Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Menunggu Restu


__ADS_3

FLASHBACK


Pak Hardian, bu Carlota dan bu Malika pun kini sudah sampai di hotel dimana mereka menginap.



"Kamu istirahat saja Ka, aku mau ke kamar ku sebentar ya? Ucap bu Carlota.



"Makasih ya Ta" ucap bu Malika sambil mengangguk.



Bu Carlota pun masuk ke dalam kamar nya, lalu mengambil ponsel dan menghubungi Ara menantu nya.



"Halo sayang, lagi apa? Tanya bu Carlota setelah Ayu menerima panggilan dari nya.



"Halo juga mah, biasa mah baru pulang jemput Zila sekolah" jawab Ara.



Ya, Zila sudah masuk sekolah dasar, dan selama Ara tidak merasakan keluhan apa pun Ara pasti akan mengantar atau menjemput Zila ke sekolah.



"Kalian pada sehat kan? Zila nya mana sekarang? Gimana udah ada tanda-tanda belum? Tanya bu Carlota.



"Alhamdulilah mah, gimana mamah, papah dan ibu? Zila lagi di kamar nya mah" Ara tidak menjawab pertanyaan mertua nya karena ia dan suami nya masih merahasiakan kehamilan nya.



"Alhamdulilah nak, ibu mu juga sudah sehat dan minggu depan kita akan pulang ke Indonesia" jawab bu Carlota.



"Beneran mah? Alhamdulilah" Ara pun bersyukur dengan kesembuhan ibu nya.



"Tapi nak, ada kabar yang ingin mamah sampaikan sama kamu" ucap bu Carlota.



"Apa mah? Tanya Ara penasaran.



"Begini nak,....." bu Carlota pun menceritakan dari awal dokter Rendra dan bu Malika pacaran dan sampai sekarang mereka di pertemukan lagi.



Ara pun mendengarkan dengan seksama dan mencerna semua ucapan mertua nya.


__ADS_1


"Begitu lah nak cerita nya, mamah mau tanya sama kamu, gimana kalau misalkan dokter Rendra ingin menjalin rumah tangga bersama ibu kamu? Tanya bu Carlota kepada Ara.



"Ya kalau memang ibu masih ada rasa sayang kepada dokter Rendra, terus ibu nya mau menerima dan dokter Rendra pun mau menerima ibu dan Ara apa adanya, Ara sih ngga apa-apa mah, mungkin mereka berjodoh nya dimasa mereka sudah berumur, Ara ngga akan menghalang-halangi ibu dan dokter Rendra untuk bersatu." jawab Ara dengan bijak.



Bu Carlota pun merasa senang dan bahagia mendengar jawaban dari Ara menantu nya.



"Makasih nak, kamu sudah berbesar hati untuk melepaskan ibu kamu untuk Rendra, jujur mamah juga mendukung mereka untuk bersatu, sengga nya di masa tua ibu kamu ada seseorang yang sangat menyayangi, mencintai dan menjaga nya" ucap bu Carlota dengan bibir tersenyum.



"Iya mah, Ara juga bahagia jika ibu bahagia" jawab Ara.



"Ya sudah kalau begitu mamah matikan telepon nya dulu ya sayang, mamah mau mandi, ini baru pulang dari rumah sakit, nanti kalau ada kabar tentang ibu kamu dan dokter Rendra mamah akan langsung menghubungi kamu" ucap bu Carlota.



"Iya mah" jawab Ara lalu mematikan ponsel nya.


*


*


Dan malam ini Ara pun menerima kembali video call dari mertua nya, dia melihat ke layar ponsel yang menampakan ibu nya sedang di lamar oleh pria masa lalu nya.



"Mamah, lihat deh mas, walaupun sudah tua tapi soswet deh" ucap Ara sambil melihatkan layar ponsel nya dimana di situ ada seorang pria yang sedang duduk bersimpuh dengan sebuket bunga di tangan nya.



"Siapa om itu Yang? tanya Anggar sambil tetap fokus melihat ke arah ponsel.



"Itu adalah pria masa lalu nya ibu, dia menutup hati nya hanya untuk ibu seorang, dan mereka di pertemukan kembali di rumah sakit, dan pria masa lalu nya ibu ini ingin menjadikan ibu sebagai istri nya" jawab Ara.



"Kamu kok tahu banyak sih Yang? Memang nya kamu tahu dari mana? Anggar kembali bertanya.



"Dari mamah tadi siang, udah kita fokus saja ke ibu dan om itu, mas jangan berisik" kata Ara membuat mertua nya tersenyum mendengar omongan anak dan menantu nya yang harmonis itu.


*


*


Terlihat dokter Rendra yang masih bersimpuh di hadapan bu Malika.


"Jadi bagaimana Ka? Mau kah kamu menjalin rumah tangga dengan aku? maukah kamu menghabis kan sisa usia mu bersama ku? Maukah kamu menemani ku sampai aku menutup mata? Tanya dokter Rendra.


__ADS_1


Bu Malika pun melihat ke arah bu Carlota dan pak Hardian, dengan tatapan yang seperti sebuah pertanyaan.



Bu Carlota dan pak Hardian hanya tersenyum lalu menganggukan kepala nya tanda ia harus menerima dokter Rendra.



Bu Malika kembali menatap ke arah dokter Rendra, "Maaf kan aku, aku ngga bisa menjawab dan memutuskan nya" jawab bu Malika.



Mereka yang mendengar nya pun sedikit kecewa dengan jawaban yang di berikan oleh bu Malika, termasuk Ara dan Anggar.



Ara tahu kalau ibu nya juga menyayangi pria masa lalu nya ini, tapi Ara juga tidak tahu alasan ibu nya yang ngga bisa memutuskan nya.



"Mah hansfree nya lepaskan saja, nanti aku mau bicara sama ibu kalau sudah tahu alasan ibu tidak bisa memutuskan nya" ucap Ara dari seberang telepon.



Bu Carlota pun langsung melepas dan meng loud speaker ponsel nya.



"Apa rasa sayang di hati kamu sudah hilang sama aku? Apa rasa cinta sudah kamu buang dari hati kamu? Tanya dokter Rendra dengan wajah sendu ya.



"Rasa sayang dan cinta ku sama kamu masih ada dan ngga akan pernah hilang sampai kapan pun, tapi aku mempunyai seorang anak, jadi aku ngga bisa memutuskan begitu saja, aku hanya menunggu izin dan restu dari dia, kalau dia ngga mengizinkan dan ngga merestui nya, aku minta maaf, mungkin rasa sayang dan cinta kita memang tidak akan pernah bersatu sampai kapan pun." jawab bu Malika.



"Tapi aku akan berusaha meyakinkan anak kamu Ka? Asal kamu memberikan jawaban nya sekarang" bujuk dokter Rendra.



"Maaf Ren, jujur aku masih sayang sama kamu, tapi aku tetap harus ada izin dan restu dari anakku" ucap bu Malika.



"Ibu, apa maksud ibu dengan semua ini" teriakan Ara terdengar oleh bu Malika karena volume ponsel nya sudah bu Carlota naikan.



"Ara? kamu melihat semua nya nak? Tanya bu Malika sambil melihat kearah bu Carlota.



Bu Carlota pun memberikan ponsel nya kepada bu Malika, supaya ibu dan anak itu berbicara dengan leluasa.



"Nak, maaf kan ibu, bukan maksud ibu untuk melupakan ayah kamu tapi," jawqab bu Malika yang belum selesai karemna Ara telah memotong nya.



"Tapi apa bu, ibu mau terus-terusan hidup sendiri, apa ibu mau seumur hidup dalam keadaan tertekan oleh rasa sayang ibu kepada pria masa lalu ibu itu? Aku sebagai anak merasa bersalah jika menghalangi ibunya untuk meraih dan menuju kebahagia an nya" jawaban Ara membuat bu Malika dan dokter Rendra sangat kaget.

__ADS_1


__ADS_2