
Mereka pun akhirnya tidur dalam satu ranjang dengan penghalang di tengah-tengah mereka, tapi tanpa mereka sadari karena cuaca yang begitu dingin di tambah AC yang menyala, mereka pun kedinginan dan mencari kehangatan.
Guling yang jadi penghalang pun entah kapan berpindah tempat jadi tergolek di lantai yang dingin itu, kini Anggar dan Ara pun tertidur dengan tubuh saling berpelukan.
Anggar yang merasa tubuh nya menjadi hangat pun terus memeluk tubuh Ara dengan erat, sedang kan Ara yang merasa nyaman dan hangat dalam pelukan Anggar pun makin terlelap tidur seakan-akan enggan untuk membuka matanya.
Hari pun menjelang pagi, Ara mengerjapkan mata nya karena merasakan tubuh nya berat seperti ada sesuatu yang menimpa diri nya.
Betapa kaget nya Ara setelah melihat kalau dirinya lagi dalam pelukan Anggar si duda keren. Eh, kan udah nikah ya? Berarti bukan duren lagi,
Ara pun menatap wajah tampan Anggar pada saat tidur.
"Suamiku tampan banget kalau lagi tidur begini, dan aku pun merasakan nyaman dalam pelukan nya, ah aku sudah terjerat sama mantan duda tampan ini" gumam Ara sambil tersenyum.
Anggar pun mengerjapkan mata nya, Ara yang melihat Anggar yang sudah bangun pun kembali memejamkan matanya pura-pura tidur.
Anggar kaget karena dia lagi memeluk Ara yang lagi tertidur, perlahan Anggar melepaskan pelukan nya dari Ara.
"Sial,, kenapa aku malah memeluk dia" gumam bathin Anggar sambil terus berusaha melepaskan pelukan nya.
Ara yang pura-pura tidur pun mau menjahili Anggar, Ara pun malah memeluk Anggar lebih erat lagi.
"Aduh, malah makin erat lagi meluk nya" gumam Anggar sambil menahan sesuatu di bawah sana.
Anggar lelaki normal, dia tidak mendapat kan sentuhan dari wanita selama tiga tahun lebih, jadi di kala dirinya sekarang di peluk seorang wanita pun ada yang memberontak di bawah sana.
Ara pun merasakan sesuatu yang keras di paha nya, Ara bukan anak kecil yang tidak tahu itu apa, jantung Ara pun berdegup kencang di kala membayangkan yang mengganjal di paha nya.
"Aduh, gawat, junior nya sudah bangun lagi, aku harus gimana ini" gumam bathin Ara.
__ADS_1
"Tong jangan bangun, ku mohon aku belum siap untuk sekarang" gumam bathin Anggar.
Anggar pun menatap ke wajah Ara yang sedang tidur menurut Anggar, padahal dia lagi pura-pura tidur.
"Cantik dan imut istri ku ini? ada apa dengan hati dan jantung ini, kenapa aku melihat dan dekat dia jantung ku berdebar ngga karuan begini.
Dengan suasana pagi yang dingin di tambah cuaca lagi hujan, ada rasa di hati Anggar yang mendorong dirinya untuk menyentuh Ara yang kini menjadi istri nya.
Perlahan Anggar menyentuh lembut pipi mulus Ara, sentuhan Anggar membuat Ara semakin gelisah dalam pelukan Anggar.
Anggar pun menyentuh bibir mungil Ara lalu ada dorongan dalam diri nya untuk mencium bibir Ara.
Kini bibir Anggar sudah bertemu dengan bibir Ara, hangat, hanya satu kata yang ada di pikiran mereka masing-masing saat ini.
Ara masih terdiam dengan melawan semua rasa yang ada pada dirinya.
Ara memang belum pernah di cium dan belum pernah merasakan ciuman, jadi dia bingung harus berbuat apa, selain hanya diam.
Anggar yang sudah lama ngga merasakan nya dan kini di pagi yang dingin ini Anggar merasakan kembali getaran-getaran yang merambah jiwa nya.
Anggar pun sedikit demi sedikit memberikan sentuhan buat Ara, dan mengajari Ara buat membalas nya.
Keduanya pun kini terlena dalam sentuhan bibir masing-masing, merasakan setiap debaran hati, Anggar yang sangat merindukan sentuhan setelah sekian tahun kini mendapat kan nya lagi, dan Ara yang baru merasakan sentuhan dari pasangan nya pun ikut terbuai dan terlena.
Mereka pun terus saling merasakan sentuhan dan debaran hati yang semakin keras hingga tak sadar kedua nya kini sudah tidak ada penghalang lagi pada tubuh mereka masing-masing.
Anggar dengan secara perlahan membimbing Ara yang memang baru pertama kali ini melakukan nya.
__ADS_1
Anggar melupakan semua nya, dia melupakan hati yang masih dia tutup untuk wanita lain, saat ini yang ada di benak nya hanya ingin menuntaskan yang ingin dia tuntaskan saat ini juga.
Akhir nya kedua insan itu telah mabuk dalam percintaan, mencurahkan segala perasaan yang bergejolak, Anggar yang sudah lihai dengan permainan nya terus membimbing Ara istri nya.
Ara sedikit mengeluarkan air mata nya dikala dia menyerahkan apa yang dia jaga selama ini untuk suami nya sendiri.
Anggar pun menghapus air mata Ara yang menetes lalu mencium kedua mata nya dengan lembut dan penuh kasih sayang, entah ada dorongan dari mana hingga Anggar bisa berbuat selembut itu kepada Ara.
Anggar dan Ara menghabiskan pagi yang dingin ini dengan penuh kenikmatan yang sudah lama ngga di rasakan oleh Anggar, dan baru di rasakan oleh Ara, karena untuk Ara ini adalah pengalaman pertama untuk dirinya.
Tubuh keduanya tampak tergeletak di atas tempat tidur, Anggar pun baru menyadari perbuatan kepada Ara lalu meminta maaf.
"Maaf kan aku" ucap Anggar sambil menatap langi-langit kamar nya.
"Bapak ngga usah minta maaf, karena ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai istri bapak" jawab Ara sambil meraih selimut yang tergeletak dan menutupi tubuh nya yang masih tanpa penghalang apa pun.
"Apa aku ini sudah tua, sehingga kamu memanggil saya dengan panggilan bapak? Tanya Anggar sambil membalikan tubuh nya hingga menatap wajah Ara yang sedang malu dengan apa yang sudah terjadi barusan.
"Emm, aku masih bingung harus manggil bapak dengan panggilan apa, bapak kan atasan saya juga, kalau saya manggil dengan nama kan ngga enak pak" jawab Ara.
"Di kantor saya memang atasan kamu tapi di sini dan mulai sekarang kamu kan istri saya dan ibu nya Zila" kata Anggar yang masih kaku dengan panggilan.
"Di depan Zila kamu harus panggil saya dengan panggilan papah, kalau lagi berdua terserah kamu asal jangan panggil langsung nama dan panggil saya bapak, cukup di kantor saja kamu panggil saya bapak karena pernikahan kita belum ada yang tahu" ucap Anggar.
"Dan saya minta maaf, saya belum bisa membuat pesta pernikahan untuk kamu, kamu bisa menunggu dengan sabar kan? Tanya Anggar sambil menatap wajah Ara.
Ara pun mengangguk sambil memegang erat selimut tebal nya yang menutupi tubuh nya.
__ADS_1
"Papah,,,,,mamah,,,,,bangun udah siang" teriak Zila sambil menggedor-gedor pintu kamar Anggar.