
Anggar pun melangkah masuk ke dalam kantor, sebelum masuk dia melihat dulu ke arah gerbang, bibir nya tersenyum kala melihat Ara istri nya sudah masuk ke pelataran kantor.
Dengan wajah yang fresh dan bibir yang selalu menyungging kan senyuman membuat para karyawan heran dan kagum karena ketampanan nya.
"Wah pak Anggar makin tampan dan fresh aja ya wajah nya" kata karyawan wanita.
"Iya, roman-roman nya pak Anggar lagi jatuh cinta deh" jawab teman nya.
"Wah beruntung ya, yang jadi pendamping nya pak Anggar, walaupun duda dia itu masih muda, tampan, kaya lagi"
"Sudah-sudah ayok kita mulai kerja nya, nanti kena marah lagi" teriak salah satu karyawan wanita yang ikut nimbrung di antara mereka.
Anggar tidak memperdulikan omongan mereka, dia terus melangkah menuju ruangan nya.
"Pagi pak? Wah dua hari ngga masuk tambah fresh aja pak? Tanya Ranti setelah melihat Anggar yang mau membuka pintu ruangan nya.
Anggar cuma menjawab dengan singkat, "Pagi juga" lalu Anggar pun masuk ke dalam ruangan nya.
"Ah pak Anggar makin tampan dan fresh aja, mana tahan aku harus melihat nya setiap hari seperti ini" gumam Ranti sambil tersenyum.
Hari itu mereka disibukan dengan kerjaan masing-masing, hingga tidak terasa waktu pun sudah menunjukan jam makan siang.
Anggar pun memencet intercom lalu menghubungi pantry.
"Bu Hani tolong panggilkan Sahara ke ruangan saya" kata Anggar setelah bu Hani menerima panggilan nya lewat intercom yang ada di kantor itu.
"Baik pak" jawab bu Hani lalu menyimpan intercom nya kembali.
"Ara, kamu dipanggil pak Anggar di ruangan nya" teriak bu Hani.
Untung di pantry cuma ada mereka berdua saja, jadi yang lain tidak tahu kalau Ara di panggil ke ruangan Anggar.
__ADS_1
"Baik bu" jawab Ara, lalu pergi menuju ruangan Anggar.
Ara pun melangkah dengan hati yang sangat bahagia, karena selama ini dia hanya tahu ruangan Anggar dari luar saja, karena Anggar tidak ada yang mau masuk ke ruangan nya kecuali bu Hani, sekertaris nya dan keluarga nya.
Kalau sama klien Anggar memilih bertemu di luar kantor atau di ruang meeting.
"Berarti mas Anggar sudah menerima aku, bukti nya jam makan siang dia memanggil ku ke ruangan nya" gumam bathin Ara sambil tersenyum.
Ara tidak sadar kalau gerak gerik nya ada yang melihat dari awal datang sampai di depan pintu ruangan Anggar.
"Mau apa dia ke ruangan pak Anggar? Bukan nya pak Anggar ngga mau ada yang masuk kecuali bu Hani? Gumam bathin Ranti sambil terus menatap ke arah Ara yang sedang mengetuk pintu ruangan Anggar.
Pintu pun terbuka, Ara masuk dengan senyuman yang tersungging di bibir nya.
"Siang pak? Ada yang bisa saya bantu? Tanya Ara pada suami nya, Anggar pun berdiri lalu menghampiri istri nya.
"Kita lagi berdua kenapa harus memanggil pak? Emang aku ini bapak kamu" kata Anggar sambil memeluk Ara.
"Disini itu cuma ada kita berdua Sahara" Anggar pun menekan kan kata-kata Sahara agar Ara mengerti yang dia ingin kan.
"Iya, iya mas, terus mas kenapa manggil aku ke sini? Tanya Ara sambil melepaskan pelukan nya lalu duduk di sofa yang ada di ruangan Anggar.
"Kita makan siang bareng ya? ngga enak kalau makan siang sendirian" jawab Anggar.
"Biasa nya juga kan mas makan siang nya sendiri, kenapa sekarang tiba-tiba ingin di temani? Tanya Ara.
"Kan ada istriku di kantor ini, masa aku harus makan siang sendiri juga? Jawab Anggar sambil mengirup wangi rambut Ara.
"Wangi nya rambut istri ku" ucap Anggar lalu mencium rambut Ara.
"Mas, ini di kantor jangan macam-macam" kata Ara.
__ADS_1
"Aku ngga macam-macam Yang, cuma satu macam aja kok" jawab Anggar sambil terus mencium leher Ara.
"Mas please ini di kantor, aku ngga bawa baju ganti" bisik Ara sambil berusaha melepaskan pelukan Anggar.
Anggar seolah-olah tidak mendengar dengan apa yang di ucapkan Ara istri nya, dia malah makin mempererat pelukan nya.
Suara pintu pun di ketuk dari luar, ":Mas ada orang" bisik Ara sambil melepaskan pelukan Anggar.
"Ganggu saja" gumam Anggar sambil melepaskan pelukan nya.
"Pak ini pesanan nya, dan ini kembalian nya" kata seorang OB yang ternyata OB ini yang di suruh Anggar untuk membeli makan siang untuk dia dan istri nya.
"Oh iya, ya sudah kembalian nya kamu ambil saja, buat beli makan siang kamu" jawab Anggar sambil mengambil makanan lalu menutup pintu nya kembali.
"Wah ini sih buat beli makan siang tiga kali kalau buat saya" gumam sang OB dengan mata yang berbinar karena mendapat uang tips dari Anggar.
"Sering-sering aja pak nyuruh saya, lumayan buat beli susu anak" gumam nya lalu pergi dari ruangan pak Anggar sambil tersenyum bahagia.
"Dasar OB gendeng, pantas saja ngga boleh aku yang memberikan ke pak Anggar ternyata kamu menunggu uang tips nya" gumam Ranti yang kesal dengan OB itu.
Ranti memang dari tadi dia ngga kemana-mana, dia penasaran dengan apa yang dilakukan Ara di dalam ruangan Anggar.
"Kenapa tuh perempuan ngga keluar-keluar dari ruangan pak Anggar ya? Apa mereka makan siang bareng? Apa benar yang Dina katakan kemarin kalau mereka sering jalan berdua, ini tidak bisa di biarkan, jangan sampai pak Anggar tergoda lagi dengan perempuan seperti dia, pasti sudah banyak bos-bos perusahaan yang menjadi korban perempuan itu" gumam Ranti sambil terus menatap ke arah pintu ruangan Anggar.
"Awas kamu ya Ara, aku ngga akan biarkan kamu betah dan bertahan di kantor ini, kamu ngga sadar apa, kamu cuma seorang office girl di kantor ini" gumam Ranti.
"Hayo,,,, ibu lagi ngapain menatap ke arah pintu ruangan pak Anggar terus? Memang nya pak Anggar belum masuk juga bu? Tanya Dina sambil memberikan pesanan Ranti.
"Pak Anggar sudah masuk, tapi saya lagi nunggu perempuan itu keluar dari ruangan pak Anggar, saya tadi melihat dia masuk ke ruangan pak Anggar dan sampai sekarang dia belum keluar juga, entah apa yang dia lakukan sama pak Anggar di dalam" jawab Ranti sambil membuka makanan nya.
"Apa bu? Ternyata benar kan kecurigaan saya bu? Kalau mereka itu ada affair? Dina pun mulai menjadi kompor buat Ranti.
__ADS_1