan lagi.



Anggar pun terus mencumbu Ara, Anggar memberikan sentuhan-sentuhan lembut seperti biasa nya.



Usia Anggar memang sudah tidak muda lagi tapi dia masih sanggup membuat istri nya melayang-layang.



Ara pun kini sudah terbuai oleh setiap sentuhan yang di berikan suami nya.



Dari dulu sampai sekarang Anggar memang lebih peka dan mengerti dengan Ara.



Ara pun spontan melepaskan cumbuan nya membuat Anggar bertanya-tanya.



"Kenapa Yang? Kamu ngga mau melayani aku? tanya Anggar.



"Mas, apa mas mau pas kita lagi berada di atas tempat tidur, tiba-tiba Rania masuk" ucap Ara sambil melirik ke arah pintu.


__ADS_1


"Ya ampun mas lupa, untung kamu mengingat kan nya Yang" jawab Anggar sambil menepuk jidat nya lalu pergi ke arah pintu dan mengunci nya rapat-rapat.


__ADS_2