
Zila pun masuk ke dalam kelas nya, guru nya yang bernama bu Ratih yang berstatus janda itu melirik sinis kepada Ara.
"Pagi pak Anggar? Pak Anggar makin fresh aja ya? Kata bu Ratih basa basi.
Sedang kan Anggar cuma tersenyum dan ngga menanggapi omongan bu Ratih yang sedikit ganjen itu.
"Ya udah ya nak, papah sama mamah pulang dulu, nanti pas pulang papah jemput lagi" ucap Anggar sambil mengusap puncak kepala Zila.
"Deg" jantung bu Ratih pun terasa berhenti ketika mendengar panggilan Anggar kepada perempuan yang bersama nya pagi itu.
"Apa-apa an sudah manggil papah mamah aja, nikah aja belum, dasar perempuan gatel" gumam bathin bu Ratih sambil melirik sinis ke arah Ara.
"Iya pah, tapi sama mamah juga ya? Zila mau beli ice cream sama mamah nanti" kata Zila.
"Iya sayang, nanti mamah juga ikut jemput Zila" jawab Ara sambil tersenyum manis dan memperlihat kan lesung pipi nya.
Anggar dan Ara pun akhir nya meninggal kan sekolah ZIla dengan tatapan ibu-ibu yang berbeda, ada yang menatap Ara dengan sinis ada juga yang tersenyum dan bahkan memuji kecantikan Ara dan ketampanan Anggar.
"Mas kok aku merasa risih ya di tatap seperti itu sama mereka, apalagi guru nya Zila, seperti nya guru nya Zila benci ma aku padahal kita baru ketemu" ucap Ara yang sekarang sudah duduk di dalam mobil bersama Anggar.
"Sudah abaikan saja, mereka memang seperti itu kok" jawab Anggar sambil melajukan mobil nya.
"Mas mau kemana hari ini? Tanya Ara sambil menatap ke arah Anggar yang lagi mengemudi.
"Pulang saja, memang kamu ada tempat yang akan kamu kunjungi? Anggar pun balik bertanya.
"Kalau boleh dan mas mengizinkan, aku mau emmm,,,,emm,,,mau mengunjungi makam nya almarhumah ibu nya Zila" kata Ara sambil menunduk.
Anggar kaget dan sontak melihat ke arah Ara, "Kamu beneran mau mengunjungi makam nya Anya? Tanya Anggar memastikan.
"Iya, kalau mas mengizinkan" jawab Ara pelan.
__ADS_1
Anggar pun mengangguk lalu melajukan mobil nya menuju ke pemakaman.
Mereka pun akhir nya sampai di pemakaman, kini Ara dan Anggar berada tepat di depan pusara Anya.
Anggar dan Ara pun berjongkok menatap tanah kuburan.
"Assalamualaikum mbak, mbak perkenalkan saya Ara, mulai sekarang saya akan merawat Zila, maaf kalau saya baru menemui mbak kesini, saya berjanji akan selalu merawat dan menyayangi Zila meski suatu saat nanti saya mempunyai seorang anak, maafkan saya juga karena saya sekarang menjadi pendamping mas Anggar, saya ngga akan menyingkirkan mbak di hati mas Anggar, saya tahu kalau mbak yang selalu ada di dalam hati nya mas Anggar, saya juga ngga akan memaksa mas Anggar untuk menyukai saya, bagi saya yang penting Zila bahagia, saya pun turut bahagia" ucap Ara pelan tapi masih bisa di dengar oleh Anggar.
Anggar pun merasa terharu dengan apa yang di ucapkan Ara di depan makam istri nya.
Setelah mengucapkan kata-kata yang membuat Anggar terharu Ara pun ber do*a mendo*a kan almarhumah.
"Mas, aku tunggu kamu di mobil ya" Ara pun pamit pergi ke mobil duluan, Ara tahu pasti banyak yang akan di sampai kan Anggar kepada almarhumah istri nya.
Ara pun pergi meninggal kan Anggar sendirian, Anggar melihat ke arah Ara yang sedang berjalan meninggalkan nya.
"Yang, maafin aku, kemarin aku sudah menikah lagi dengan Sahara, dia sangat menyayangi anak kita, awal nya aku juga menolak pernikahan ini, tapi Zila terus-terusan merajuk hingga dia sakit, aku bingung harus bagai mana, semua demi Zila, akhirnya aku menerima dia dan menikahi nya, kamu akan sellau ada di hati aku Yang, maafin aku ya Yang" ucap Anggar sambil menyentuh batu Nisan.
Anggar pun mencurahkan segala isi hati nya di atas makam istri nya, tidak lupa Anggar pun ber do\*a buat almarhumah istri nya.
"Kamu punya hati tulus banget sih Ra" gumam bathin Anggar sambil menuju mobil nya.
"Udah selesai mas" kata Ara dengan senyuman yang memperlihatkan lesung pipi nya.
"Manis sekali senyuman nya" gumam bathin Anggar sambil membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Ya sudah masih ada waktu buat jemput Zila, sekarang kita mampir ke pemakaman ayah mu, gimana? Tanya Anggar membuat Ara kaget.
"beneran mas? Tanya Ara dengan wajah berbinar, Ara ngga menyangka kalau Anggar mau mengajak ke makam almarhum ayah nya.
Anggar pun melajukan mobil nya menuju ke pemakaman ayah nya Ara, sepanjang perjalanan mereka memang tidak ada obrolan selayak nya pasangan suami istri.
Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Sama seperti mereka berada di makam Anya, mereka pun meluapkan semua perasaan mereka masing-masing, dan tidak lupa mereka pun juga mendo\*akan almarhum.
Sewaktu di makam Anya, Ara yang berjanji untuk merawat dan melindungi Zila, sebalik nya di depan makam ayah nya Ara, Anggar lah yang berjanji akan sellau melindungi dan menyayangi Ara, meski pun hati nya masih untuk almarhumah Anya.
Mereka pun pergi dari makam ayah nya Ara, dengan berjalan beriringan.
"Mas waktu nya menjemput Zila" Kata Ara sambil membuka pintu mobil.
"Iya kita langsung jemput aja, mau makan siang di rumah atau dimana? Tanya Anggar.
"Kita tanya Zila aja nanti ya? Jawab Ara.
Anggar pun melajukan mobil nya meninggalkan pemakaman dan menuju ke sekolahan Zila.
Diperjalanan ponsel Ara pun berbunyi, "Jo? Gumam bathin Ara,.
"Kenapa ngga diangkat? Angkat saja siapa tahu penting" kata Anggar sambil melirik ke arah Ara.
Ara pun menggulir icon berwarna hijau di ponsel nya.
"Ya, halo Jo" sapa Ara, Anggar begitu mendengar nama seorang cowok keluar dari bibir Ara hati nya sedikit panas.
"Siapa yang menghubungi nya? Seperti nya seorang cowok" gumam bathin Anggar sambil terus fokus mengemudi.
"Kenapa sudah dua hari kamu ngga masuk kerja? Tanya Jo.
"Maaf kemarin aku ngga bisa masuk ada acar keluarga dulu" jawab Ara dengan suara pelan.
"Oh gitu, tapi nanti malam masuk kan? Tanya Jo dari seberang telepon.
"Aku ngga janji Jo, kita lihat saja nanti malam, sudah dulu ya Jo, aku lagi di jalan soal nya" jawab Ara dan langsung memutus kan panggilan nya, karena merasa ngga enak terima telepon dari seorang cowok di samping suami nya.
__ADS_1