
Sebelum jam makan siang tiba, Ara sudah menjemput Nia ke sekolahan nya dan kini mereka sudah berada di kantor Anggar.
"Papah" teriak Rania sambil membuka pintu ruangan Anggar.
"Hai anak papah yang cantik, gimana belajar nya hari ini, bisa ngga? Tanya ANggar sambil memeluk dan mencium Nia.
"Bisa dong pah, Nia kan pintar" jawab Nia.
"Iya dong, anak papah harus pintar" jawab Anggar sambil melepas kan pelukan nya dan berganti memeluk dan mencium Ara.
"Gimana pah, kita langsung ke showroom apa makan siang dulu? Tanya Ara.
"Kita makan siang aja dulu, habis itu kita ke showroom, kerjaan papah santai kok ngga terlalu sibuk." jawab Anggar.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat" ajak Anggar.
"Ayo nak kita makan siang dulu" ajak Ara.
"Baru juga duduk, udah diajak pergi lagi" jawab Nia sambil turun dari sofa membuat Anggar dan Ara tersenyum mendengar omongan Nia.
"Kan nanti juga duduk lagi di cafe sambil makan" jawab Anggar.
Tapi kan bukan di ruangan papah" ucap Zila sambil mengerucut kan bibir nya.
"Nanti kapan-kapan kita ke sini lagi oke." ucap Ara.
"Oke deh mah, ya sudah ayo berangkat, tadi katanya ngajak pergi sekarang malah diam tatap-tatapan" ucap Zila.
"Iya ayo sayang, kamu lucu sekali sih anak siapa sih ini? Ucap Anggar sambil mengelus puncak kepala Zila.
"Anak tetangga" bisik Ara.
"Yang, awas kamu ya? Ucap Anggar pelan dengan mata sedikit melotot.
"Lagian pakai nanya lagi anak siapa" jawab Ara sambil berjalan di samping Anggar.
*
*
Setelah makan siang, mereka pun langsung pergi ke showroom motor terdekat, Ara langsung memilih motor gede dan juga keren.
"Menurut mamah motor mana yang akan kita kasih buat Nathan? Tanya Anggar sambil melihat motor-motor yang berada di showroom tersebut.
"Mamah suka yang ini pah." ucap Ara sambil menyentuh salah satu motor gede yang ada di showroom tersebut.
"Oke juga pilihan mamah" jawab Anggar sambil tersenyum.
"Silahkan tuan, nyonya pilih yang mana? Tanya SPG motor itu dengan sopan.
"Saya pilih yang ini saja mbak" jawab Ara sambil tersenyum.
"Mah, tanya dulu harga nya, baru kita beli" ucap Anggar.
__ADS_1
"itu mah urusan papah, kan urusan mamah cuma pilihin doang."jawab Ara.
Para SPG pun tersenyum mendengar ucapan dari Ara.
"Nah gini nih, semua wanita sama, ujung-ujung nya yang bayar suami nya" jawab Anggar sambil mengeluarkan ATM dari dompet nya.
"Ya iya lah suami nya, masa suami tetangga." jawab Ara sambil tersenyum.
"Mah, perasaan dari tadi bawa-bawa suami tetangga terus" bisik Anggar.
"Lah, emang iya kan? Coba aja papah pikir sendiri." jawab Ara.
"Sudah lah papah may bayar dulu" ucap Anggar sambil menghampiri bagian kasir.
"Silahkan ibu menunggu di sana sambil mencicipi hidangan dari kami." ucap SPG tersebut.
Memang di showroom tersebut menyediakan cemilan buat para pembeli nya, biar mereka nyaman menunggu.
Ara dan Nia pun duduk di tempat yang sudah di sediakan oleh pihak showroom, Nia memakan cemilan yang ada di meja sambil menunggu Anggar yang lagi melakukan pembayaran.
*
*
Motor pun kini sudah berada di garasi rumah nya Anggar.
Anggar dan Ara sudah berada di rumah lagi, mereka sedang duduk santai di temani Rania si bungsu.
Nathan pulang dari sekolah seperti biasa nya, tapi wajah nya masih terlihat sedikit murung.
"Bagus mah, Nathan dapat nilai tinggi." jawab Nathan sambil mencium telapak tangan nya Ara.
"Bagus, itu baru anak mamah dan papah sekarang ganti baju lalu makan dulu nak" ucap Ara sambil melirik ke arah Nathan, lalu melirik ke arah suami nya.
"Iya mah, Nathan ganti baju dulu" jawab Nathan sambil pergi ke kamar nya.
Ara pun memandang punggung Nathan sambil sedikit tersenyum.
"Ngga tega ya pah lihat wajah nya yang muram seperti itu" ucap Ara pada suami nya.
"Dia bisa menutupi kesedihan nya, lihat saja senyuman nya itu, menyiratkan kesedihan di hati nya." jawab Anggar.
Nathan pun kembali menemui orang tua nya dan duduk di depan mereka.
"Nak, makan dulu sana" ucap Ara.
"nanti saja ah mah, masih kenyang tadi makan jajanan di kantin." jawab Nathan.
Ara melirik Anggar suami nya yang lagi duduk di samping nya.
"Mamah lihat kamu sekarang-sekarang seperti nya kurang semangat dek, kenapa? Ada apa? Ayo cerita ke mamah? Tanya Ara.
"Ngga apa-apa mah, Nathan lagi capek aja" jawab Nathan.
__ADS_1
Selagi mereka lagi berbincang sambil menikmati cemilan terdengar suara motor berhenti di halaman.
"Siapa itu mah? Tanya Anggar sambil melirik ke arah depan.
"Itu paling kakak sama teman cowok nya" jawab Ara.
"Yang buat dia tersenyum-senyum itu? Tanya Anggar.
"Iya, namanya Aksa, mamah lihat sih dia sopan dan baik tapi belum tahu juga sih pah, soal nya kan baru ketemu."jawab Ara.
Nathan yang mendengar suara motor langsung berlari keluar.
""Udah pulang dek? Tanya Zila yang baru turun dari motor Aksa.
"Udah kak." jawab Nathan sambil menatap damba pada motor gede Aksa.
"Kenapa? Mau ya motor seperti ini? Tanya Zila.
"Mau coba dek, kalau mau pakai aja" ucap Aksa.
"Ngga kak, makasih, aku belum punya sim" jawab Nathan.
"Kan nyoba nya di sekitaran sini aja dek, ngga di jalan besar." jawab Aksa.
"Kakak emang tahu artinya SIM apaan? Tanya Nathan
"Tahu lah kan kakak juga punya" jawab Aksa.
"Apa coba? Tanya Nathan.
"Surat Izin Mengemudi."jawab Aksa.
"Salah" ucap Nathan.
"Kok salah benar lo, ini lihat saja SIM kakak." jawab Aksa sambil mengambil dompet di saku belakang celana nya.
"SIM adek ku yang di maksud itu, Surat Izin dari Mamah." jawab Zila sambil tersenyum.
"Ya ampun, kalian ini bisa saja, jadi kamu belum ada izin dari mamah kamu ya dek." ucap Aksa.
Nathan cuma diam dan mengangguk dengan wajah sedih nya.
"Udah lah jangan bahas motor, ayo kita masuk." ajak Zila.
Aksa pun mengikuti langkah Zila masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Nathan masih memandang motor milik Aska dengan penuh harap.
"Andaikan aku punya motor seperti ini, tapi mamah ngga mengizinkan aku untuk punya motor, tapi kalau seandainya aku punya motor, aku janji aku ngga bakalan ugal-ugalan dan akan bertanggung jawab dengan apa yang aku miliki, aku akan selalu menjaga diri aku sendiri" gumam bathin Nathan sambil mata terus memandang ke arah motor Aksa.
__ADS_1