
Jam makan siang pun sudah habis bersama makanan yang mereka pesan, Ara membereskan meja dari sisa makanan dan membuang nya ke tempat sampah.
"Papah pergi meeting dulu di luar, Zila jangan nakal ya? Jangan gangguin mamah terus" ucap Anggar.
"Iya pah" jawab Zila dengan sedikit memejamkan mata nya.
Ara pun membantu merapihkan dasi yang sedikit ngga rapi.
Ranti pun masuk seperti biasa setelah mengetuk pintu nya.
Sungguh pemandangan yang membuat hati nya sangat panas dan ingin menjambak Ara dengan keras.
Ranti masuk disaat waktu yang tidak tepat, Ranti melihat Anggar yang lagi menatap dengan tatapan penuh cinta, sedang kan Ara sedang membenarkan posisi dasi Anggar.
Ranti pun menoleh ke arah sofa, di sana Zila sedang rebahan, karena ngantuk, dan zila pun tidak melihat Ranti.
Ara yang menyadari keberadaan Ranti pun langsung melepaskan tangan dari dasi yang dia sentuh lalu menjauh dari hadapan Anggar.
"Ada apa? Tanya Anggar tanpa melihat ke arah Ranti, karena tatapan nya fokus kepada istri nya.
"Maaf pak mengganggu, saya cuma mau mengingatkan saja kalau sebentar lagi bapak ada meeting dan barusan saya mendapat informasi, kalau pak Wan sudah menunggu anda di cafe biasa" kata Ranti sambil melihat ke arah Anggar.
"Iya saya ingat, makasih dan silahkan kembali ke ruangan kamu" jawab Anggar.
Ranti pun mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan Anggar.
"Breng sek, gara-gara kamu aku di usir oleh pak Anggar, dan apa sih yang di lihat pak Anggar dari wanita itu, dia hanya seorang tukang bersih-bersih, dia juga ngga cantik, bahkan ngga sexy juga, tapi aku yang cantik dan sexy seperti ini malah diabaikan" gumam bathin Ranti sambil melangkah keluar dari ruangan Anggar.
"Mas bagaimana kalau bu Ranti memikirkan yang ngga-ngga kepada aku? Ara pun khawatir.
"Tenang saja Yang, dia ngga bakalan berani" jawab Anggar.
"Ya sudah, aku berangkat dulu, kalau kamu dan Zila bosen kamu jalan-jalan saja keluar, dan satu lagi, selama kita menikah aku belum ngasih kamu apa-apa, pegang ini buat segala kebutuhan kamu dan Zila" kata Anggar sambil memberikan satu buah kartu ATM kepada Ara.
"Ngga perlu mas, aku juga masih ada kok kalau hanya untuk jajan" jawab Ara.
"Ambil Yang, kalau ngga diambil aku merasa menjadi suami yang tidak bertanggung jawab sama istri nya, pin nya tanggal, bulan, dan tahun pernikahan kita" ucap Anggar sambil memasukan ATM nya ke saku depan Ara dengan sedikit menyentuh salah satu bukit kembar nya Ara.
__ADS_1
"Mas" bisik Ara sambil melirik ke arah Zila yang sudah tertidur.
"Colek sedikit Yang, lagian Zila juga tidur, seperti nya dia kekenyangan" jawab Anggar sambil menatap ke arah Zila.
"Ya sudah mas, ayo berangkat, bukan nya sudah di tungguin" Ara pun mengingat kan suami nya.
"Sebelum pergi kasih vitamin dulu dong Yang" kata Anggar sambil menunjuk kearah bibir nya.
"Sebentar aja ya? Jangan macam-macam" kata Ara, karena Ara tahu kalau Anggar ngga bisa kalau cuma nempel aja.
"Iya sebentar, aku juga kan udah di tungguin" kata Anggar sambil tersenyum.
Ara pun mendekati Anggar lalu dengan secara perlahan Ara mendekat kan bibir nya ke bibir Anggar.
Bukan Anggar namanya kalau tidak bisa memanfaat kan waktu, walau pun dirinya sadar kalau ada seorang klien yang sedang menunggu nya.
Anggar pun menahan tengkuk Ara dan sedikit menjelajah bibir nya Ara.
"Mas, udah lepas kan, nanti yang ada kamu ngga jadi pergi ketemu klien" kata Ara sambil menjauhkan wajah nya dari wajah Anggar.
"Ke hotel, puas" jawab Ara yang sedikit kesal dengan Anggar.
Anggar pun tertawa dan mencium gemas seluruh wajah Ara, lalu pergi.
Ara hanya menggelengkan kepala nya melihat kelakuan suami nya itu.
Ara pun merapihkan meja kerja Anggar lalu melihat Zila yang sedang terlelap tidur di sofa.
"Mamah pergi ke pantry dulu ya sayang, nanti mamah balik lagi" gumam Ara lalu pergi ke luar dari ruangan Anggar.
*
*
Sementara Ranti yang melihat Anggar sudah keluar dari ruangan dan pergi menuju klien nya langsung menghubungi Dina.
Dina yang sudah tahu dari awal pun langsung menghampiri meja Ranti.
"Gimana bu, pak Anggar nya sudah pergi ya? Tanya Dina.
__ADS_1
"Sudah, ayo siap-siap, akting kamu harus meyakinkan" bisik Ranti.
"Oke siap bu, laksanakan" jawab Dina.
Ranti dan Dina pun melihat pintu ruangan Anggar yang sedikit terbuka, Dina pun langsung sembunyi di bawah meja nya Ranti.
Ara menghampiri Ranti, "Bu maaf saya mau titip Zila, dia lagi tidur kalau dia bangun tolong kasih tahu saya, soal nya saya mau ke pantry dulu" ucap Ara.
"Oh iya ngga apa-apa, biar saya nanti yang jaga, tapi tolong dong ambil kan map yang berwarna hijau yang di ikat tali warna hitam di dalam gudang belakang" kata Ranti.
"Baik bu, akan saya ambil kan sekarang" jawab Ara sambil melangkah ke arah gudang.
"Sudah pergi, ayo buruan kamu keluar dan ikuti dia, pastikan ngga ada yang melihat nya" bisik Ranti dan menarik tangan Dina.
Dina pun keluar dari persembunyian nya, "Oke bu, saya pergi sekarang" kata Dina lalu pergi mengikuti langkah Ara.
"Sekarang lah saat nya kamu akan tahu berhadapan dengan siapa? Tahu rasa kamu Ara, besok kamu ngga bakalan menginjak kan kaki kamu lagi di sini" gumam bathin Dian sambil terus mengikuti Ara dengan langkah perlahan.
Gudang belakang memang jarang ada orang yang berlalu lalang, apalagi jam habis makan siang, karena mereka lagi pada fokus sama kerjaan masing-masing.
Selagi Ara di dalam gudang mencari map yang di maksud oleh Ranti, tiba-tiba mulut nya di bekap oleh Dina dan tangan nya di pegang dengan begitu keras nya.
"Jangan teriak, kalau kamu mau selamat" bisik Dina.
"Dina? Mau apa kamu? Tanya Ara yang mengenali suara nya.
Dina pun mengikat kedua tangan Ara di belakang punggung nya.
"Kamu diam saja, dan jangan teriak, saya hanya di suruh" jawab Dina.
"Di suruh siapa kamu Din? Salah aku apa? Tanya Ara.
"Aku yang menyuruh nya" teriak Ranti yang baru datang ke gudang.
"Bu Ranti? Kenapa anda melakukan semua ini? apa salah saya? Tanya Ara.
__ADS_1
"Kamu bertanya salah kamu apa? Kamu ngga sadar ya? Kamu itu sudah mengganggu dan menggoda pak Anggar, sehingga pak Anggar tidak pernah mau melirik saya" Teriak Ranti sambil mencengkeram keras dagu Ara.