
"Maaf kan saya pak Anggar, saya ngga tahu kalau Ara ini adalah istri bapak" Ranti pun memohon sambil menangis.
Ranti menyesal dengan apa yang telah dia lakukan pada Ara, dia terobsesi dengan Anggar.
"Terus kalau dia bukan istri saya? Apa kamu juga akan minta maaf? Ternyata penilaian anak saya kepada kamu ngga salah, kamu memang wanita jahat, apa sebenar nya yang kamu ingin kan hingga kamu melakukan perbuatan keji ini hah! Teriak Anggar.
Ara pun mengelus lembut dada suami nya agar bersabar. "Mas" ucap Ara sambil mengelus dada suami nya.
"Karena saya mencintai bapak, tapi bapak sedikit pun tidak pernah melihat saya, padahal saya ini kurang apa di banding kan dia yang hanya seorang office girl, saya bahkan lebih cantik dari dia" teriak Ranti, dia tersulut lagi emosi nya ketika melihat Ara yang di peluk mesra oleh Anggar.
"Kamu mau tahu perbedaan kamu dengan Ara, saya tidak akan menjawab nya, tapi saya akan bertanya kepada kedua satpam ini, mereka laki-laki pasti mereka tahu karakter yang di pilih untuk di jadikan nya pendamping hidup" jawab Anggar.
"Pak satpam anda sebagai laki-laki, kalian memilih wanita yang seperti apa untuk kalian jadikan pendamping hidup kalian? Tanya Anggar sambil menatap ke arah satpam.
"Kami ingin memiliki pendamping hidup yang baik, saling menghargai, lembut, pekerja keras, kalau masalah cantik, semua wanita juga cantik, tapi saya lebih suka yang cantik di dalam nya, percuma wajah nya cantik tapi kelakuan dan tingkah laku nya bejad dan arogan " jawab salah satu satpam.
"Dan kalau misalkan bapak menyuruh kita memilih antara bu Ranti dan non Ara kita berdua pasti memilih non Ara" jawab satpam itu yang mendapat tatapan tajam dari Anggar.
"Berani-berani nya kamu milih istri saya di depan saya" gumam Anggar dalam mode cemburu nya.
"Mas, pak satpam kan hanya memberikan contoh ngga usah marah ke pak satpam nya juga" kata Ara sambil mengelus tanagn Anggar supaya tenang.
Pak satpam itu sedikit tersenyum karena mendapat pembelaan dari Ara.
"Ternyata pak Anggar sangat mencintai Ara, beruntung kamu nak di cintai oleh pak Anggar, karena pak Anggar dari dulu setia oprang nya" gumam bathin bu Hani sambil sedikit tersenyum.
"Breng sek kalian, pangkat satpam saja belagu" kata Ranti sambil berontalk ingin di lepaskan.
"Kamu dengar kan? Bahkan seorang satpam pun tidak mau sama kamu, apalagi saya? Ya sudah pak bawa mereka ke kantor polisi, saya sudah muak melihat mereka di sini" teriak Anggar.
"Baik pak, kami akan membawa nya" jawab ke dua satpam itu lalu mereka membawa Ranti dan Dina.
"Lepaskan" teriak Ranti sambil terus di dorong untuk berjalan sama pak satpam.
__ADS_1
"Kalau begitu kita ke pantry biar saya yang obati pipi non" kata bu Hani dengan sopan.
"Bu" Ara pun protes dengan panggilan bu Hani kepada diri nya.
"Ya sudah kalau begitu saya tunggu di pantry saja, sekalian melihat Zila" ucap bu Hani lalu pergi meninggalkan Anggar dan Ara.
"Lebih baik pergi ke pantry saja, daripada jadi obat nyamuk" gumam bathin bu Hani dengan bibir tersenyum.
"Sakit ya Yang? Tanya Anggar sambil menyentuh pelan pipi Ara.
"Tadi sakit, tapi setelah melihat mas yang membela aku dan mengakui pernikahan kita di depan mereka sakit nya hilang" jawab Ara manja.
"Eh, bisa menggombal segala rupanya istri mas ini" ucap Anggar lalu mencium pipi Ara.
"Ya sudah ayo kita kembali ke ruangan kasihan Zila menunggu di sana" ajak Ara.
Anggar pun menggenggam tangan Ara menuju pantry.
"Mamah" teriak Zila yang melihat kedatangan Ara dan Anggar.
Susi yang melihat semua itu berasa mimpi, dia pun mencubit tangan nya sendiri, "Aduh sakit, berarti memang bukan mimpi" gumam bathin Susi sambil meringis.
"Mamah kenapa pipi nya merah? Tanya Zila sambil menyentuh pipi Ara.
"Papah, papah apain pipi mamah sampai merah begini? Teriak Zila yang membuat bu Hani dan Susi tersenyum karena lucu melihat Zila yang sedang marahin papah nya.
"Sayang papah ngga bersalah, ini tadi mamah pas lagi kerja kena ujung meja, jadi merah" jawab Ara berbohong, karena Ara ngga mau Zila yang masih anak kecil mengetahui tentang kekerasan yang dialami nya.
"Oh kirain sama papah, pasti sakit ya mah? Tanya Zila.
"Ngga kok, sayang, berasa di gigit semut" jawab Ara sambil tersenyum.
"Bu, tolong obati pipi nya Ara " perintah Anggar.
__ADS_1
"Baik pak" jawab bu Hani lalu menyiapkan air hangat dan salep di bantu oleh Susi.
"Aku akan menjebloskan mereka ke penjara" kata Anggar.
"Mas jangan bahas, ada Zila" bisik Ara.
Ara menatap ke arah Anggar dan Zila, "Sus, tolong bawa Zila beli cemilan dan juga beli cemilan buat kamu dan bu Hani" kata Ara sambil memberi kode kepada Susi.
Susi yang mengerti akan kode dari Ara pun langsung pergi mengajak Zila.
"Non Zila, ayo kita beli cemilan di mini market depan sama tante" ajak Susi.
"Zila mau nya sama mamah" jawab Zila.
"Sayang, pipi mamah lagi di obati sama bu Hani, jadi Zila sama tante Susi dulu ya? Nanti kalau pipi mamah sudah sembuh papah akan ajak Zila dan mamah jalan-jalan" Anggar pun merayu Zila anak nya.
"Beneran ya pah? kalau bohong papah nanti masuk neraka lo" jawab Zila.
Mereka semua tersenyum mendengar jawaban dari Zila.
"Iya sayang, papah janji, papah ngga akan bohong kok" jawab Anggar.
"Sekalian beliin mamah cokelat ya sayang, gara-gara pipi mamah sakit, mamah jadi ingin makan cokelat" kata Ara.
"Ya sudah tante, ayo kita beli cemilan dan cokelat buat mamah" ajak Zila sambil menarik tangan nya Susi.
Sedangkan bu Hani lagi fokus mengompres pipi Ara lalu mengoleskan salep pereda nyeri dan penghilang kemerahan di pipi nya Ara.
"Ini uang nya Sus" kata Anggar sambil memberikan lima lembar uang yang berwarna merah.
"Ini kebanyakan pak" kata Susi.
Ngga apa-apa, beli aja semua yang kamu mau" jawab Anggar, Zila dan susi pun pergi ke lantai bawah dan pergi ke mini market yang ada di depan kantor.
__ADS_1
"Pipi non Ara sudah saya kasih salep pak, kalau begitu saya permisi mau melanjutkan pekerjaan saya" bu Hani pun pamit, karena bu Hani tahu kalau Anggar dan Ara mau membicarakan hal yang penting.