
"Papah,,,Mamah,,," teriak Zila sambil terus menggedor-gedor pintu kamar Anggar.
Ara pun langsung melepaskan bibir nya dari bibir Anggar, "Mas Zila, bukain pintu nya" ucap Ara.
"Huffhhhh,, selalu saja mengganggu" gumam Anggar lalu melangkah menuju pintu dengan menahan sesak yang di bawah sana.
Ara hanya tersenyum melihat wajah kesal suami nya.
"Ada apa sayang? Tanya Anggar setelah membuka pintu nya.
"Zila mau ngajak mamah ke bawah papah? Mamah,,," teriak Zila sambil menerobos masuk ke dalam kamar.
"Apa sayang, mamah baru saja mau mandi" jawab Ara.
"Ya sudah mamah mandi aja dulu, Zila tungguin di sini" kata Zila.
"Ya sudah kalau gitu Zila tunggu di sini mamah mandi dulu ya" ucap Ara lalu mauk ke kamar mandi.
"Zila tungguin mamah nya di bawah saja gih" usir Anggar.
"Memang nya kenapa pah? Mamah aja ngga ngelarang kok" jawab Zila.
Anggar pun hanya menggaruk kepala nya yang tidak gatal, padahal ingin sekali Anggar menyusul Ara ke kamar mandi, efek ciuman tadi yang di bawah sana susah untuk di tidur kan kembali.
"Kenapa aku jadi mesum begini ya? Apa karena sudah lama ngga mendapatkan, terus sekarang dapat langsung yang halal, jadi bawaan nya kepengen terus" Gumam bathin Anggar dengan sedikit gelisah.
"Papah kenapa sih kayak orang gelisah begitu" kata Zila yang sedang duduk di depan Anggar.
"Papah kebelet sayang" Anggar pun berbohong.
"Ya ke kamar mandi papah, masa diam saja" jawab Zila.
"Kan di kamar mandi nya ada mamah sayang" ucap Anggar dengan harapan Zila mengizinkan nya ke kamar mandi bareng Ara.
"Ya ke kamar mandi Zila saja papah, gitu aja kok repot" jawab Zila santai.
"Ya ampun gue lupa kalau Zila ini kan anak pintar" gumam bathin Anggar.
Pintu kamar mandi pun terbuka menampakan Ara yang hanya memakai handuk sebatas dada, karena Ara lupa ngga membawa bathrobe nya.
Anggar yang melihat kulit putih Ara dan wajah cantik Ara di kala rambut nya basah membuat jakun nya turun naik, dan yang di bawah sana yang sudah mulai tertidur kini bangun kembali setelah melihat penampilan Ara dengan handuk nya.
__ADS_1
"Lama ya sayang? Sebentar ya mamah pakai baju dulu" Ara pun langsung masuk ke walk in closet.
"Iya mah, Zila tunggu ya? Jawab Zila sambil melihat-lihat kembali album poto Anggar dan Anya.
Anggar yang melihat Zila sedang asik dengan album poto nya dia pun langsung menyusul Ara ke walk in closet.
Anggar langsung memeluk Ara dari arah belakang.
"Mas, ngagetin aja, kenapa? Tanya Ara sambil mengambil baju nya.
Anggar hanya diam sambil mencium leher dan punggung Ara, menelisik nya setiap inch punggung dan leher Ara.
"Mas, ada Zila lagi nungguin" bisik Ara sambil melepaskan tangan Anggar yang ada di pinggang nya.
"Sebentar saja" jawab Anggar.
Anggar pun langsung membuka handuk yang di pakai Ara lalu terlihat lah dua bukit kembar milik Ara yang masih padat dan berisi.
Ara terdiam bingung, entah harus bagai mana, di sini ada suami nya yang tidak tahu waktu, dan di sana ada anak nya yang sedang menunggu.
Anggar pun menenggelamkan wajah nya diantara dua bukit kembar Ara yang membuat nya candu sejak semalam.
"Mah,, sudah belum? Kok lama sih" teriak Zila.
"Mas, tuh kan Zila teriak" bisik Ara sambil menjauh kan wajah Anggar dari dada nya.
Ara pun langsung memakai baju yang sempat tertunda karena kelakuan suami nya.
Anggar pun mengusap wajah nya dengan kasar, kesal, pusing dan lemas yang kini Anggar rasakan, ingin marah tapi pada siapa? Anggar pun meninggalkan Ara dan masuk ke kamar mandi untuk menuntas kan hasrat nya yang sudah tinggi.
Ara hanya menggelengkan kepala nya, ada sedikit rasa kasihan tapi mau gimana lagi, anak nya lagi nungguin.
Ara pun keluar dengan pakaian santai nya, lalu merias diri di depan cermin meja rias.
"Mamah kok tambah cantik aja" kata Zila sambil menghampiri Ara ke meja rias.
"Kamu juga cantik sayang" jawab Ara sambil menatap Zila dari arah kaca.
"Ya sudah ayok kita ke bawah, mamah udah selesai" ajak Ara.
__ADS_1
Ara dan Zila pun pergi ke bawah mencari opah dan omah nya untuk bergabung.
"Mah Uti mana? Ajak Uti juga yuk mah" ajak Zila.
*
*
Anggar pun selesai dengan ritual mandi dan ritual menidurkan junior nya yang sedari tadi terbangun.
Setelah memakai baju santai nya Anggar pun mencari Zila dan Ara.
"Ternyata pada di sini? Kirain pada kemana? Tanya Anggar sambil menghampiri mereka dan duduk di samping Ara yang sedang berkumpul di taman.
"Iya kita lagi berbincang-bincang ringan saja, besok kamu mulai kerja kan nak? Tanya pak Hardian.
"Iya pah, soalnya kalau kelamaan libur nanti kerjaan makin numpuk" jawab Anggar.
"Kamu juga besok masuk kerja nak? Apa mau di rumah saja? Tanya bu Carlota pada Ara.
"Maaf mah kan saya masih terikat kontrak juga, jadi ya saya harus masih masuk kerja" jawab Ara sambil menunduk.
"Jadi mamah besok kerja dong, terus yang antar Zila ke sekolah siapa? Tanya Zila.
"Mamah tetap akan ngantar dan jemput Zila ke sekolahan, jadi Zila jangan sedih" jawab Ara.
"Oke deh mah, kalau begitu Zila izinin mamah kerja deh" jawab Zila lalu memakan cemilan kesukaan nya.
"Ya sudah, kalau mamah sama papah terserah kamu saja, yang penting kamu tidak lupa dengan semua kewajiban kamu" jawab bu Carlota.
"Pokok nya kamu harus mengutamakan suami dan anak kamu ya sayang, ingat selalu pesan ibu" bu Malika pun ikut menasihati Ara anak nya.
"Iya bu, Ara akan selalu ingat dengan semua pesan yang ibu katakan sama Ara" jawab Ara sambil tersenyum melihat ke arah ibu nya.
Ponsel Ara pun berdering, Anggar melirik ke arah ponsel Ara dan tertera nama Jo yang sedang memanggil istri nya.
"Maaf semuanya Ara izin angkat telepon dulu" Ara pun pergi menjauh sedikit dari keluarga nya setelah mendapat kan izin dari semua nya.
"Iya kak Jo? Ada apa? Tanya Ara dengan suara agak pelan.
"Kamu malam ini masuk kan Ra? Kita semua udah kangen nih? Apalagi kakak" jawab Jonathan.
"Kayak nya belum bisa deh kak Jo, paling besok malam aku baru bisa masuk, aku udah izin juga kok sama pak Aldo" jawab Ara.
__ADS_1
Anggar yang sedang duduk bersama keluarga nya pun terus menatap Ara dengan tatapan yang sulit diartikan.