
Seminggu sebelum mereka kembali ke Indonesia, mereka pun menikmati negeri singa ini dengan menjelajah tempat wisata dan kuliner.
"Sekarang aku ngga ragu lagi untuk bermesraan dengan mas Hardi di depan kamu Ta" ucap bu Carlota pada bu Malika.
"Kenapa harus ragu, kalian kan suami istri jadi sah-sah aja untuk melakukan nya" jawab bu Malika.
"Kemarin kan aku merasa ngga enak, karena kamu ngga ada pasangan nya, kalau sekarang kan udah ada pak dokter di samping kamu, jadi aku ngga ragu lagi" jawab bu Carlota sambil tersenyum.
"Ngga usah bawa-bawa dokter deh Ta, panggil biasa saja aku kan lagi ngga pakai baju dokter" ucap dokter Rendra.
"Oke deh pak dokter, eh Ren" jawab bu Carlota sambil tersenyum.
Pak Hardian dan bu Malika pun ikut tersenyum melihat interaksi keduanya.
Semenjak malam itu bu Malika terlihat terus menyungging kan bibir nya, wajah nya pun semakin fresh dan mata nya selalu berbinar kebahagiaan.
"Kita balik ke hotel yuk, aku belum packing buat pulang besok" ajak bu Malika.
"Kamu sudah ngga ada yang mau di beli lagi? Tanya dokter Rendra.
"Sudah cukup" jawab bu Malika.
"Bagaimana kalau sebelum pulang kita makan dulu, kan dari tadi kita belum pada makan" ajak pak Hardian.
"Setuju banget, kamu juga kan ngga boleh telat makan, jadi kita makan dulu ya" ucap dokter Rendra.
"Aduh enak nya ya kalau udah ada yang perhatian" ucap bu Carlota mulai menggoda bu Malika.
"Udah dong mah, jangan gangguin Malika terus, kasihan tuh muka nya sudah merah gitu" bisik pak Hardian.
"Biarin aja lah pah, kapan lagi kita gangguin dia" jawab bu Carlota pelan.
"Ya sudah ayo, mau pada mau makan dimana? Tanya dokter Rendra.
"Terserah kamu aja" jawab bu Malika, bu Malika bingung memanggil dokter Rendra harus manggil apa, dia masih merasa ngga enak dan canggung dengan pria masa lalu nya ini.
Mereka pun akhir nya memutuskan untuk makan dulu sebelum kembali ke hotel.
*
*
__ADS_1
Setelah makan malam, Anggar, Ara dan ZIla kini berkumpul di ruang keluarga sambil ngobrol ringan.
"Dek, nanti kalau udah keluar kita main ya? Ucap Zila sambil mengelus perut buncit Ara.
"Iya kakak cantik, tapi kakak harus selalu sayang sama adek ya" jawab Ara dengan menirukan suara anak kecil.
"Kakak pasti sayang sama adek" jawab Zila lalu mencium perut nya Ara.
Ara pun tersenyum dengan apa yang di lakukan Zila anak tirinya, Ara mengelus puncak kepala Zila dengan penuh kelembutan.
"Besok kita jemput ke Bandara ngga mas? Tanya Ara sambil melirik ke arah suami nya yang sedang duduk di samping nya.
"Iya kita jemput pakai dua mobil, kamu mau ikut apa mau tunggu di rumah? Tanya Anggar.
"Kayak nya aku mending tunggu di rumah deh mas, aku mau kasih kejutan mereka" jawab Ara.
Zila juga ngga ikut ah pah, Zila mau nungguin mamah aja.
"Ya sudah kalau gitu, berarti papah saja yang jemput sama pak Roni, kalau satu mobil ngga cukup, kan sekarang ada ayah baru nya mamah" ucap Anggar sambil tersenyum.
"Mamah punya ayah baru, berarti kakek baru Zila dong pah" jawab Zila.
"Kalau ibu nikah sama dokter Rendra, nanti ibu di bawa dong sama dokter Rendra, terus aku gimana? Tanya Ara.
"Ya biarkan saja Yang, itu kan memang sudah tugas suami membawa istri nya, kamu kan ada aku dan Zila ditambah lagi nanti ada adik nya Zila." jawab Anggar.
"Tapi kalau di bawa ke Singapoera gimana? Kan jadi jauh mas," ucap Ara.
"Ya kamu jangan egois Yang, ibu juga pasti nya ngin bahagia bersama seseorang yang akan selalu mendampingi nya, kalau kamu ingin melihat ibu kamu bahagia, ya kamu harus rela di tinggal ibu, kan bisa juga kita yang main ke sana atau ibu yang main ke sini" jawab Anggar.
"Janji ya mas, akan ajak aku ke Singapoera, aku ingin jalan-jalan di sana" ucap Ara.
"Zila juga mau ikut ya pah" teriak Zila ngga mau ketinggalan.
"Iya nanti kita jalan-jalan kalau adik bayi nya sudah bisa diajak naik pesawat" jawab Anggar.
"Asyik, adek cepetan keluar ya, nanti kita jalan-jalan ke Singapoera, kita habis kan uang papah" teriak Zila sambil mengelus perut nya Ara.
Ara dan Anggar pun tersenyum melihat kelakuan Zila.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita tidur udah malam sayang" ajak Ara pada Zila.
Mereka pun masuk kamar, Ara sengaja nemenin Zila dulu di kamar nya, dia ngga mau Zila beranggapan kalau Zila ngga disayang lagi, Ara berusaha untuk tidak menanam kan pikiran seperti itu pada Zila, walaupun nanti nya anak yang Ara kandung sudah lahir, Ara tetap menyayangi Zila dan ngga akan di beda-beda kan.
*
*
Pak Hardian, bu Carlota, bu Malika dan dokter Rendra pun sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, di sana sudah ada Anggar yang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Kamu jemput kami sendirian nak? Tanya bu Carlota sambil memeluk Anggar.
"Sama pak Roni bu, tapi pak Roni nunggu di mobil" jawab Anggar.
"Ara sama Zila kemana nak? Tanya bu Malika lalu memeluk Anggar.
"Zila nungguin Ara, katanya lagi ngga enak badan" jawab Anggar.
"Ara sakit? Sakit apa? Kata bu Malika dengan wajah khawatir nya.
"Cuma masuk angin bu" jawab Anggar, "Bukan masuk angin bu, tapi gara-gara perbuatan menantu mu ini, anak ibu jadi kayak masuk angin perut nya kembung" gumam bathin Anggar sambil tersenyum.
"Kenalkan nak, om Rendra calon mertua kamu" ucap bu Carlota sambil menunjuk ke arah dokter Rendra.
"Ta, kamu ini belum puas ya godain aku terus" ucap bu Malika.
Sedangkan bu Carlota tersenyum puas melihat sahabt nya yang selalu malu kalau ia goda.
"Anggar om, suami nya Ara menantu nya ibu yang ada di sebelah om" ucap Anggar memperkenal kan diri.
"Rendra" jawab Rendra singkat sambil menjabat uluran tangan Anggar.
"Ya sudah ayo kita pulang, mamah udah kangen sama Ara dan Zila, sekalian kita ngomongin pernikahan mertua kamu ini" ucap bu Carlota yang ngga henti-henti nya menggoda bu Malika
"Seperti nya kalau pun sudah sah, kamu ngga bakalan berhenti menggoda nya Ta" ucap dokter Rendra.
"Ya jelas lah Ren, aku kan selalu ingin puas, benar ngga pah? Kalau ngga puas aku suka komplen lo" jawab bu Carlota yang makin ngaco dengan jawaban nya.
"Sudah lah ayo kita pulang, makin lama makin ngaco, di sini kan masih ada yang belum sah" ajak pak Hardian.
Mereka pun akhir nya melangkah ke arah parkiran mobil dan menuju untuk pulang ke rumah kediaman pak Hardian.
__ADS_1