
"Nak" ucap bu Malika dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sambil menatap layar ponsel di depan nya.
"Ikuti kata hati ibu, kalau memang ibu masih sayang sama om Rendra, terima dia untuk selalu berada di sisi ibu, jangan pikir kan aku, aku sudah punya mas Anggar dan Zila, ibu juga berhak bahagia." jawab Ara sambil tersenyum.
"Makasih nak atas restu yang engkau berikan, om berjanji akan selalu menyayangi dan menjaga ibu mu sampai kita menutup mata untuk selama-lama nya" ucap dokter Rendra.
"Iya om, tolong jaga ibu Ara, sayangi dan cintai ibu, bahagia kan ibu Ara om," kata Ara.
Bu Carlota dan pak Hardian pun tersenyum ikut bahagia melihat sahabat nya kembali bersatu bersama orang yang ia sayangi dari dulu.
Bu Malika mengambil bunga yang di pegang oleh dokter Rendra dengan kepala mengangguk dan bibir tersenyum.
"Sebenar nya perasaan aku juga masih sama Ren" ucap bu Malika.
"Jadi, kamu mau mendampingi aku? Kamu mau selalu ada di sisi aku? Tanya dokter Rendra meyakin kan.
"Iya, aku mau" jawab bu Malika sambil tersenyum lalu menunduk karena malu di lihatin anak menantu dan sahabat nya.
"Selamat Ren, apa aku bilang, kalian pasti bersatu" ucap bu Carlota sambil memeluk Rendra.
"Mah, suami mamah itu papah, kenapa yang di peluk dia" ucap pak Hardian sambil menarik tangan bu Carlota.
"Ya ampun papah, ini cuma pelukan selamat doang, lagian dia kan sahabat aku" jawab bu Carlota sambil melepas kan pelukan nya.
"Tenang pak Hardi, saya dan dia sudah sahabatan dari jaman sekolah dan saya sudah menganggap dia sebagai adik saya" ucap dokter Rendra sambil tersenyum.
"Selamat ya bu, ngomong-ngomong kapan om Rendra di kenalkan sama Ara dan mas Anggar? Tanya Ara yang masih melakukan video call.
"Minggu depan om akan ikut pulang ke sana bersama ibu mu" jawab dokter Rendra.
"Wah beneran kan om? Ya sudah om, ibu mamah dan papah Ara matikan telepon nya dulu ya, soalnya yang di samping Ara sudah nyubitin mulu dari tadi, kalian hati-hati ya, bye semua" ucap Ara.
"Oke sayang bye" jawab semua nya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Anggar ngga jauh beda kelakuan nya sama papah nya, kalau telepon malam hari lama-lama, pasti nyubitin suruh di matikan" ucap bu Carlota.
"Ya kalau ngga sama berarti bukan anak papah dong" jawab pak Hardian.
Dokter Rendra dan bu Malika hanya tersenyum mendengar perdebatan sepasang suami istri itu.
"Ya sudah karena kalian sudah resmi ada hubungan kita tinggal istirahat dulu ya, dan kalian silahkan membahas masa depan yang cerah buat kalian berdua" bu Carlota pun menggoda mereka berdua.
"Apa sih Ta, kamu ini selalu deh menggoda aku" ucap bu Malika.
"Dah ah, ayo pah kita ke kamar biarkan mereka bernostalgia" ajak bu Carlota sambil menarik tangan suami nya lalu pergi meninggalkan dokter Rendra dan bu Malika.
Sepeninggal bu Carlota dan pak Hardian, mereka berpindah tempat dan duduk di sofa yang ada di kamar hotel tersebut.
"Benar mau ikut saya pulang? Tanya bu Malika dengan rasa canggung dan grogi karena kini mereka sedang berhadapan.
"Iya, dan besok aku urus semua nya biar nanti kita berangkat bareng" jawab dokter Rendra.
"Tapi kerjaan kamu gimana? Tanya bu Carlota.
"Dari kemarin? Tanya bu Malika dengan mengernyitkan dahi nya.
"Ya, semenjak aku menyatakan kalau kamu sudah sembuh dan bisa pulang ke Indonesia, aku langsung mengajukan cuti karena ada niat buat ngejar kamu ke Indonesia, apalagi aku sudah tahu cerita hidup kamu dari Carlota." jawab dokter Rendra.
"Jangan bilang kamu datang ke sini juga desakan dari dia" ucap bu Malika.
"Ya, benar, dia yang memberi support, dia yang menyuruh aku mengejar kamu dan dia memberi tahu kan hotel dan kamar ini, hingga aku sekarang berada di sini" jawab dokter Rendra.
"Makasih Ta, kamu selalu ada buat aku dan Ara, aku ngga bisa balas semua kebaikan kamu" gumam bathin bu Malika.
"Ya sudah karena sudah malam, dan kamu juga harus istirahat, aku pulang dulu, kamu jangan tidur terlalu malam" ucap dokter Hendra.
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan jangan ngebut" jawab bu Malika.
__ADS_1
Ingin sekali dokter Rendra memeluk bu Malika, tapi apalah daya, dia masih merasa ngga enak dan canggung, jadi dia menahan nya, lalu pergi melangkah meninggalkan bu Malika.
*
*
Di kamar Anggar, Ara yang masih video call dengan ibu dan mertua nya pun terus di gangguin suami nya.
"Sudah dong Yang, kan udah jelas juga om Rendra sudah di terima sama ibu" ucap Anggar sambil terus mencubit pelan pinggang istri nya.
"Sebentar mas," jawab Ara sambil menepis tangan Anggar dari pinggang nya.
"Yang, aku kedinginan ini" Anggar terus-terusan mengganggu Ara yang sedang melakukan video call bersama ibu dan mertua nya, hingga Ara pun mau tidak mau harus undur diri dan memutus kan panggilan nya.
"Mas, kamu ini apaan sih, Zila saja udah mandiri, aku kan masih ingin bicara sama mereka" teriak Ara.
"Aku kangen dedek bayi Yang," ucap Anggar sambil mengelus lalu mencium perut Ara yang sudah mulai buncit.
Perut Ara memang sudah kelihatan buncit karena usia kandungan nya sudah menginjak empat bulan, mereka belum melakukan syukuran karena masih menunggu orang tua mereka pulang.
"Papah kangen dedek ya? Tapi sebelum papah bertemu dedek, dedek pengen makan sate dulu" jawab Ara dengan nada seperti anak kecil.
Anggar spontan mengangkat wajah nya dari atas perut Ara.
"Makan sate nya besok aja ya Yang? Sekarang aku males keluar nya dingin" ucap Anggar.
"Ya sudah kalau begitu ketemu dedek nya juga besok" jawab Ara dengan nada ketus sambil menutup seluruh tubuh nya dengan selimut.
"Tapi aku dingin nya sekarang Yang," ucap Anggar sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Ara.
"Aku juga ingin makan sate nya sekarang mas, bukan besok" jawab Ara sambil membelakangi Anggar.
Anggar pun menghela nafas berat nya, "Ya sudah aku suruh pak Roni belikan aja ya Yang" Anggar mencoba bernegosiasi.
"Kalau pak Roni yang membelikan sate nya, berarti pak Roni juga yang menjenguk dedek bayi nya" jawab Ara.
"Ya jangan Yang, ya sudah aku pergi beli sate nya sekarang" jawab Anggar lalu pergi keluar untuk membeli sate yang di inginkan istri nya.
__ADS_1
"Enak saja aku yang kangen dedek bayi, malah pak Roni yang menjenguk nya" gumam bathin Anggar sambil melajukan mobil nya.