
Akhir nya mereka pun sampai di depan rumah nya pak Hardian, mereka udah ngga sabar ingin ketemu Ara dan Zila.
Tanpa sepengetahuan mereka semua, Ara dan Zila sedang sembunyi di balik pintu kamar dengan tangan masing- masing memegang buket bunga.
Mereka pun akhir nya masuk dan langsung menuju ke dalam kamar Anggar.
"Nak, kamu sakit ap, pa" teriak bu Malika sambil membuka pintu kamar Anggar.
"Selamat datang ibu, selamat datang mamah" teriak Ara dengan bibir tersenyum sambil memandang ke arah bu Malika dan Bu Carlota yang sedang kaget melihat kondisi Ara.
"Selamat datang omah, selamat datang Uti" teriak Zila dengan wajah bahagia nya.
"Nak, kamu? Mereka berdua pun mengucapkan kalimat yang sama dengan wajah kaget nya.
Ara pun mengangguk sambil merentang kan sebelah tangan nya, karena sebelah tangan nya lagi memegang bunga.
"Iya bu, mah, Ara hamil dan usia kehamilan Ara sekarang empat bulan" ucap Ara sambil tersenyum.
Bu Malika mengambil bunga yang berada di tangan Ara sedangkan bu Carlota mengambil bunga yang ada di tangan nya Zila.
Lalu mereka pun memeluk Ara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Alhamdulilah ya Allah, akhirnya do\*a kita di kabulkan" teriak bu Malika.
"Zila mau punya adik omah, Uti" ucap Zila.
"Iya sayang, berarti kamu harus lebih mandiri lagi dan harus menyayangi dan menjaga adik nya selalu" ucap bu Malika sambil mengelus puncak kepala Zila.
"Iya Uti" jawab Zila.
"Ya sudah ayo kita ke bawah, sekalian mamah mau mengenalkan kamu sama calon ayah mu" ucap bu Carlota.
"Ayo omah, uti, Zila juga mau kenalan sama, omah Zila panggil nya apa? Tanya Zila bingung.
"Panggil kakek aja" jawab bu Carlota.
"Oke deh, ayo kita ke bawah" Zila pun antusias sekali ingin bertemu dengan kakek baru nya.
__ADS_1
Mereka pun akhir nya turun ke bawah dengan menggandeng Ara dan menggenggam tangan nya Zila.
"Pah, lihat deh kita bakalan punya cucu lagi" teriak bu Carlota sambil berjalan menghampiri suami nya yang sedang berbincang dengan dokter Rendra dan Anggar di ruang keluarga.
Pak Hardian yang lagi asik ngobrol bareng dokter Rendra dan Anggar pun spontan mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah istri dan menantu nya yang sedang berjalan menghampiri nya.
"Kamu sedang mengandung nak? Kenapa ngga bilang-bilang? Sudah berapa bulan sekarang? Tanya pak Hardika dengan wajah bahagia nya.
"Iya pah, sekarang mau empat bulan, pokok nya ngga lama papah, mamah dan ibu pergi aku di nyatakan positif" jawab Ara.
"Oh ya nak kenalin ini dokter Rendra yang menjaga dan yang mengobati ibu" ucap bu Malika.
"Dan juga yang menyayangi dan mencintai tentu nya" ucap bu Carlota sambil tersenyum.
"Ta, please deh" ucap bu Malika sambil menatap kesal kepada bu Carlota, sedangkan bu Carlota yang di tatap seperti itu hanya tersenyum.
"Kenalkan saya Rendra" ucap dokter Rendra sambil mengulurkan tangan nya.
"Saya Sahara om, putri satu-satu nya ibu yang om cintai" jawab Ara lalu mencium telapak tangan nya dokter Rendra.
"Kakek kenalkan Aku Zila anak mamah yang paling cantik" Zila pun memperkenalkan dirinya lalu mencium telapak tangan dokter Rendra.
"Cantik sekali kamu nak, mau ikut kakek ngga ke Singapoera? Nanti kita keliling di sana" ajak dokter Rendra sambil tersenyum.
"Ngga ah kakek, nanti saja main kesana nya kalau adik bayi sudah keluar" jawab Zila.
"Ya sudah kita langsung bahas aja masalah kehamilan Ara" ucap pak Hardian.
Kini mereka pun sudah berkumpul di ruang keluarga yang luas itu untuk membahas rencana pesta pernikahan Anggar dan Ara.
"Nak, papah kan sudah janji sama kalian mau mengadakan pesta pernikahan kalian sepulang kami dari Singapoera, dan ternyata Ara sekarang sedang mengandung, gimana kalau seandainya nya sehabis pesta pernikahan kita lanjutkan ke syukuran kehamilan kamu" tanya pak Hardian.
"Ara sih terserah papah dan mamah saja, apapun keputusan kalian Ara menyetujui dan mengikuti nya" jawab Ara sambil menggenggam tangan suami nya.
"Mamah ada usul pah, gimana kalau pernikahan nya Rendra dan Malika di satu kan juga sama pesta Ara dan Anggar" ucap bu Carlota.
"No, aku ngga mau Ta, seandainya mas Rendra mau menikahi ku, aku ingin pernikahan yang biasa saja, cukup izab kabul saja dan di saksikan oleh kalian, kita sudah tua ngga perlu ada pesta pernikahan lagi" ucap bu Malika.
__ADS_1
"Tapi kan kalau Rendra nya mau ada pesta gimana? Tanya bu Carlota.
"Mas" panggil bu Malika dengan tatapan memohon nya.
"Terserah kamu saja, aku ngga masalah, mau ada pesta ayo, ngga juga ngga apa-apa" jawab dokter Rendra.
"Bentar-bentar, sejak kapan kamu manggil Rendra mas? Tanya bu Carlota.
"Ya kan ngga sopan juga kalau harus manggil nama, dia kan lebih tua dua tahun dari aku" jawab bu Malika.
"Mah sudah dong jangan godain Malika lagi, kamu ini jahil nya minta ampun" ucap pak Hardian.
"Selagi masih bersama kita aku ingin puas dulu godain Malika" jawab bu Carlota sambil tersenyum.
"Memang nya ibu mau kemana mah? Tanya Ara.
"Ya kan kalau ibu kamu dan Rendra menikah pasti nya ibu kamu di bawa sama Rendra ke Sigapoera" jawab bu Carlota.
"Ngga kok Ta, kalau aku sih gimana Ika saja, kalau dia mau ikut sama aku ayo, kalau masih mau sama Ara juga ngga apa-apa, biar aku saja yang bolak balik ke sini" jawab dokter Rendra.
"Om, kalau om memang menyayangi dan mencintai ibu, saya rela ibu di bawa om ke Singapoera, karena om menikahi ibu, bukan hanya untuk status saja, tapi ibu dan om harus saling mencintai, menyayangi, saling menjaga dan saling melengkapi" jawab ARa bijak.
"Makasih nak, kamu sangat pengertian sekali" jawab dokter Rendra.
Semua pun tersenyum bahagia mendengar jawaban Ara.
"Ya sudah kembali ke pembicaraan tadi, berarti kita adain syukuran kehamilan hari sabtu dan hari minggu nya pesat pernikahan kalian, gimana? tanya pak Hardika.
"Minggu kapan pah? Tanya Anggar.
"Minggu besok saja, berarti ada waktu lima hari untuk mempersiapkan semua nya" jawab pak Hardian.
"Tapi pah, kalau minggu besok memang nya akan siap semua nya? Tanya Ara.
"Serahkan semua nya pada papah, pokok nya kalian siapkan diri kalian saja" jawab pak Hardian.
Mereka pun akhir nya sepakat dengan keputusan yang di berikan oleh pak Hardian.
__ADS_1