Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Ngga Sabar


__ADS_3

Mereka pun kembali setelah melihat pesawat yang membawa dokter Rendra dan bu Malika terbang.



Bu Carlota, Ara dan Zila pulang ke rumah diantar pak Roni sopir nya, sedang kan Anggar dan pak Hardian langsung pergi ke kantor nya.



"Ngga sekolah lagi kamu nak" ucap Ara yang duduk di samping Zila di kursi belakang.



"Ngga apa-apa yang penting di rumah nanti belajar ya nak" jawab bu Carlota.



"Bu aku udah ingin beli perlengkapan adik bayi, udah ngga sabar" ucap Ara.



"Sabar sayang sebentar lagi, nanti kita belanja yang banyak" jawab bu Carlota.



Sebenar nya bu Carlota pun sudah ngga sabar, tapi dia harus menahan nya karena kata orang tua dulu pamali katanya.



"Nanti kalau beli baju adik bayi Zila juga ikut ya mah" ucap Zila.



"Iya sayang nanti kamu juga harus ikut" jawab Ara sambil tersenyum.



"Udah ngga sabar ingin cepat-cepat adik bayi keluar" ucap Zila sambil mengelus perut buncit Ara lalu mencium nya dengan sayang.



Ara dan Bu Carlota yang melihat betapa sayang nya Zila kepada calon adik nya pun tersenyum.


*


*


Mobil Anggar pun memasuki area kantor, setelah Anggar turun dari mobil, ia pun langsung masuk dan menuju ruangan nya.


"Lastri ke ruangan saya sekarang" perintah Anggar sambil membuka pintu ruangan nya.



"Ada apa ya pak Anggar nyuruh aku ke ruangan nya" gumam Lastri sambil berdiri dan menghampiri Anggar.



Lastri pun masuk setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk oleh Anggar.



"Ya ada apa bapak memanggil saya" ucap Lastri.



"Kamu bilang kemarin istri saya bertemu dengan Jo, terus kenapa kamu ngga bilang kalau Jo lagi bersama tunangan nya? Tanya Anggar.



"Lah kan bapak ngga nanya Jo bareng siapa, bapak nanya nya istri bapak ketemu siapa ya saya jawab dengan Jo, kan emang teman nya ibu Jo pak" jawab Lastri.



"Ya iya juga sih, tapi kenapa ngga bilang juga ke saya kalau ada tunangan di samping nya" Anggar ngga mau kalah.


__ADS_1


"Kan bapak nya langsung pergi, jadi saya ngga sempat untuk bilang" jawab :Lastri.



"Ya sudah kalau gitu kembali ke meja kamu" perintah Anggar.



"Baik pak, tapi memang nya kenapa pak? Kok bapak nanyain masalah itu? kembali Lastri pun bertanya karena penasaran.



"Saya jadi malu sama istri saya" ucap Anggar.



"Malu kenapa emang nya pak? Kok bisa sampai malu gitu? tanya Lastri kembali.



"Saya sudah diemin dia karena cemburu, eh ternyata Jo nya udah punya tunangan" jawab Anggar.



"Bapak sih, lagian ya pak, bapak ngga usah takut, karena menurut saya bu Ara itu setia orang nya" jawab Lastri sambil tersenyum.



"Iya saya percaya, tapi entah kenapa setiap mendengar atau melihat dia dengan seorang pria hati saya itu memanas" ucap Anggar.



"Berarti bapak sangat mencintai bu Ara, saya do\*a kan bapak dan ibu selalu bahagia sampai tua sampai maut memisah kan" ucap Lastri.



"Aamiin, makasih ya Las" jawab Anggar.




"Ya silahkan." jawab Anggar.



"Ampun deh pak, segitu nya ya kalau orang sudah terlalu mencintai istri nya, ya tuhan beri saya satu yang seperti pak Anggar ini" gumam bathin Lastri dengan bibir tersenyum dan melangkah keluar dari ruangan Anggar.


*


*


"Yah kapan mau bertemu sama pak Anggar lagi? Tanya Leni.


"Belum ada jadwal, masih lama seperti nya, lagian pak Anggar nya juga masih sibuk" jawab pak Dika.



"Ayolah yah cari waktu buat bertemu sama pak Anggar lagi, aku ini kangen sama pak Anggar yah" ucap leni dengan nada manja nya.



"Nak, pak Anggar itu hati nya susah untuk di takluk kan, dan juga ngga bisa di paksa" ucap pak Dika.



"Masa sih cuma ingin bertemu saja ayah ngga bisa ngusahain" Leni pun masih merengek pada ayah nya.



"Sudah lah kamu cari pria lain saja, jangan pak Anggar" ucap pak Dika.



"Ngga mau! Aku mau nya pak Anggar, hanya pak Anggar seorang" teriak Leni.

__ADS_1



"Leni sayang, dengerin ayah nak, ayah ini baru merintis usaha dan ini kesempatan baik buat perusahaan ayah, kalau misal nya pak Anggar marah karena ayah gangguin terus, bisa-bisa kerja sama nya di batalkan sama dia" pak Dika pun menjelaskan kepada anak nya.



"Tapi yah aku kangen pak Anggar" rengek Leni.



"Mending kamu jalan-jalan saja sana, nanti kalau ada kesempatan bertemu dengan pak Anggar, ayah bakal kasih tahu kamu, gimana? Pak Dika pun terus berusaha membujuk Leni anak nya.



"Ya sudah deh, tapi kalau mau bertemu sama pak Anggar ayah bilang ya? ucap Leni.



"Iya sayang, ayah akan langsung menghubungi kamu, apa sih yang ngga buat anak kesayangan ayah ini" jawab pak Dika sambil mengusap puncak kepala nya.



"Oke deh kalau begitu, mana," ucap Leni sambil mengulur kan tangan kanan nya.



"Mana apa nya? Jawab pak Dika sambil mengernyit kan dahi nya.



"Tadi katanya nyuruh jalan-jalan, sekarang aku mau jalan-jalan tapi masa ngga bawa uang" ucap Leni sambil tersenyum.



"Kamu ini, bilang saja minta uang" jawab pak Dika sambil memberikan lima lembar uang yang berwarna merah kepada Leni.



"Kan ayah sudah mengerti, ngapain di perjelas lagi" ucap Leni sambil memasukan uang ke dalam tas selempang nya.



"Hati-hati ya nak, pulang nya jangan terlalu malam" ucap pak Dika lalu duduk kembali di kursi kerja nya.



"Oke ayah," jawab Leni sambil mencium kedua pipi pak Dika lalu pergi keluar meninggal kan ruang kerja ayah nya.



"Gimana cara nya aku bertemu lagi sama pak Anggar ya?" gumam bathin pak Dika.



"Yah, Leni kamu kasih uang lagi? Tanya bu Maria yang baru masuk ke ruang kerja suami nya.



"Ya mau gimana lagi bu, kalau ngga di kasih kamu juga tahu sendiri gimana dia" jawab pak Dika.



"Ibu juga bingung yah dengan sikap dia, apa kita terlalu memanjakan nya hingga dia seperti itu" ucap bu Maria pelan.



"Sudah lah bu, biarkan saja, dia kan masih muda, nanti juga kalau sudah berumah tangga pasti berubah dia" jawab pak Dika.



"Ya tapi dia mau nya sama pak Anggar katanya yah? Tapi gimana kalau pak Anggar nya sudah punya istri? Kita kan belum lama mengenal nya" ucap bu Maria.



"Pak Anggar seorang duda yang ayah tahu, tapi nanti ayah cari tahu lagi deh tentang dia, sekarang mumpung lagi ngga ada anak-anak, kita olah raga sebentar ya bu" ucap pak Dika sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2