
Akhir nya Ara kini sudah ada di sebuah rumah sakit, setelah drama pak Hardian sebelum berangkat.
Pak Hardian dan bu Carlota menunggu di luar ruangan dan mencoba menghubungi bu Malika ibu nya Ara.
Sedang kan di dalam ruangan Ara sedang berjuang demi melahir kan anak nya ke dunia ini,.
Dan Anggar juga sedang berjuang menahan rasa sakit di tubuh nya dari cakaran, pukulan dan cubitan dari Ara istri nya.
Zila tidak di ajak karena mereka benar-benar melupakan nya.
"Ah, mas, sakit," teriak Ara sambil meremas tangan Anggar dengan erat bahkan kuku Ara yang memang agak panjang menembus kulit Anggar hingga membuat kulit tangan Anggar memerah bahkan ada sedikit cairan merah yang keluar.
"Iya sayang sabar, sebentar lagi kok, tahan ya? Ucap Anggar sambil menahan rasa sakit yang ia alami.
"Dokter kapan adik bayi nya keluar aku sudah ngga tahan" teriak Ara sambil terus mencengkeram tangan Anggar.
"Sebentar lagi ya bu? Tinggal sedikit lagi" jawab dokter.
"Sus tolong siap kan semua nya ya? Sekarang, seperti nya adik bayi nya sudah ingin keluar" teriak dokter.
"Mas, sakit mas" teriak Ara sambil menjambak rambut Anggar.
Anggar hanya bisa menahan rasa sakit dan perih akibat perlakuan Ara istri nya.
Dokter bersama suster pun hanya menahan senyuman nya melihat sepasang suami istri ini.
"Oke bu, siap-siap ya, dalam hitungan ke tiga ibu baru boleh mengejan" ucap dokter memberi saran.
"Iya dok, buruan ya dok, aku sudah ngga tahan" teriak Ara di sela-sela rasa sakit nya.
"Oke bu, satu, dua, tiga, ayo bu mulai" teriak dokter dengan semangat.
Ara pun mengejan sambil tangan nya memeluk erat tengkuk Anggar, sehingga membuat Anggar sesak.
"Sekali lagi bu, lebih kuat ya bu, oke, satu, dua, tiga, ayo bu mulai sekaligus bu" teriak dokter lagi.
"Ah, mas," teriak Ara begitu merasakan di bawah sana sudah keluar sesosok bayi mungil.
__ADS_1
"Oek, oek, oek," suara bayi laki-laki yang berparas tampan, putih itu sangat kencang, sehingga terdengar sampai luar ruangan.
"Pah, bayi nya sudah lahir pah," teriak bu Carlota sambil memeluk suami nya.
"Ah, mamah sudah ngga sabar ingin melihat bayi nya, perempuan apa laki-laki ya? Ucap bu Carlota dengan wajah yang berbinar bahagia.
"Terima kasih sayang, terima kasih kamu telah melahir kan keturunan ku" ucap Anggar sambil mencium seluruh wajah Ara.
Sedangkan Ara hanya tersenyum sambil mengatur nafas nya.
"Bayi nya laki-laki ya pak, kondisi sehat dan sempurna." ucap dokter wanita itu sambil menelungkup kan bayi merah itu di atas dada Ara.
"Bayi nya laki-laki Yang, kita punya sepasang anak sekarang" teriak Anggar bahagia.
"Ya ampun mas, Zila ngga dikasih tahu, bisa-bisa merajuk dia" ucap Ara yang baru menyadari akan Zila anak tiri nya.
"Biar nanti mas hubungi bi Nani, biar kalau sudah bangun nanti diajak kesini saja sama bi Nani." jawab Anggar.
Ara pun hanya mengangguk dan tersenyum bahagia, karena sekarang dia sudah menjadi seorang ibu yang sesungguh nya.
"Iya Sayang, lagian mamah juga pasti sudah menghubungi ibu kok" jawab Anggar sambil mengelus puncak kepala istri nya.
Selagi bayi itu di atas dada Ara yang sedang mencari sesuatu, dokter itu membersihkan jalan lahir Ara. Ara dan Anggar tersenyum melihat anak nya yang terus mencari-cari apa yang menjadi kesukaan papah nya itu.
"Ya, sekarang kesukaan aku direbut dia Yang" ucap Anggar sambil menatap bayi kecil nya itu.
"Sabar pak, tunggu dua tahun ya untuk mencicipi nya kembali" ucap dokter itu sambil fokus membersih kan jalan lahir Ara.
"Kamu ini mas, malu ih, ada dokter sama suster" bisik Ara sambil menepuk bahu suami nya.
"Lo mas, tangan kamu kenapa kok merah-merah begini? Tanya Ara kaget.
"Bu dokter lihat istri saya, masa dia ngga sadar kalau yang melakukan semua ini dia sendiri, ini sudah masuk yang namanya KDRT" teriak Anggar.
Dokter wanita itu pun hanya tersenyum melihat kelakuan sepasang suami istri ini.
"Laporin aja aku ngga takut, aku akan bawa anak-anak pergi dari mas" Ara pun mengancam suami nya.
__ADS_1
"Ngga lah Yang, aku kan cuma becanda, aku ngga apa-apa kok setiap tahun tersiksa seperti ini, sumpah deh Yang" ucap Anggar sambil mengangkat ke dua jari nya ke atas.
"Apaan setiap tahun, mas kira aku ini kucing apa" jawab Ara.
"Ya kan banyak anak banyak rezeki Yang," ucap Anggar dengan senyuman manis nya.
"Au ah," mas puasa tiga bulan ya? Awas kalau macam-macam di luaran sana" ucap Ara.
"Jangan kan tiga bulan kemarin saja hampir lima tahun aku puasa Yang<" jawab Anggar.
Ara pun tersenyum mendengar jawaban suami nya lalu mencium tangan yang kemerahan itu, seolah-olah dia memberikan obat untuk tangan Anggar.
"Pak, bu, saya jahit ya? cuma sedikit kok yang robek nya, paling juga lima jahitan" ucap dokter.
"Iya bu dokter, tapi jangan semua nya ya? Nanti saya ngga bisa produksi lagi" ucap Anggar bercanda.
"Kamu ini mas," ucap Ara sambil menepuk bahu Anggar.
"Aduh, geli, pelan-pelan dong nak? teriak Ara yang kaget karena pu ting nya di hisap kencang sama bayi nya.
"Sama ngga Yang rasanya? Enakan sama adik bayi yang hisap apa aku yang hisap" bisik Anggar.
"Beda lah mas, kalau dia yang hisap rasa nya cuma perih sama geli aja, kalau kamu yang hisap membuat tubuh ku panas dan menginginkan lebih" jawab Ara sambil tersenyum dengan berbisik pula.
Anggar sengaja ngajak ngobrol istrinya di kala jalan lahir nya di jahit dokter, Anggar belajar dari pengalaman dikala almarhumah istri nya dulu melahir kan.
"Sudah selesai, sus sekarang bersihkan bayi nya" ucap dokter.
"Kata nya mau di jahit dok, kok udah selesai aja" tanya Ara sambil menatap dokter.
"Sudah kok bu, pak Anggar sengaja tadi ngajak ngobrol ibu, supaya mengalihkan rasa sakit nya, biar pak Anggar tidak kena cakaran ibu lagi" jawab dokter wanita itu sambil tersenyum.
Anggar pun cuma tersenyum sambil mengangguk.
"Kita pindah ke ruangan rawat inap ya bu, nanti kalau adik bayi nya sudah rapi bapak adzanin du ya? Ucap dokter sambil membereskan ala-alat.
"Iya dok" jawab Anggar sambil tersenyum, betapa bahagia nya Anggar saat ini, dia punya jagoan kecil dalam hidup nya.
__ADS_1