
Di lobi perusahaan Ranti dan Dina sedang pada menunggu jemputan, terlihat Ara melintas di depan mereka.
"Simpanan bos-bos pasti pergi mencari mangsa lagi malam ini" kata Dina sambil melirik tidak suka kepada Ara.
"Ya, kalau yang di cari uang dan ngga pernah puas sama satu bos pasti semuanya dia layani termasuk pak Anggar, padahal setahu ku pak Anggar itu orang baik lo, tapi setelah kena rayuan dia, ko bisa lemah ya? Apa dia pakai pelet hingga bisa meluluh kan pak Anggar? Ucap Ranti.
"Mungkin juga, bu lihat saja nanti, pasti dia menemui pak Anggar kembali.
Ara yang mendengar semua omongan mereka pun hanya diam dan berlalu saja, karena pikir Ara percuma saja meladeni mereka, buang-buang waktu saja.
"Wah, songong dia bu, dia bahkan ngga melirik ke arah ibu, dia kan tahu pangkat ibu di sini sekertaris, dia cuma OB saja sombong" ucap Dina.
"Hari ini aku biarkan kamu Ara, tapi besok-besok lihat saja, ngga akan aku biarkan" gumam bathin Ranti.
"Ya sudah saya pulang, jemputan saya sudah datang" ucap Ranti sambil berlalu dari Dina.
Dina yang menunggu lama jemputan nya pun berjalan ke depan sendirian.
Ara berjalan menyusuri jalanan sampai dimana pagi tadi dia berhenti dan turun dari mobil suami nya.
Suara klakson mobil pun mengagetkan dirinya, lalu melihat kearah mobil yang dia kenal sambil tersenyum.
"Ayo Yang naik" ajak Anggar.
Ara pun naik ke dalam mobil Anggar, Ara tidak mau memberitahukan semua yang terjadi di kantor karena Ara takut mereka di pecat, Ara bukan salah satu orang yang suka memutuskan rezeki orang.
Ara tidak menyadari nya kalau ada seseorang yang melihat diri nya dari kejauhan.
"Itu Ara kan? Jadi benar semua yang di omongin Dina? Gumam bu Hani.
Ya yang melihat dari jauh itu adalah bu Hani, bu Hani yang memang pulang nya selalu belakangan tidak sengaja melihat Ara yang sedang berdiri di ujung jalan.
Tadi nya bu Hani mau menemui dan mengajak nya pulang bareng, tapi ternyata Ara sudah naik ke mobil nya pak Anggar.
__ADS_1
"Kamu nyanyi mulai nya jam berapa Yang? Tanya Anggar pada istri nya, lalu melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
"Jam delapan mas, kayak nya langsung ke cafe saja, kalau pulang dulu nanti takut nya aku ketiduran" jawab Ara sambil tersenyum.
"Memang nya kamu bawa ganti buat nyanyi? Masa pakai baju itu? Tanya Anggar sambil melirik ke arah Ara.
"Bawa mas itu di belakang, sengaja pagi tadi aku simpan di sana biar ngga repot nanti" jawab Ara sambil menunjuk kearah jok belakang.
"Kapan kamu nyimpan di situ Yang? Kok aku ngga lihat tadi pagi? tanya Anggar.
"Makanya mas jangan sibuk sama ponsel terus, tadi kan pas Zila duduk di sana aku ikut naro baju di sana" ucap Ara.
Anggar pun terdiam karena memang dirinya tadi sibuk bermain ponsel sebelum berangkat, Anggar pun melajukan mobil nya ke Cafe Leonal.
"Sudah mas aku turun di sini saja, aku ngga enak sama yang lain nya" ucap Ara.
"Aku antar saja sampai depan, biar kamu ngga capek jalan kaki" kata Anggar.
"Ya sudah kalau begitu minggu depan kita adakan pesta pernikahan kita" jawab Anggar.
"Ngga bisa mas, kalau minggu depan" jawab Ara.
"Kenapa ngga bisa? Biar semua aku yang urus, kamu diam saja" ucap Anggar.
"Karena ibu mau di bawa ke Luar Negeri sama mamah dan papah, ibu mau di bawa berobat sampai ibu benar-benar sehat, baru kita bisa melaksanakan pesta pernikahan kita" jawab Ara.
"Kok papah sama mamah ngga ngomong ke aku ya? Gumam Anggar yang masih bisa di dengar oleh Ara.
"Mungkin belum, mungkin masih mencari waktu yang tepat buat ngomong ke mas nya" ucap Ara, Anggar pun mengangguk paham.
"Ya sudah aku masuk dulu ya mas, mas pulang saja kasihan Zila di rumah" Ara pun menyuruh Anggar pulang.
__ADS_1
"Tapi nanti aku jemput kamu ya Yang? Kamu ngga boleh pulang sendiri" kata Anggar.
"Mas, kamu istirahat saja, biar pak Roni saja yang jemput, besok mas kan kerja" jawab Ara sambil tersenyum.
"Kamu juga besok kerja Yang? Aku jadi ingin bilang ke pak Leonal kalau kamu adalah istriku dan minta untuk berhenti bernyanyi" jawab Anggar dengan tatapan sendu.
"Jangan mas, biarkan masa kerja ku habis dulu setelah itu aku berhenti, aku akan fokus sama rumah tangga kita, aku janji" kata Ara sambil menatap ke arah Anggar.
"Ya sudah terserah kamu saja lah, ngomong apapun aku percuma, pasti kamu yang menang" ucap Anggar pasrah.
Ara pun mendekati Anggar lalu mencium pipi Anggar, "Sudah jangan marah, walaupun aku kerja siang dan malam, tapi aku akan kasih servis buat kamu mas" ucap Ara lalu mencium pipi Anggar lagi.
Anggar pun menatap ke arah Ara lalu meraup bibir Ara dan sedikit menjelajahi nya.
"Sudah mas cukup, bukan nya aku nyanyi, tapi aku di gerebek yang ada nanti nya" ucap Ara sambil melepaskan ciuman ya.
"Siapa yang berani gerebek pasangan suami istri? Yang ada aku yang akan melaporkan mereka.
"Mau pasangan suami istri mau bukan ya pasti di gerebek, kan kita lagi di mobil bapak Anggar yang terhormat" ucap Ara sambil tersenyum.
Anggar pun terdiam dan mercerna semua yang di katakan Ara, "Benar juga ya" gumam nya.
"Ya sudah aku masuk ya mas" ucap Ara lalu mencium telapak tangan Anggar, Anggar pun mencium kening nya Ara.
"hati-hati Yang, jaga pandangan dan jaga hati kamu, awas kalau dekat-dekat sama yang namanya Jo" kata Anggar.
"Iya suami ku? Wah rupanya suami ku ini mulai cemburu dan posesif" Ara pun bercanda sambil menggerling kan sebelah mata nya.
"Kalau ini di kamar sudah ku buat kamu ngga berdaya Yang" ucap Anggar yang gemas melihat istri nya.
"Untung nya ini lagi di pinggir jalan" kata Ara lalu melambaikan tangan nya dan pergi meninggalkan Anggar.
__ADS_1
Anggar pun menatap kepergian istri nya, kamu seperti almarhumah Anya, ceria, pekerja keras, cantik, ah kenapa aku jadi bandingin dia sama almarhumah, maaf kan aku Yang? Kamu bahagia di sana, kamu tetap ada di hati aku kok" gumam Anggar lalu melajukan mobil nya.