Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Pesan Pak Hardian


__ADS_3

Waktu terus berlalu, kini adik Nathan sudah berusia sepuluh tahun dan Zila sudah berumur tujuh belas tahun.



Pak Hardian yang memang usia nya sudah renta pun kini sering sakit-sakitan, dan bu Carlota pun masih setia mendampingi nya di sisa hidup nya.



Sedang kan bu Malika sudah ngga bisa bolak balik Indonesia Singapoera lagi, selain karena usia yang sudah renta, dia juga sering capek dan letih.



Sebulan sekali Ara dan Anggar mengunjungi ibu nya di Singapoera, Ara sudah menyarankan untuk ibu nya supaya mau tinggal bersama diri nya, tapi bu Malika menolak nya, karena ingin berbakti kepada suami nya di sisa hidup nya.



Pak Hardian tiba-tiba ngedrop dan langsung di larikan ke rumah sakit.



Bu Carlota pun setia menunggu suami nya di rumah sakit, Anggar dan Ara sering membujuk bu Carlota agar pulang ke rumah, tapi bu Carlota bersi keras mau menunggu suami nya sampai sembuh dan pulang kembali ke rumah.



Ara yang memang baru dua bulan lalu melahirkan anak ke dua nya pun ngga bisa menjaga mertua nya di rumah sakit, Ara hanya mengutus bi Ratna pelayan baru pengganti bi Nani yang sudah tidak ada.



Ara selalu memantau kesehatan mertua nya lewat bi Ratna.



"Mah, kalau papah pergi mamah harus ikhlas ya? Mamah jangan menangis, mamah tahu kan kalau papah ngga suka melihat mamah menangis karena sedih" ucap pak Hardian dengan suara lemah nya.



"Pah, papah jangan bicara seperti itu, kalau papah pergi mamah ikut, mamah ngga sanggup harus hidup tanpa papah" jawab bu Carlota sambil menahan tangis nya.



"Papah selalu mencintai mamah dari dulu sampai sekarang, mah tolong panggilkan Anggar, Ara, Zila dan Nathan kesini ya. Papah ingin bertemu mereka untuk yang terakhir kali nya" ucap pak Hardika sambil tersenyum.



"Pah, please jangan ngomong seperti itu, papah akan sembuh, papah akan selalu baik-baik saja" ucap bu Carlota dengan suara tercekat karena menahan tangisan nya.



"Mah, please papah ingin bertemu mereka" pinta pak Hardian dengan suara lemah nya.



"Baik pah, mamah akan menyuruh mereka kesini" ucap bu Carlota lalu memanggil Ratna untuk menghubungi mereka.



Ratna pun langsung menghubungi Anggar yang masih berada di kantor.



"Iya bi, kenapa? gimana papah sekarang? Tanya Anggar.



"Pak, mohon bapak sekarang juga ke rumah sakit, tuan besar ingin bertemu bapak sekarang juga, saya takut ada apa-apa, jadi tolong bapak segera kesini ya? Ucap Ratna.



"Baik, saya kesana sekarang juga" jawab Anggar, lalu pergi ke rumah sakit.

__ADS_1



Setelah menghubungi Anggar, Ratna pun menghubungi Ara.



"Halo bu, maaf saya mengganggu ibu" ucap Ratna.



"Iya bi, kenapa? Ngga ada apa-apa kan? Tanya Ara.



"Itu nyonya, tuan besar meminta anda dan anak-anak kesini sekarang juga, katanya beliau ingin bertemu untuk terakhir kali nya" ucap Ratna.



"Ya ampun, ya sudah saya sekarang kesana bersama anak-anak" jawab Ara.



"Baik bu kalau begitu saya tunggu, ibu ngga kerepotan kan membawa Rania? Tanya bi Ratna.



"Ngga bi, untung Rania nya anteng hari ini, ya sudah saya siap-siap dulu bi" jawab Ara lalu memutuskan panggilan nya.



"Zila nak, sini sebentar" teriak Ara sambil menyiapkan keperluan Rania.



Rania ini adalah anak ke dua Ara dan Anggar, yang baru dua bulan lahir ke dunia.




"Tolong kamu bantu Nathan siap-siap, kita ke rumah sakit sekarang, opah ingin ketemu kalian" ucap Ara.



"Baik mah, kalau begitu Zila ganti baju dulu." jawab Zila lau pergi ke kamar Nathan dan menyuruh Nathan untuk siap-siap.


*


*


Mereka pun sudah di perjalanan ke rumah sakit dengan di antar oleh Pak Randi sopir baru mereka.


"Papah ke rumah sakit juga ngga mah? Tanya Nathan.



"Katanya sih tadi mau datang juga, karena opah yang meminta kita datang semua nya" jawab Ara.



Mobil pun masuk ke pelataran parkir rumah sakit, Ara dan anak-anak nya pun turun dari mobil dan langsung menuju ruangan dimana mertua nya sedang di rawat.



"Mas, baru sampai juga? Tanya Ara yang kini berada di depan lift nunggu lift terbuka.



"Iya Yang, sini Rania sama papah, kasihan mamah kamu berat nak" ucap Anggar sambil mengambil Rania dari pangkuan Ara istri nya.

__ADS_1



"Zila jangan main ponsel mulu, jagain adik nya" ucap Anggar sambil masuk ke dalam lift.



"Iya pah, Zila cuma balas pesan sebentar" jawab Zila sambil mengikuti langkah Anggar.



Kini mereka sudah berada di depan pintu ruangan pak Hardian di rawat.



"Mah" panggil Anggar sambil mencium telapak tangan ibu nya.



"Kalian sudah datang, ayo sini nak, opah kalian ingin bertemu kalian" ucap bu Carlota dengan mata yang sudah berkaca-kaca.



"Pah, mereka sudah datang lihat, semua nya sudah kumpul, bahkan Rania juga ikut ingin melihat opah nya sembuh." bisik bu Carlota.



Pak Hardian pun mengerjapkan kedua matanya lalu menatap satu persatu ke anggota keluarga nya.



"Nak, kamu jaga anak dan istri kamu, jangan sampai kamu menyakiti istri kamu, yang selalu ada di samping kamu, sayangi dia dalam kondisi apapun" ucap pak Hardian dengan suara pelan.



"Iya pah, Anggar janji akan selalu menjaga mereka" jawab ANggar dengan suara berat nya.



"Zila sayang, kamu sudah besar, kamu harus bisa menjaga diri kamu ya nak, dengarkan semua perkataan ke dua orang tua kamu, kamu jangan sekali-kali membantah nya" ucap pak Hardian sambil ,mengelus tangan Ara.



"Iya opah, Zila janji akan selalu menjaga diri Zila dan juga mendengarkan perkataan mamah dan papah" jawab Zila lalu mencium kening pak Hardian.



Satu per satu pak Hardian memberikan pesan kepada anak, menantu dan cucu-cucu nya.



"Nak tumbuhlah menjadi anak yang sholehah ya? Maaf opah ngga lama menemani kamu seperti opah menemani kakak-kakak kamu.



"Mah, maaf kan papah kalau selama ini papah belum bisa membuat mamah bahagia, papah minta sama mamah jangan bersedih, selalu tersenyum lah, papah suka sekali melihat mamah kalau lagi tersenyum" ucap pak Hardian sambil menatap lekat istri nya.



"Tidak, papah selalu membahagiakan mamah, mamah sangat di ratu kan oleh papah selama ini, yang seharusnya minta maaf di sini adalah mamah, maaf kan mamah pah, mamah selalu marah-marah ngga jelas sama papah" bu Carlota sudah ngga kuat lagi menahan air mata nya.



"Sekarang papah sudah tenang untuk pergi, papah tunggu di syurga mah" ucap pak Hardian lalu menghembuskan nafas terakhir nya.



"Papah,"


__ADS_1


"Opah,"


__ADS_2